BANGSA BARBAR

Posted: Desember 6, 2010 in Sosiologi Masyarakat Timur Tengah

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

AHMAD BADRUS SHOLIHIN, ANDI WAHYU WIRATAMA, AHMAD AGUS SALIM, AHMAD MUSTAQIM, AHMAD MANTIQ ALIMUDDIN

1.  Pendahuluan

Setiap kali mendengar kata “Barbar”, yang terlintas di benak kita adalah sekumpulan orang atau suku yang hidup secara primitif dan belum mengenal peradaban. Sebagai kata sifat, “barbar” identik dengan kekerasan, sadisme, kekejaman, kebodohan, pelanggaran terhadap norma, keterbelakangan, dan segala tindakan negatif yang bisa dilakukan oleh manusia. Stereotipe semacam itu hampir secara permanen telah menutupi realitas sebenarnya yang berada di balik nama Barbar. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa Tariq bin Ziyad, salah satu prajurit paling legendaris dalam sejarah Islam adalah seorang Barbar. Dia yang memimpin pasukan Islam saat menaklukkan Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 Masehi dan namanya hingga kini diabadikan sebagai nama sebuah selat yang memisahkan Afrika Utara dengan Eropa, Giblartar (Jabal Thariq). Mungkin kita juga tidak pernah tahu bahwa Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim terkemuka yang dicatat oleh sejarah sebagai pengembara terbesar pra-modern, adalah orang Barbar tulen. Bahkan, Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa, adalah orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang apa itu “Barbar” sangatlah dibutuhkan bagi para pengkaji sejarah Islam, terutama yang menekuni kajian Timur Tengah. Dengan pemahaman ini, diharapkan spektrum pemikiran kita akan lebih luas dan tidak hanya fokus kepada Arabisme saja.

2. Definisi Barbar

Secara etimologi, para sejarawan mencatat bahwa kata “Barbar” (Berber) baru dikenal pada masa akhir Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, relevansi penggunaan kata ini untuk periode-periode sebelumnya tidak diterima oleh para sejarawan purbakala. Untuk memahami arti kata ini, biasanya dipakai istilah “Amazigh” (jamak: Imazighen) yang merupakan nama yang sering dipakai oleh orang-orang Barbar untuk menyebut diri mereka sendiri. Di dalam catatan Leo Africanus, “Amazigh” berarti “orang bebas” (free man). Namun, di dalam bahasa Barbar modern ternyata tidak ditemukan akar kata M-Z-Gh yang berarti “bebas”. Mungkin yang lebih tepat adalah kata “Amajegh” dalam dialeg suku Tuareg yang berarti “orang mulia” atau “bangsawan” (noble man).

Secara umum, para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil. Mereka tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.

3. Ras, Bahasa, dan Agama Orang Barbar

Barbar termasuk dalam rumpun Kaukasoid. Secara fisik, orang Barbar menyerupai sub-ras Mediterania atau Kaukasoid-Eropa Selatan. Namun, berbeda dengan orang kulit putih Eropa Selatan, orang Barbar memiliki tubuh lebih tinggi serta rambut, jenggot dan alis yang lebih pirang. Ibnu Khaldun menggambarkan karakter orang Barbar sebagai manusia pemberani, kuat, hebat, dan memiliki solidaritas tinggi. Ibnu Khaldun menambahkan bahwa orang Barbar benar-benar manusia sejati yang sederajat dengan orang Arab, Persia, Yunani, dan Romawi.

Bahasa asli orang Barbar yang dikenal sebagai bahasa Tamazigh diduga merupakan cabang dari bahasa Afro-Asiatic yang merupakan kelanjutan dari bahasa Proto-Afro-Asiatic. Sebagian ahli berpendapat bahwa bahasa Barbar termasuk dalam rumpun bahasa Hamitic. Namun, sebagian besar ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Barbar lebih mirip dengan bahasa Semitic dan Chadic. Pengguna bahasa Tamazigh hingga saat ini diperkirakan antara 30-40 juta orang. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang Barbar memilih bahasa Arab sebagai bahasa utamanya. Sehingga, pengguna bahasa Barbar yang benar-benar masih murni hanya bisa ditemukan di daerah pedalaman, pegunungan, dan gurun pasir.

Bahasa Barbar sendiri memiliki beberapa dialek yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kelompok etnik yang tersebar di beberapa wilayah Afrika Utara, yaitu antara lain:

Sebelum mengenal Islam, orang Barbar berturut-turut memeluk agama Pagan kuno, Politheisme Yunani dan Romawi, serta Yahudi dan Nasrani. Saat ini, mayoritas orang Barbar beragama Islam Sunni. Namun, suku Mozabite beraliran Ibadite. Sampai tahun 1960-an masih ada beberapa klan Barbar di Maroko yang memeluk agama Yahudi. Namun, sejak terjadinya imigrasi besar-besaran ke Israel dan negara-negara Eropa dan Amerika, jumlah mereka saat ini bisa dihitung dengan jari. Sedangkan yang memeluk agama Katholik dan Protestan adalah sebagian klan Kabyle di Aljazair.

4. Perkembangan Masyarakat Barbar

Para sejarawan meyakini bahwa nenek moyang orang Barbar sudah menempati kawasan Afrika Utara sepanjang pantai Mediterania sejak zaman Paleolitikum. Namun, bukti eksistensinya baru bisa dilacak sejak 4000 SM, di mana mereka sudah mulai bercocok tanam dan beternak dan menjalin hubungan dagang dengan Mesir. Pada 2000 SM, peradaban mereka sudah mengenal logam (metal) yang didatangkan dari Mesir. Namun, sejak invansi yang dilakukan oleh Bangsa Funisia dan Yunani (814–146 SM), Romawi (146 SM–439 M), Vandals (439–534 M), dan Byzantium atau Romawi Timur (534–647 M), peradaban Barbar bergeser ke arah Selatan, yaitu di sekitar pegunungan Atlas dan gurun Sahara. Akibatnya, suku-suku Negro Sub-Sahara yang tempat tinggalnya direbut oleh orang Barbar terusir ke wilayah selatan Sungai Niger. Sebenarnya, masa inilah yang sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan budaya dan tradisi asli orang Barbar.

Pada masa ini, Bangsa Barbar menyusun pemerintahan sendiri yang tergabung dalam sebuah perserikatan yang oleh orang Romawi disebut Numidia. Pada perkembangan selanjutnya, Numidia menjadi salah satu provinsi otonom dari Kekaisaran Romawi. Dinasti penguasa Numidia membawahi beberapa klan yang diberi otoritas untuk memerintah di wilayahnya masing-masing. Setiap klan diatur secara mandiri oleh sebuah dewan yang terdiri dari keluarga yang berbeda, dengan satu anggota dari setiap keluarga duduk di dewan penasihat. Although a Berber tribe was close-knit within it, separate tribes did not cooperate easily with each other. Meskipun suku Barbar mempunyai tradisi kesukuan yang sangat kuat, namun mereka tidak mudah bekerjasama satu sama lain. Thus, wars occurred.Maka tidak mengherankan apabila sering terjadi perang antar suku. Ibnu Khaldun mencatat urut-urutan dinasti yang pernah berkuasa di Numidia, yaitu: Zirid, Banu Ifran, Maghrawa, Almoravid, Hammadid, Almohad, Merinid, Abdalwadid, Wattasid , Meknassa dan Hafsid.

Perubahan besar dimulai sejak abad ke-7 masehi, yaitu sejak kedatangan Agama Islam yang dibawa oleh orang Arab. Terjadilah proses Islamisasi dan Arabisasi yang diawali dengan pendirian kota Qayrawan oleh Uqbah bin Nafi’, Gubernur Mesir pada masa Bani Umayyah, sekitar tahun 670 M. Akar Islamisasi semakin kuat di masa pemerintahan Abul Muhajir Dinar yang berhasil mengajak pemimpin konfederasi Kristen Barbar yang bernama Kusaila masuk Islam. Namun, proses Islamisasi yang awalnya cukup lempang itu tidak berbanding lurus dengan stabilitas politik. Para pimpinan klan-klan Barbar tercatat beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap penguasa Umayyah. Meskipun tidak dapat dibantah bahwa Bangsa Barbar memiliki jasa besar terhadap penaklukan dan Islamisasi Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Hal ini disebabkan oleh diskriminasi rasial dalam kebijakan-kebijakan politik yang menempatkan orang Barbar sebagai masyarakat kelas dua di bawah orang Arab. Puncaknya adalah revolusi Barbar yang dipimpin oleh kalangan Khawarij (Kharijite). Keberhasilan gerakan Khawarij ini pada gilirannya melahirkan beberapa kerajaan teokratis kecil yang senantiasa mengganggu stabilitas kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia dan Afrika Utara. Gejolak berkepanjangan ini baru bisa dihentikan pada abad ke-11, ketika Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir memerintahkan klan Banu Hilal untuk mengusir Dinasti Barbar Zirid dari daerah pemukiman utama orang Barbar. Sejak masa inilah proses Islamisasi dan Arabisasi orang Barbar berjalan mulus tanpa hambatan.

Kolonialisme Barat di Afrika Utara menyebabkan Bangsa Barbar semakin termarjinalkan. Maka, sejarah mencatat betapa orang Barbar begitu gigih berjuang melawan kolonialisme itu. Setelah perang Dunia II berakhir dan negara-negara kebangsaan (nation states) yang baru merdeka terbentuk, bangsa Barbar justru terpolarisasi ke dalam wilayah geografis masing-masing negara. Di saat yang sama, Negara-negara itu (selain Libya) menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa nasional. Hal ini berdampak positif, khususnya bagi kebangkitan kembali tradisi asli dan bahasa Barbar. Sebab selama masa kolonial, tradisi dan bahasa Barbar tidak memiliki ruang untuk berkembang. Dengan ditetapkannya bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan Islam sebagai ideologi Negara, dengan sendirinya para penguasa dan pemegang kebijakan Negara-negara baru itu merasa perlu untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi suku-suku Barbar (yang jumlahnya besar) untuk mengembangkan diri dan meraih kemajuan.

Saat ini, di beberapa negara Afrika Utara suku-suku Barbar memiliki kesempatan dan kedudukan yang setara dengan etnis Arab. Di Aljazair, konstitusi Negara menetapkan identitas nasionalnya dengan nama “Negara Arab dan Barbar Muslim” dan bahasa Barbar menjadi bahasa nasional kedua setelah bahasa Arab. Di Maroko, bahasa Barbar menjadi salah satu bahasa wajib diajarkan (compulsory language) tanpa memperhatikan wilayah dan kesukuan.

Selain itu, beberapa figur Barbar bahkan berhasil mencapai posisi yang tinggi dalam hirarki sosial. Contoh yang paling sahih adalah mantan presiden Aljazair, Liamine Zeroual, dan mantan perdana menteri Maroko, Driss Jettou. Bahkan, di Aljazair, suku Barbar Chenoui mendominasi angkatan bersenjata. Namun sebaliknya dari para kaum laki-laki, sampai sejauh ini masih jarang wanita Barbar berhasil mencapai posisi yang tinggi. Tercatat hanya Khalida Toumi, seorang feminis dan aktivis Barbar militan, yang berhasil menjadi menteri komunikasi di pemerintahan Aljazair. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya sistem patriarki di sebagian besar negara Timur Tengah.

Satu hal yang juga patut diperhatikan adalah stereotipe orang Barbar sebagai bangsa pengembara (nomads). G.P. Murdock mencatat bahwa sejak 2000 SM, mata pencarian orang Barbar sudah beraneka ragam. Sebagian memang menjalankan gaya hidup nomaden, yaitu berburu dan meramu. Tapi sebagian yang lain sudah banyak yang bertani, beternak, dan berdagang. Di masa sekarang, orang Barbar sudah sedemikian rupa terlibat dalam hampir semua sektor ekonomi dan sosial. Bahkan, yang tetap bertahan dengan gaya hidup nomaden praktis hanya tiga sub-etnik saja, yaitu Tuareg, Zenaga, dan Chaoui.

Fenomena yang juga tak kalah menarik adalah diaspora orang Barbar ke beberapa negara maju di Eropa dan Amerika. Negara Eropa yang banyak menjadi tujuah “hijrah” orang Barbar adalah Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, dan Inggris. Sedangkan di Amerika, sebagian besar orang Barbar pindah kewarganegaraan menjadi warga Amerika Serikat dan Kanada. Tak sedikit di antara para imigran ini yang kemudian sukses di tanah air barunya. Contoh yang paling terkenal adalah Zinedine Zidane, pemain sepakbola yang membawa Prancis menjadi juara dunia dan Eropa. Zidane adalah keturunan suku Barbar Kabyle Aljazair.

5. Penutup

Tulisan singkat ini hanyalah pengantar awal untuk mengenal apa itu orang barbar. Untuk memperdalam dan mempelajari berbagai aspek yang lebih luas dari kehidupan orang Barbar diperlukan riset yang lebih serius dengan sarana yang memadai. Perlu disebutkan di sini bahwa kendala utama yang dihadapi oleh kami adalah sangat minimnya buku dan referensi lain seputar Berber People yang bisa kami akses. Beberapa buku pokok yang kami perlukan tidak bisa kami temukan di perpustakaan dan belum ada format e-book yang bisa kami akses lewat internet.

Namun demikian, melalui penelusuran kami yang serba terbatas ini kami bisa menyimpulkan beberapa hal yang kami pandang penting untuk meluruskan kesalahpahaman kami selama ini soal orang Barbar. Pertama, Barbar bukanlah manusia kelas kedua. Mereka adalah manusia sejati dan bermartabat sama dengan manusia dari belahan bumi yang lain. Kedua, penamaan dan konstruk yang melahirkan stereotipe yang salah tentang “Barbarianism” yang selama ini kita kenal mengindikasikan adanya bias kolonialisme yang sangat kental. Untuk itu, diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut seputar hal ini. Ketiga, sebagai sebuah rumpun atau suku bangsa, Barbar memiliki karakteristik, keistimewaan dan kelemahan yang bisa kita telusuri dari perkembangan masyarakatnya yang merentang selama berabad-abad. Kemudian kita bisa mengkomparasikannya dengan etnis atau suku bangsa Timur Tengah yang lain, yang merupakan salah satu objek kajian mata kuliah ini. Dengan itu, kita bisa berharap memiliki gambaran yang utuh tentang sosiologi masyarakat Timur Tengah.

6. Referensi

Murdock, George Peter, Africa: Its Peoples and Their Culture History, New York: McGraw-Hill Book Company, 1959

Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1990

Atiyah, Edward, The Arabs, Baltimore: Penguin Book, 1955

http://en.wikipedia.org/wiki/Berber­_People

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s