Jakarta – Lebih dari sepekan demonstrasi antipemerintah Hosni Mubarak di Mesir berlangsung. Mubarak berjanji tidak akan maju dalam pemilihan presiden mendatang dan tidak akan mendukung keluarganya yang ikut pemilu. Tapi janji itu tidak cukup bagi rakyat Negeri Piramida. Mereka kukuh Mubarak harus angkat kaki.

Mubarak tetap bertahan dengan alasan tidak ingin terjadi kekacauan di Tanah Airnya. Namun lebih dari 300 orang tewas akibat bentrok yang menjadi buntut dari demonstrasi anti Mubarak. Kendati AS menyerukan transisi teroganisir di Bumi Paraoh itu, namun AS tidak tegas meminta Mubarak memenuhi tuntutan rakyat. AS terkesan ragu-ragu.

“AS saya lihat ragu-ragu. Barack Obama masih mencari kata-kata. Mesir di-back up oleh negara Barat. Kalau Mubarak mundur dan penggantinya adalah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, AS tidak mau,” ujar pengamat Timur Tengah dari UGM Siti Mutiah Setiawati.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar UGM yang pernah menempuh pendidikan di Universitas London, Inggris, ini pada Jumat (4/2/2011):

Unjuk rasa terjadi di sejumlah negara Timur Tengah. Mengapa demonstrasi Tunisia bisa melebar ke negara-negara lainnya?

Sebetulnya negara di Afrika bagian Utara sebagian besar merupakan republik. Mesir, Tunisia, Aljazair, Yaman merupakan Republik namun berakting seperti raja. Mereka umumnya berkuasa terlalu lama atau kendali pemerintahan kemudian diturunkan kepada anaknya. Yang seperti itu kan model kerajaan, dan itu rupanya tidak diinginkan oleh rakyat. Apalagi kemudian parlemen tidak berfungsi, check and balance tidak berfungsi. Meski Mesir tidak termasuk negara yang sekaya Arab Saudi namun dia punya universitas yang populer. Dalam ilmu politik, kerajaan merupakan sistem yang tradisional. Rakyat ini sudah pintar, mereka hidup di negara republik tetapi kok masih seperti kerajaan. Kalau bukan kerajaan, tentu kepala pemerintahannya harus diganti secara periodik. Lalu ada yang mengawasi yaitu parlemen. Nah ini tidak berfungsi. Di hampir semua negara di sana seperti itu.

Tapi sepertinya Libya relatif tenang padahal Muammar al Gaddafi berkuasa sejak 1969?

Di Libya memang relatif belum terjadi gejolak. Gadaffi itu orangnya sederhana. Beberda dengan Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia yang hidup bermewah-mewah, istrinya glamour padahal rakyatnya miskin. Sedangkan Gadaffi, dia hanyalah seorang kolonel yang tidak mau menjadi jenderal dan senang hidup berpindah-pindah dengan tendanya. Ini mendekatkan dia dengan rakyatnya. Kalau seperti di Mesir dan Tunisia, presidennya melanggengkan kekuasaan untuk keuntungan keluarga dan kroninya. Ini juga yang membuat rakyat tidak puas.

Terkait kasus di Mesir, menurut Anda mengapa Mubarak masih kukuh bertahan?

AS saya lihat ragu-ragu. Barack Obama masih mencari kata-kata. Mesir di-back up oleh negara Barat. Kalau Mubarak mundur dan penggantinya adalah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, AS tidak mau. AS dan negara Barat juga dilema. Di satu sisi mereka ingin demokrasi ala mereka diterapkan, tapi di sisi lain mereka juga tidak mau kalau Mubarak mundur dan penggantinya dari Ikhwanul Muslimin. AS meminta transisi yang teratur, tapi situasinya sudah seperti ini. Apalagi media Barat mengesankan bahwa Ikhwanul Muslimin itu membahayakan. Ini menjadi tidak fair. Sebenarnya apa salahnya kalau Ikhwanul Muslimin yang naik. Apakah kalau menghalangi kepentingan mereka lantas dihalang-halangi.

Jalan keluar seperti apa yang terbaik bagi Mesir?

Saya kira, kalau Ikhwanul Muslimin naik ya tidak usah dihalang-halangi, kalau memang itu keinginan rakyat Mesir. Dulu saat revolusi di Iran kan dikhawatirkan Iran otoriter, tapi buktinya kan tidak. Ketika Pahlevi (Syah Reza Pahlevi) mundur tidak ada gejolak seperti yang dikhawatirkan. Saat revolusi Islam Iran, Iran tenang. Hanya AS saja yang menggoyang. Iran tenang dan tenteram. Di negara demokrasi, kalau rakyat dipimpin oleh orang dari mayoritas ya tidak masalah kan. Kalau mayoritas Syiah dipimpin Syiah ya wajar. Selama 30 tahun Mubarak berkuasa tidak mencegah gerakan masyarakat pada umumnya. Ekonomi memang cukup baik tapi masyarakat tidak puas karena terlalu lama presidennya berkuasa hingga ingin menciptakan dinasti di pemerintahan. Kalau mau demokrasi diterapkan, Ikhwanul Muslimin yang siap. Diberitakan kalau Ikhwanul Muslimin tidak didukung masyarakat Mesir, tapi saya tidak melihat begitu. Banyak dukungannya. Memang mereka ini dilarang pemerintah karena dianggap pesaing dan membuat Barat khawatir karena kalau mereka yang berkuasa dikhawatirkan menerapkan Syariah Islam. Tapi apa salahnya? Toh 98 persen masyarakat di sana Muslim. Memang ada Koptik di Mesir, tapi bukan mayoritas. Kalau diterapkan syariah Islam apa lantas yang lain tidak boleh hidup di sana? Kan tidak seperti itu. Di Meksiko juga menerapkan aturan Kristen tidak apa-apa. Yang lain masih bisa tinggal di Meksiko. Ini sangat terlihat double standard-nya Barat. Mereka keberatan politik Islam berkuasa karena dianggap tidak sama dengan Barat. Double standard itu, meraka mengaku pluralis tapi ternyata tidak mau merima yang berbeda. Ini harus diubah mindsetnya agar tidak terus Barat. Demokrasi itu tidak harus selalu ala Barat.

Dengan Mubarak mundur dan pergi apakah akan menyelesaikan masalah di Mesir?

Di Mesir ini yang pro Mubarak juga kuat. Mereka yang diuntungkan selama 30 tahun pemerintahan Mubarak karena membangun legitimasi struktural. Kekacauan memang terjadi, karena sekarang ini pun kekacauan telah terjadi. Dalam masa transisi politik seperti itu bisa dimaklumi. Tapi ini tidak akan lama, sama seperti negara lain. Biarkan saja, kalau itu menghilangkan campur tangan asing. Barat harus menahan diri tidak melakukan campur tangan di Mesir. Ada chaos, gejolak, itu biasa. Tapi saya yakin tidak lama karena akan ada perubahan yang baik. Seperti Iran yang diramalkan bergolak, tapi nyatanya kan tidak. Ada peralihan dari kerajaan menjadi republik dengan mulus. Jadi Barat harus tahan diri untuk tidak ikut campur.

Kemungkinan terbentuk negara boneka lagi?

Sangat mungkin kalau Barat terlibat. Karena di Aljazair kan demikian. Ketika gerakan politik Islam menang tiba-tiba dianulir dan orang pro-Barat yang berkuasa. Lalu Tunisia juga demikian. Ketika Ben Ali pergi dan digantikan tokoh Islam, di media dikesankan tidak bagus, tidak terima sehingga yang berkuasa kecenderungannya kelompok pro Barat. Barat memang berpengaruh kuat karena teknologi yang mereka miliki. Apalagi sebagian besar negara Timur Tengah ada eksplorasi minyak bumi yang tergantung Barat.

Sebelum ada pemerintahan yang lebih permanen, perlu pemerintahan transisi?

Pemerintahan transisi itu yang paling sedikit risikonya. Wapres Omar Suleiman maupun Mohamed ElBaradei bukan tokoh kontroversial dan bisa diterima kedua kubu. Untuk transisi, minimal mereka bisa. Namun selanjutnya biarkan rakyat Mesir yang menentukan. Kalau Mubarak mundur dan digantikan oleh Suleiman yang sebenarnya pro-AS juga, tentu tidak ada perubahan politik yang berarti. Untuk menjalankan permintaan AS yaitu orderly transition, Suleiman dianggap baik karena pro Barat. Kalau ada perubahan kepemimpinan yang sangat berbeda dengan Mubarak, tentu akan berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Mesir itu sudah memiliki perjanjian damai dengan Israel untuk mengakui eksistensi Israel, juga punya kedutaan Israel, dan Israel tentunya menginginkan keadaan yang tetap seperti itu. Bagi Israel tentu tidak aman kalau pemimpin Mesir adalah orang yang memusuhi Israel. Jadi pasti Israel akan meminta AS agar Mesir dikuasai orang yang pro AS karena pasti akan pro Israel. Kalau Mesir dipimpin oleh orang yang tidak pro AS dan Israel tentu menjadi kabar gembira bagi Palestina. Karena dukungan kepada mereka akan bertambah.

Jika dipimpin oleh orang yang bukan pro AS, ada kemungkinan Terusan Suez akan ditutup sebagai posisi tawar mereka?

Terusan Suez pernah dinasionalisasi pada 1956 dan membuat marah Inggris, Israel dan Perancis. Dulu ada perjanjian dengan pengelolaan bersama-sama Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah ini. Israel punya Teluk Aqabah, kalau ditutup ya dampaknya besar juga buat Israel. Senjata itu tidak selalu bedil. Untuk melawan musuh kalau sudah buntu maka bisa digunakan Terusan Suez untuk melawan. Kalau terusan ini ditutup maka negara Eropa harus melingkari Afrika untuk menuju Asia. AS pun harus mengambil rute yang lebih jauh kalau masih menduduki Irak. Ini sangat strategis karena menjadi penghubung Eropa dan Asia. Jarak bisa diperpendek 8-10 kali. (vit/fay)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/04/182139/1560461/158/siti-mutiah-mubarak-masih-bertahan-di-mesir-karena-as-ragu-ragu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s