MENGENAL YAHUDI DARI DEKAT

Posted: Desember 6, 2010 in Sosiologi Masyarakat Timur Tengah

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:
HARDA ARMAYANTO, LUTHFI MUHYIDDIN, HANIF FATHONI, M. LUQMANUL HAKIM, DAN EVA LINTA CAHYANI
A. Pendahuluan

Berbicara mengenai Yahudi tidak ada habisnya. Ini dikarenakan panjangnya sejarah bangsa tersebut yang meliputi periode awal Yahudi, masa pembuangan, hingga pendirian negara Israel dan juga sejarah Yahudi abad sekarang (abad ke-21)[1]. Sejarah awal kemunculan bangsa ini hingga sekarang memang mendapat respon pro dan kontra untuk diperdebatkan. Apa yang terjadi di dalam sejarah Yahudi akan melekat dan bersinggungan dengan 2 agama besar lainnya, yakni Kristen dan Islam. Di mana ketiga agama ini sama-sama mengklaim dari satu rahim Nabi Allah, yakni Ibrahim. Namun di antara ketiganya, Yahudi terkesan lebih “angkuh” dalam bersikap dan keyakinan. Doktrin “umat terpilih (choosen people)” dan “tanah yang dijanjikan (the promised land)” dalam kitab suci mereka, membuat bangsa Yahudi seolah menutup mata dan merendahkan umat bangsa dan agama lain.[2] Akhirnya, sejarah sampai saat ini mencatat perilaku mereka yang menindas bangsa lain.

Polemik dan sejarah panjang yang terjadi pada bangsa ini menarik untuk lebih mengenal tentang siapa itu bangsa Yahudi, ciri-cirinya, kelebihan dan kekurangan bangsa ini, serta tempat tinggal geografis mereka.

B. Definisi

Yahudi dikenal sepanjang sejarah dengan lebih satu nama.Disebabkan banyaknya nama tersebut, maka sering terjadi kekeliruandalam memahaminya. Padahal nama-nama tersebut memiliki makna tersendiri yang bersifat khusus dan pada waktu yang sama mengisyaratkan kepada fase sejarah tertentu dalam sejarah Yahudi. Setidaknya terdapat tiga istilah yang sering melekat pada bangsa Yahudi, yakni ‘Ibri, Israel, dan Yahudi.

1. ‘Ibri atau ‘Ibrani

Kata ‘Ibri adalah bentuk tunggal, bentuk jamaknya ‘Ibriyyun. Disebut juga dengan ‘Ibrani atau ‘Ibraniyyun yang dinisbahkan kepada nabi Ibrahim a.s.[3]Karena dalam Taurat Ibrahim disebut Abram al-‘Ibraniy (Abram orang Ibrani).[4] Sebagian ahli berpendapat Ibrahim disebut ‘Ibri dikarenakan ia telah menyeberangi sungai. Dan sungai yang dimaksud adalah sungai Furat (Eufrat), namun ada yang memperkirakan sungai tersebut adalah sungai Yordan.[5] Di samping itu, kata ‘Ibri juga mengandung makna lain, yakni keterasingan atau orang asing.[6]

Namun semua ini, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syalabi, ditentang oleh Dr. Israil Walingson. Dia berpendapat bahwa kata ‘Ibritidak merujuk pada suatu kejadian (peristiwa) maupun pada nama seseorang. Melainkan kata ‘Ibri merupakan nama daerah asal bagi Bani Israil. Adapun Bani Israil dulunya merupakan suku pedalaman yang tinggal di padang pasir. Mereka merupakan bangsa nomaden yang tidak memiliki tempat tinggal khusus. Mereka kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari air dan tempat menggembala ternak. Kata ‘Ibri sendiri berasal dari akar kata “’abara” (عَبَرَ), yang berarti memotong jalan, oase, atau sungai. Atau juga berarti menempuh jalan. Dan istimewanya, makna kata ‘Ibri sama-sama terdapat dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Artinya, secara global makna kata ini adalah berpindah-pindah. Di mana berpindah-pindah merupakan ciri khusus yang dimiliki penduduk padang pasir (sukkan al-shokhro’) dan penduduk pedalaman (ahl al-badiyah). Maka kata ‘Ibri bisa juga berartibadawi (penduduk padang pasir atau pedalaman). Sehingga konon bangsa Kan’an, Mesir dan Palestina menyebut Bani Israil dengan sebutan ‘‘Ibriyyun, yakni bangsa yang tinggal di padang pasir atau pedalaman. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakan Bani Israil dari penduduk kota. Kemudian setelah mereka menempati tanah Kan’an, mereka hidup maju dan menetap di sana. Celakanya, mereka lupa akan jati diri mereka pertama kali sebagai ‘‘Ibriyyun atau penduduk padang pasir. Mereka tidak mau disebut ‘Ibri lagi dan memilih untuk menggunakan sebutan Bani Israil.[7]

2. Israel

Nama Israel menunjukkan kelebihan kepada bangsa Yahudi dari bangsa-bangsa lain. Israel merupakan kalimat yang terdiri dari dua kata:isra, yang artinya hamba atau teman dekat, dan el, yang artinya tuhan. Maka Israel artinya hamba atau teman dekat Tuhan atau hamba pilihan tuhan.[8] Nama Israel ini diberikan khusus oleh Tuhan kepada Ya’kub a.s. Ini dikarenakan Ya’kub berhasil mengalahkan Tuhan dan manusia.[9]

Memang kata Israel dinisbahkan kepada Ya’kub a.s. Namun, sesuai yang dikabarkan al-Quran tidak ada sebab khusus penisbahan tersebut.[10] Artinya, menurut al-Qur’an tidak benar kalau Ya’kub a.s telah berkelahi dengan Tuhan dan mengalahkan-Nya. Bahkan para pakar sejarah agama menyebut kisah kalahnya Tuhan di tangan Ya’kubini adalah Myth of Origin atau Actiological Myth.[11]

Menurut Khalifah Hasan sebutan Israel ini sejatinya memisahkan antara keturunan nabi Ishaq a.s dengan keturunan nabi Ismail a.s. Artinya, tujuan dari kisah Taurat di atas hanyalah rasis semata. Yakni, pengkhususan mereka sebagai keturunan Ya’kub a.s dan menyebutkan mereka sebagai orang-orang Israel untuk merendahkan keturunan Ismail a.s.[12]

3. Yahudi

Pakar Ilmu Perbandingan Agama, al-Syahrastani mengatakan bahwa Yahudi adalah umat Nabi Musa dan memiliki kitab suci yang bernama Taurat.[13]Nama Yahudi sendiri diambil dari Yahudza, salah satu keturunan Ya’kub a.s.

Sebenarnya, istilah Yahudi lebih luas maknanya daripada istilah Bani Israel dan  ‘Ibrani. Hal ini karena istilah Yahudi disematkan kepada kaum Ibrani, juga disematkan kepada orang-orang non-Ibrani yang memeluk agama Yahudi.[14] Jadi seseorang yang masuk Yahudi akan tetapi bukan berasal dari bani Israel, maka ia boleh disebut sebagai Yahudi dan tidak boleh disebut bani Israel. Namun sekarang, pengertian makna Yahudi berkembang. Istilah ini bisa bermakna sebuah agama dan bisa juga bermakna sebagai bangsa.[15]

3.a. Yahudi Sebagai Agama

Sebagai agama Yahudi merupakan salah satu agama samawi.Yahudi adalah agama yang pertama kali muncul untuk mentauhidkan Allah SWT. Perlu dijelaskan bahwa Yahudi sebagai agama diturunkan oleh Tuhan tidak dalam keadaan sempurna. Artinya, syari’at dan ajarannya tunduk pada sejarah sehingga menyebabkannya mengalami perubahan yang kontinyu.[16]

Adapun faktor yang mempengaruhinya bisa dibagi menjadi dua.Pertama, agama Yahudi dalam sejarah pernah tunduk di bawah beberapa pemerintahan. Kedua, bangsa dan penganut Yahudi mengalami diaspora. Ini menyebabkan mereka tercerai-berai ke dalam beberapa kelompok komunitas yang hidup di negara-negara yang terpisah di bawah kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda-beda.[17] Sebagai contoh, dahulu umat Yahudi tidak memiliki tempat ibadah khusus untuk menyembah Tuhan mereka. Namun, mereka kemudian menjadikan Sinagog, yang awalnya hanyalah tempat kumpul-kumpul mereka sebagai bangsa yang tercerai, sebagai tempat ibadah khusus mereka.[18]

Kemudian akibat yang lain adalah munculnya beranekaragam sekte dalam Yahudi yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Sekte Samaria misalnya,  mereka berbeda dengan kaum Yahudi lain. Mereka hanya beriman kepada Taurat yang mereka namakan Taurat Musa. Mereka menolak Perjanjian Lama kecuali Kitab Yesaya, dan juga menolak Talmud.[19]

3.b. Yahudi Sebagai Bangsa

Sebagai bangsa, Yahudi merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim a.s yang beristrikan Sarah dan Hajar. Dari Hajar lahirlah Nabi Ishaq a.s., yang mempunya putra bernama Ya’qub yang bergelar Israil, sehingga anak-anak cucunya diberi gelar Bani Israil.[20]

Diantara keturunan Ya’qub a.s adalah Yusuf a.s, yang pernah menjabat sebagai menteri pertanian Mesir. Ketika musim Paceklik tiba nabi Ya’qub dan keluarga hijrah ke Mesir dan menetap dan berkembang disana. Di antara mereka terdapat ratusan ribu orang Yahudi yang rata-rata berotak cerdas akan tetapi berwatak kejam, arogan, kikir, dan mementingkan materi, dan berkeinginan mengusai bangsa lain sehingga mereka menjadi ancaman bagi masyarakat Mesir ketika itu dan masyarakat international saat ini. Mengetahui hal itu raja Ramses II yang bergelar Fir’aun menjadikan mereka budak. Sampai pada masa Nabi Musa, bani Israel diperintahkan untuk keluar dari Mesir untuk menyelematkan diri mereka dari penindasan Fir’aun.[21]

Setelah keluar dari Mesir mereka terkatung-katung di Padang pasir Sinai karena mereka tidak mematuhi perintah nabi Musa yang telah mendapatkan wahyu Taurat di bukit Thursina, bahkan sebaliknya mereka menyembah anak sapi. Dan mereka juga mengabaikan perintah Nabi Harun as untuk memasuki negeri Kan’an. Pada masa Nabi Daud mereka berhasil memasuki negeri Kan’an dan menguasai Yerussalem, namun mereka tidak dapat menguasai seluruh wilayah Kan’an (Palestina).[22]

Setelah wafatnya nabi Daud, pemerintahan dipegang oleh putranya Nabi Sulaiman a.s. Dan setelah itu kerajaan Yahudi terbagi menjadi dua, yaitu kerajaan Yudea yang beribu kota di Yerussalem dan kerajaan Israil yang beribu kota di Samaria. Kerajaan Israel berakhir pada tahun 722 SM, ditaklukkan oleh Sargon dari Assyria. Sedangkan kerajaan Yudea berakhir pada tahun 586 SM, ditaklukkan oleh Nebukhadnezar dari Babilonia.[23]

Dari ketiga definisi di atas jelaslah bahwa bangsa Yahudi awalnya merupakan orang-orang ‘Ibri, yakni suku pedalaman, tertinggal dan hidup berpindah-pindah. Setelah mereka hidup menetap dan taraf hidup mereka maju, mereka melupakan sebutan ‘Ibri itu dan lebih suka menggunakan sebutan Israel di mana di dalamnya terdapat muatan politis. Yakni, pengakuan mereka sebagai satu-satunya bangsa yang mulia. Kemudian sebutan mereka bermetafor menjadi Yahudi karena mereka memang anak keturunan Yahudza ibn Ya’kub a.s. Dalam perkembangan selanjutnya, Yahudi akhirnya menjadi nama sebuah agama dan juga bangsa.

C. Ciri-Ciri

Bangsa Yahudi merupakan keturunan dari ras Semit yang secara umum memiliki ciri-ciri fisik berambut pirang, bermata biru dan berhidung besar yang bengkok.[24] Namun beberapa ciri-ciri mereka bisa diidentifikasi sesuai kelompok-kelompok Yahudi yang ada di bumi. Adapun Yahudi secara garis besar terbagi menjadi 3 kelompok: Ashkenazi, Sefardim, dan Mizrahim.

Yahudi Ashkenazi  adalah orang-orang Yahudi Eropa, terutama dari Eropa Timur, bahasa yang mereka pakai biasanya adalah bahasa Yiddish. Zaman sekarang kaum Ashkenazim di Eropa sudah hampir punah, mereka banyak didapati di Amerika Serikat dan Israel. Kelompok ini dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi dengan tingkat skor IQ tertinggi di dunia.[25]

Yahudi Sefardim adalah kelompok Yahudi yang berasal dariJazirah Iberia. Sefardim adalah bentuk plural dari “Sefard”, yang berarti “Spanyol“. Kata ini digunakan untuk merujuk orang-orang Yahudi yang berasal dari Iberia (kini Portugal dan Spanyol), termasuk keturunan mereka yang diperintahkan meninggalkan Spanyol ketika penguasaKatolik Ferdinand dan Isabella merebut kembali dari tangan orang Islam yang membebaskan Spanyol pada 711 M.[26]

Yahudi Mizrahim artinya orang dari timur. Yang dimaksud orang dari timur adalah orang suku Yahudi yang pada zaman dahulu berevolusi/mutasi/tinggal di daerah bagian timur (seperti negara yang ada di timur tengah, afrika utara, Asia bagian tengah, India, dan bagian kecil di Asia Timur, yang masih mempunyai hubungan darah atau keturunan Yahudi sampai sekarang.

D. Keistimewaan Bangsa Yahudi

Setidaknya ada empat sifat atau watak  yang memungkinkan Yahudi menjadi bangsa yang kuat dan berpengaruh.[27] Pertamaadalahetnosentrisme, yakni sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri dan meremehkan kebudayaan yang lain. Pada kenyataannya masyarakat dan kebudayaan Yahudi cenderung pada kolektivisme, berbeda dengan Barat yang cenderungindividualisme dan masyarakat Timur yang cenderung klasifikasisme. Etnosentrisme telah menjadi watak setiap Yahudi, di manapun mereka berada pasti mengisolir diri mereka dari masyarakat lain sehingga mereka memiliki hubungan kokoh satu sama lain, satu kesatuan yang penting dalam melahirkan kelompok yang efektif dan aroganis.

Keistimewaan lain adalah Kecerdasan, mayoritas Yahudi adalah Yahudi Ashkenazi. Kelompok yang sangat cerdas, dengan rata-rata IQ diatas 115, dan IQ verbal lebih tinggi. Karena IQ verbal merupakan persyaratan terbaik dalam mencapai kesuksesan kerja dam mobilitas maju di dalam masyarakat sekarang, maka tak aneh bila Yahudi merupakan kelompok elit di AS.

Mengenai mengapa bangsa Yahudi itu pintar, Dr. Stephen Carr Leon telah melakukan penelitian mengapa ini bisa terjadi. Selama tiga tahun di Israel akhirnya dia berkesimpulan bahwa kecerdasan ini dimulai pembentukannya dari awal. Orang-orang Yahudi memiliki tingkat keseriusan dalam mendidik anak-anak mereka. Dari sejak mengandung sampai anak-anak tersebut besar, mereka tidak pernah melepaskan anak-anak mereka dari musik dan matematika. Dan yang unik mereka tidak diperbolehkan untuk merokok. Cara mereka makan dan apa yang dimakan juga diperhatikan. Sejak awal mengandung mereka suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu.Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.[28]

Keistimewaan selanjutnya adalah gigih secara psikologis. Orang Yahudi memiliki watak pantang menyerah, bila mereka menghadapi soal-soal yang berhubungan dengan kelompok mereka dan Negara Israel, mereka akan melakukan segala-galanya untuk mencapai tujuan dan keberhasilan.

Keempat adalah agresif. Orang Yahudi bertindak lebih agresif terhadap mereka yang hidup disekelilingnya, dan dianggap agresif karena kritikan mereka. Bahkan mereka melakukan demikian meskipun harus melanggar ajaran agama. Mereka dengan agresif merebut perekonomian suatu daerah yang mereka tempati. Agresifitas Yahudi membawa mereka menjadi penguasa media masa, imformasi dan ilmu-ilmu sosial yang memudahkan mereka untuk merusak orang-orang selain mereka dan memutar balikkan fakta yang ada. Tak aneh apabila orang Yahudi termasuk orang yang cepat berkembang dan maju dibanding dengan yang lain.

Keistimewaan-keistimewaan ini membuat bangsa Yahudi terus maju dan berkembang. Fakta membuktikan bahwa media  cetak di Amerika sudah mereka kuasai: The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post. Ketiga surat kabar ini merupakan induk media cetak yang ada di Amerika dan sebagian besar dunia, adapun Koran-koran yang lain sekedar menyalin dan meneruskannya keseluruh dunia.[29] Majalah Time yang sangat pupoler di telinga kita, dengan menyajikan berita-berita yang sangat konflit dan terpercaya, ternyata pemiliknya adalah seorang Yahudi.[30]

Selain media cetak, mereka juga terjun dalam media elektronika.Bagi mereka, media elektronik bisa menyebarkan misi dan ide-ide mereka sampai keseluruh pelosok dunia, juga bidang ini menghasilkan uang bagi mereka. Di antaranya adalah Walt Disney Company (dalam bidang hiburan), CNN, ABC, dan NBC (dalam bidang berita dan siaran televisi), MCA dan Universal Picture (dalam bidang perfilman).[31]

Cita-cita Yahudi dalam menguasai dunia tidak hanya dalam bidang ekonomi dan media massa, akan tetapi dalam bidang politik juga. Untuk menguasai politik international mereka menyebarkan politikus-politikus mereka di setiap departement pemerintahan Amerika Serikat. Jerry D. Gray dalam buku American  Shadow Governmrentmenyatakan bahwa pemerintahan Amerika sekarang sudah dikuasai oleh Yahudi dengan berbagai macam manuver politik yang mereka lakukan. Mereka mendirikan lembaga Lobi Politik AIPAC (Amerika Israel Public Affairs Commite) dan FEMA (Federal Amergency dan Management Agency). Yang mencengangkan kekuatan organisasi ini dapat menurunkan dan mengangkat presiden Amerika Serikat, menentukan keputusan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan Israel.[32]

E. Kekurangan Bangsa Yahudi

Kelebihan yang dimiliki bangsa Yahudi ternyata menutup mata mereka terhadap bangsa dan agama-agama lain. Mereka memiliki sikap arogansi yang tinggi sehingga sulit untuk berhubungan dengan orang-orang di luar mereka dan membuat mereka dibenci. Merekamenganggap non-Yahudi tidak sederajat dengan mereka, bahkan sampai menganggapnya sebagai ghoyyim.[33] Sebagaimana tertulis dalam Talmud dalam kitab Yehezkiel, 35:31: ”kalau demikian, kamu, Israel, dipanggil manusia, sedangkan ghoim tidak demikian halnya”. Dan juga dalam kitab Yebamoth 98a “semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”. Artinya, hanya bangsa Yahudi yang manusia dan non-mereka adalah binatang.[34]

Kalau disimpulkan, kekurangan bangsa Yahudi sebenarnya terpusat pada sikap dan perilaku mereka. Di antaranya:

1. Iri dan dengki.

Karakter dan kompetensi khas Yahudi adalah iri dan dengki. Allah swt berfirman:

“Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang Telah diturunkan Allah, Karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat muika sesudah (mendapat) kemurkaan dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”[35]

Menanggapi ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan bahwa bangsa Yahudi iri karena ada nabi yang diturunkan Allah di luar bangsa mereka, yakni bangsa Arab.[36]

2. Membunuh Para Nabi.

Kisah terbunuhnya nabi-nabi Allah di tangan bangsa Yahudi terekam jelas oleh sejarah. Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka beritakanlah mereka akan azab yang pedih.” (Q.s. Alu Imran: 21)[37]

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Abu ‘Ubaidah Ibn Jarah bahwa Rasulullah SAW  membaca ayat ini kepadanya tatkala beliau ditanya perihal manusia yang paling berat siksaannya di neraka. Kemudian Nabi SAW menerangkan bahwa Bani Israil telah membunuh 43 orang Nabi pada pagi hari dalam satu waktu. Kemudian datang kepada mereka para ahli ibadah di kalangan mereka sendiri yang berjumlah 112 orang menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta melarang mereka membunuh para Nabi. Namun mereka tidak mengindahkan perintah itu dan malah membunuh seluruh ahli ibadah tersebut.[38] Jadi pada hari itu mereka telah membunuh 155 hamba Allah yang salih yang menyeru kepada kebaikan.

Sepadan dengan ayat di atas adalah Q.s. al-Nisa’: 155:

“Maka (Kami hukum mereka), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar, dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.”

Kedua ayat di atas jelas menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku jahat kaum Yahudi. Mereka tega membunuh utusan Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh yang tidak sejalan dengan kehendak mereka.

3. Keras Kepala

Kekeraskepalaan bangsa Yahudi tercermin jelas di dalam al-Qur’an. Lihat Qs. al-Baqarah: 67-71 tentang perintah Allah kepada mereka untuk menyembelih sapi.

4. Rakus dan Tamak.

Yahudi adalah manusia yang sangat tamak. Sangat cinta kepada dunia sehingga mereka ingin hidup ribuan tahun lamanya,[39] Allah swt berfirman: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umurpanjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan“. (QS Al-Baqarah [2]: 96).

5. Suka Menyembunyikan Kebenaran

Karakter Yahudi selanjutnya yang dikabarkan oleh al-Qur’an adalah mereka suka menyembunyikan kebenaran. Menukar yang hak dengan yang bathil. Mengubah ayat-ayat Allah serta menju-alnya dengan harga yang murah, Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui“. (QS Al Baqarah [2]: 42)

5. Suka Berkhianat.

Bangsa Yahudi identik sebagai bangsa yang suka berkhianat.Dari jaman dahulu hingga sekarang, sejarah kerap mencatat penghianatan yang telah dilakukan mereka. Dulu, mereka pernah menghianati Nabi saw dan kaum muslimin mengenai Piagam Madinah di mana mereka bersekongkol dengan kaum Quraisy untuk memerangi nabi saw dan kaum muslimin di Madinah.

Mereka juga berkhianat kepada nabi Musa as dan Allah swt. Sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“. (QS. Al-Baqarah [2]: 83).

Tapi apa yang dilakukan Yahudi? Justru mereka menyembah anak sapi (’ijla). Saling mengusir, saling menawan, berperang dan saling membunuh di antara mereka, Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya “. (QS Al Baqarah [2]: 84).

Pengkhianatan Yahudi itu terjadi hingga hari ini. Pada tahun 1967, belum lewat sehari dari pernyataan dan janji Israel yang telah ditegaskan AS bahwa Israel tidak akan mendahului menyerang kawasan Arab. Tiba-tiba secara serentak tentara Israel menyerang berbagai Negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah. Mereka mencaplok berbagai kawasan Arab seperti gurun Sinai dan dataran tinggi Ghalan. Bahkan pada tanggal 14 Desember 1984, Sidang Umum PBB mengeluarkan surat keputusan bemomor: 146/39b yang menyebutkan bahwa file-file khusus tentang Israel serta praktek politik dan tindakan-tindakan Negara itu, menguatkan tuduhan bahwa Israel bukanlah Negara cinta damai. Israel bahkan terbukti sebagai Negara yang selalu mengingkari prinsip-prinsip kesepakatan Internasional atau perjanjian-perjanjian yang telah ia sepakati sendiri.

F. Tempat Tinggal Geografis

Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang terusir dari tanahnya. Setiap mereka menempati suatu wilayah pasti pengusiran akan terjadi terhadap mereka. Karena tidak memiliki tempat yang tetap, mereka terseber ke seluruh penjuru dunia sampai akhirnya terealisasi pendirian negara Israel Raya di tanah Pelestina tahun 1948. Semenjak itu, mayoritas bangsa Yahudi berdomisili di sana.

Ada sekitar 13-14 juta orang Yahudi diseluruh dunia. Daftar berikut ini adalah populasi yang mewakili perkiraan terendah dari populasi Yahudi seluruh dunia yang menempati sekitar 0,2 % dari seluruh populasi. [40]

 

Country or Region Jewish population Total Population % Jewish
Israel 5,393,000 7,117,000 75.8%
United States 5,275,000 301,469,000 1.7%
Europe 1,506,000 710,000,000 0.2%
France 490,000 64,102,000 0.8%
Canada 374,000 32,874,000 1.1%
United Kingdom 295,000 60,609,000 0.5%
Russia 225,000 142,400,000 0.2%
Argentina 184,000 39,922,000 0.5%
Germany 120,000 82,310,000 0.1%
Australia 104,000 20,788,000 0.5%
Poland 100,000 38,163,895 0.27%
Brazil 96,000 188,078,000 0.05%
Ukraine 77,000 46,481,000 0.2%
South Africa 72,000 47,432,000 0.2%
Hungary 49,000 10,053,000 0.5%
Mexico 40,000 108,700,000 0.04%
Asia (excl. Israel) 39,500 3,900,000,000 0.001%
Belgium 31,200 10,419,000 0.3%
Italy 28,600 58,884,000 0.05%
Turkey 17,800 72,600,000 0.02%
Iran 10,800 68,467,000 0.02%
Romania 10,100 21,500,000 0.05%
New Zealand 7,000 4,306,400 0.2%
Greece 5,500 11,100,000 0.05%
Cuba 1,500 11,450,000 0.013%
Total 13,156,500 6,455,078,000 0.2%

G. Penutup

Dengan karakteristiknya yang etnosentrik bangsa Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa yang superior dan di atas bangsa-bangsa lainnya. Ditambah anugrah kecerdasan yang mereka miliki, jadilah bangsa Yahudi menganggap non-mereka tidak ada apa-apanya. Sikap ini terbukti memotivasi mereka untuk terus maju dan berkembang, bahkan berambisi menguasai dunia. Namun, sadar atau tidak, sikap ini pula yang menjadi bumerang kebencian bangsa-bangsa lain di luar mereka.

Tercatat dalam sejarah bahwa Yahudi kerap diusir dari tanah yang mereka tempati. Mulai dari Kan’an, Babilonia, Mesir, sampai peristiwa Holocaust yang simpang siur validitasnya, semuanya menjadikan bangsa Yahudi sebagai obyek pembantaian dan pengusiran. Akibat pengusiran inilah bangsa Yahudi tersebar ke banyak penjuru dunia. Ketertindasan ini juga berdampak pada keyakinan dan syari’at agama mereka. Wallahu A’lam bi al-showab.

H. Referensi

1. Dari Buku

Al-Qur’an  al-Karim

Kitab Perjanjian Lama

Agha, Mahir Ahmad., Yahudi: Catatan Hitam Sejarah, dalam Yodi Indrayadi (Penj.), (Jakarta: Qirsi Press, 2005).

Ahmad., Muhammad Khalifah Hasan., Tarikh al-Diyanah al-Yahudiyah, (Kairo: Daar Qubba’, cet. I, 1998).

al-Suyuthi, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Jil. 3, (Kairo: Markaz li al-Buhuts wa al-Dirasah al-‘Arabiyah wa al-Islamiyah, cet I, 2003).

al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, cet. II, 2002).

al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an, jil. II, (Kairo: Hajr, cet. I, 2001).

Asy-Syarqawi, Muhammad Abdullah., Talmud: Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan, dalam  Alimin dkk, (Jakarta:Sahara Publisher, 2004).

Carr, William G., Yahudi Menggenggam Dunia, dalam Musthofa Maufur (Penj.), (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1991).

Farij, Ghozi Muhammad., An Nasyat al-Sirri al-Yahudi fi al-Fikri wa al-Mumarosah, (Bairut: Daar al-Nafs, 2003).

Gray, Jerry D., American Shadow Government, (Jakarta: Sinergi Publishing, 2005).

Hafidz, Ahmad Diyab Abdul., Menguak Tabir dan Konspirasi Yahudi, (Bandung: Pustaka Setia, 2005).

Katsir., Ibn., Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000).

Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, (Bandung: PT. Syammil Cipta Media, 2005).

Maulani, Z.A., Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, (Jakarta:Daset, 2002).

Sou’yub, Joesoef., Agama-agama besar di dunia, (Jakarta: al-Husna Dzikra, 1996).

Syalabi., Ahmad., al-Yahudiyah, (Kairo: Maktabah al-Nahdhoh al-Mishriyyah, cet. VIII, 1988).

2. Dari Situs dan Majalah

http://ibudbest.blog.friendster.com/2009/08/mengapa-kaum-yahudi-bijak-pandai/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ashkenazim

http://id.wikipedia.org/wiki/Sefardim

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Yahudi

http://justisianto.com/?p=53

http://www.mumi.org/etranger/en/st5.htm

http://www.wikipedia.com

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8208081500-ayat-ayat-hitam-talmud.htm

Majalah Gontor, Memahami Pengaruh Yahudi, edisi 05 Tahun IV,September 2006.

 

 


[2] Di antara dalil keistimewaan dan keterpilihan bangsa Yahudi tertulis dalam kitab Imamat 20:26: ”Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku”. Juga dalam kitab Ulangan 7:6:  “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” Mengenai dalil tentang tanah yang dijanjikan bahkan menurut kayakinan mereka tertulis di dalam al-Qur’an sendiri, yakni Qs. al-Maidah: 21:“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”

[3] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh al-Diyanah al-Yahudiyah, (Kairo: Daar Qubba’, cet. I, 1998), p. 22.

[4] Perjanjian Lama: Kitab Kejadian: 14:13.

[5] Ahmad Syalabi, al-Yahudiyah, (Kairo: Maktabah al-Nahdhoh al-Mishriyyah, cet. VIII, 1988), p. 46.

[6] Perjanjian Lama: Kitab Kejadian: 39: 14, 18, dan 14: 21, dan Kitab Keluaran 1: 19.

[7] Ahmad Syalabi, al-YahudiyahOp. Cit, p. 46.

[8] Ahmad Diyab Abdul Hafidz, Menguak Tabir dan Konspirasi Yahudi, (Bandung:Pustaka Setia, 2005), p. 14 .

[9] Lihat: Kitab Kejadian: 32: 24-42.

[10] Lihat: QS. Ali Imran: 93.

[11] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 24-25.

[12] Ibid, p. 25.

[13] al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, cet. II, 2002), p. 171.

[14] Mahir Ahmad Agha, Yahudi: Catatan Hitam Sejarah, dalam Yodi Indrayadi(Penj.), (Jakarta: Qirsi Press, 2005), p. 12.

[15] Khalifah Hasan memandang Yahudi memiliki pegertian yang bersifat umum dan khusus. Dalam pengertian umum Yahudi adalah nama yang diberikan kepada setiap orang yang meyakini agama Yahudi, mempercayainya, dan melaksanakan ritualnya. Yahudi adalah penisbatan kepada agama Yahudi sebagaimana Masihi adalah nisbat kepada agama al-Masih, muslim nisbat kepada agama Islam, dan seterusnya. Sedangkan pengertian khusus, Yahudi mengisyaratkan kecenderungan kepada aliran politik dan geografis tertentu. Yaitu, kerajaan Yahudza yang berada di selatan setelah kerajaan Sulaiman terpecah menjadi 2 kerajaan; Utara dan Selatan.

[16] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 189.

[17] Lihat: Ibid., p. 189-192.

[19] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 190.

[20] Muhammad Abdullah Asy-Syarqawi, Talmud, Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan, dalam  Alimin dkk, (Jakarta: Sahara Publisher, 2004), p .5.

[21] William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, dalam Musthofa Maufur (Penj.),(Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1991), p. 17.

[22] Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, (Bandung: PT. Syammil Cipta Media, 2005), p.3-4.

[23] Joesoef Sou’yub, Agama-agama besar di dunia, (Jakarta: al-Husna Dzikra, 1996), p. 281.

[27] Majalah Gontor, Memahami Pengaruh Yahudi, edisi 05 Tahun IV, September 2006, p. 14.

[29] Z.A. Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, (Jakarta: Daset, 2002),p.19.

[30] Jerry D. Gray, American Shadow Government, (Jakarta: Sinergi Publishing, 2005), p. 23.

[31] Ghozi Muhammad Farij, An Nasyat al-Sirri al-Yahudi fi al-Fikri wa al-Mumarosah, (Bairut: Daar al-Nafs, 2003), p. 133.

[32] Jerry D. Gray, American Shadow…, Ibid., p. 39.

[33] Ghoyyim adalah makhluk yang sederajat dengan binatang.

[36] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000), p. 488.

[37] Bandingkan dengan Q.s. Al-Nisa’: 5/155.

[38] Lihat: Al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an, jil. II, (Kairo: Hajr, cet. I, 2001), p. 291. Juga: al-Suyuthi, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Jil. 3, (Kairo: Markaz li al-Buhuts wa al-Dirasah al-‘Arabiyah wa al-Islamiyah, cet I, 2003), p. 492.

[39] Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, Op. Cit., p. 499.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s