Arsip untuk ‘Sosiologi Masyarakat Timur Tengah’ Kategori

Jakarta - Lebih dari sepekan demonstrasi antipemerintah Hosni Mubarak di Mesir berlangsung. Mubarak berjanji tidak akan maju dalam pemilihan presiden mendatang dan tidak akan mendukung keluarganya yang ikut pemilu. Tapi janji itu tidak cukup bagi rakyat Negeri Piramida. Mereka kukuh Mubarak harus angkat kaki.

Mubarak tetap bertahan dengan alasan tidak ingin terjadi kekacauan di Tanah Airnya. Namun lebih dari 300 orang tewas akibat bentrok yang menjadi buntut dari demonstrasi anti Mubarak. Kendati AS menyerukan transisi teroganisir di Bumi Paraoh itu, namun AS tidak tegas meminta Mubarak memenuhi tuntutan rakyat. AS terkesan ragu-ragu.

“AS saya lihat ragu-ragu. Barack Obama masih mencari kata-kata. Mesir di-back up oleh negara Barat. Kalau Mubarak mundur dan penggantinya adalah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, AS tidak mau,” ujar pengamat Timur Tengah dari UGM Siti Mutiah Setiawati.

Berikut ini wawancara detikcom dengan staf pengajar UGM yang pernah menempuh pendidikan di Universitas London, Inggris, ini pada Jumat (4/2/2011):

Unjuk rasa terjadi di sejumlah negara Timur Tengah. Mengapa demonstrasi Tunisia bisa melebar ke negara-negara lainnya?

Sebetulnya negara di Afrika bagian Utara sebagian besar merupakan republik. Mesir, Tunisia, Aljazair, Yaman merupakan Republik namun berakting seperti raja. Mereka umumnya berkuasa terlalu lama atau kendali pemerintahan kemudian diturunkan kepada anaknya. Yang seperti itu kan model kerajaan, dan itu rupanya tidak diinginkan oleh rakyat. Apalagi kemudian parlemen tidak berfungsi, check and balance tidak berfungsi. Meski Mesir tidak termasuk negara yang sekaya Arab Saudi namun dia punya universitas yang populer. Dalam ilmu politik, kerajaan merupakan sistem yang tradisional. Rakyat ini sudah pintar, mereka hidup di negara republik tetapi kok masih seperti kerajaan. Kalau bukan kerajaan, tentu kepala pemerintahannya harus diganti secara periodik. Lalu ada yang mengawasi yaitu parlemen. Nah ini tidak berfungsi. Di hampir semua negara di sana seperti itu.

Tapi sepertinya Libya relatif tenang padahal Muammar al Gaddafi berkuasa sejak 1969?

Di Libya memang relatif belum terjadi gejolak. Gadaffi itu orangnya sederhana. Beberda dengan Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia yang hidup bermewah-mewah, istrinya glamour padahal rakyatnya miskin. Sedangkan Gadaffi, dia hanyalah seorang kolonel yang tidak mau menjadi jenderal dan senang hidup berpindah-pindah dengan tendanya. Ini mendekatkan dia dengan rakyatnya. Kalau seperti di Mesir dan Tunisia, presidennya melanggengkan kekuasaan untuk keuntungan keluarga dan kroninya. Ini juga yang membuat rakyat tidak puas.

Terkait kasus di Mesir, menurut Anda mengapa Mubarak masih kukuh bertahan?

AS saya lihat ragu-ragu. Barack Obama masih mencari kata-kata. Mesir di-back up oleh negara Barat. Kalau Mubarak mundur dan penggantinya adalah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, AS tidak mau. AS dan negara Barat juga dilema. Di satu sisi mereka ingin demokrasi ala mereka diterapkan, tapi di sisi lain mereka juga tidak mau kalau Mubarak mundur dan penggantinya dari Ikhwanul Muslimin. AS meminta transisi yang teratur, tapi situasinya sudah seperti ini. Apalagi media Barat mengesankan bahwa Ikhwanul Muslimin itu membahayakan. Ini menjadi tidak fair. Sebenarnya apa salahnya kalau Ikhwanul Muslimin yang naik. Apakah kalau menghalangi kepentingan mereka lantas dihalang-halangi.

Jalan keluar seperti apa yang terbaik bagi Mesir?

Saya kira, kalau Ikhwanul Muslimin naik ya tidak usah dihalang-halangi, kalau memang itu keinginan rakyat Mesir. Dulu saat revolusi di Iran kan dikhawatirkan Iran otoriter, tapi buktinya kan tidak. Ketika Pahlevi (Syah Reza Pahlevi) mundur tidak ada gejolak seperti yang dikhawatirkan. Saat revolusi Islam Iran, Iran tenang. Hanya AS saja yang menggoyang. Iran tenang dan tenteram. Di negara demokrasi, kalau rakyat dipimpin oleh orang dari mayoritas ya tidak masalah kan. Kalau mayoritas Syiah dipimpin Syiah ya wajar. Selama 30 tahun Mubarak berkuasa tidak mencegah gerakan masyarakat pada umumnya. Ekonomi memang cukup baik tapi masyarakat tidak puas karena terlalu lama presidennya berkuasa hingga ingin menciptakan dinasti di pemerintahan. Kalau mau demokrasi diterapkan, Ikhwanul Muslimin yang siap. Diberitakan kalau Ikhwanul Muslimin tidak didukung masyarakat Mesir, tapi saya tidak melihat begitu. Banyak dukungannya. Memang mereka ini dilarang pemerintah karena dianggap pesaing dan membuat Barat khawatir karena kalau mereka yang berkuasa dikhawatirkan menerapkan Syariah Islam. Tapi apa salahnya? Toh 98 persen masyarakat di sana Muslim. Memang ada Koptik di Mesir, tapi bukan mayoritas. Kalau diterapkan syariah Islam apa lantas yang lain tidak boleh hidup di sana? Kan tidak seperti itu. Di Meksiko juga menerapkan aturan Kristen tidak apa-apa. Yang lain masih bisa tinggal di Meksiko. Ini sangat terlihat double standard-nya Barat. Mereka keberatan politik Islam berkuasa karena dianggap tidak sama dengan Barat. Double standard itu, meraka mengaku pluralis tapi ternyata tidak mau merima yang berbeda. Ini harus diubah mindsetnya agar tidak terus Barat. Demokrasi itu tidak harus selalu ala Barat.

Dengan Mubarak mundur dan pergi apakah akan menyelesaikan masalah di Mesir?

Di Mesir ini yang pro Mubarak juga kuat. Mereka yang diuntungkan selama 30 tahun pemerintahan Mubarak karena membangun legitimasi struktural. Kekacauan memang terjadi, karena sekarang ini pun kekacauan telah terjadi. Dalam masa transisi politik seperti itu bisa dimaklumi. Tapi ini tidak akan lama, sama seperti negara lain. Biarkan saja, kalau itu menghilangkan campur tangan asing. Barat harus menahan diri tidak melakukan campur tangan di Mesir. Ada chaos, gejolak, itu biasa. Tapi saya yakin tidak lama karena akan ada perubahan yang baik. Seperti Iran yang diramalkan bergolak, tapi nyatanya kan tidak. Ada peralihan dari kerajaan menjadi republik dengan mulus. Jadi Barat harus tahan diri untuk tidak ikut campur.

Kemungkinan terbentuk negara boneka lagi?

Sangat mungkin kalau Barat terlibat. Karena di Aljazair kan demikian. Ketika gerakan politik Islam menang tiba-tiba dianulir dan orang pro-Barat yang berkuasa. Lalu Tunisia juga demikian. Ketika Ben Ali pergi dan digantikan tokoh Islam, di media dikesankan tidak bagus, tidak terima sehingga yang berkuasa kecenderungannya kelompok pro Barat. Barat memang berpengaruh kuat karena teknologi yang mereka miliki. Apalagi sebagian besar negara Timur Tengah ada eksplorasi minyak bumi yang tergantung Barat.

Sebelum ada pemerintahan yang lebih permanen, perlu pemerintahan transisi?

Pemerintahan transisi itu yang paling sedikit risikonya. Wapres Omar Suleiman maupun Mohamed ElBaradei bukan tokoh kontroversial dan bisa diterima kedua kubu. Untuk transisi, minimal mereka bisa. Namun selanjutnya biarkan rakyat Mesir yang menentukan. Kalau Mubarak mundur dan digantikan oleh Suleiman yang sebenarnya pro-AS juga, tentu tidak ada perubahan politik yang berarti. Untuk menjalankan permintaan AS yaitu orderly transition, Suleiman dianggap baik karena pro Barat. Kalau ada perubahan kepemimpinan yang sangat berbeda dengan Mubarak, tentu akan berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Mesir itu sudah memiliki perjanjian damai dengan Israel untuk mengakui eksistensi Israel, juga punya kedutaan Israel, dan Israel tentunya menginginkan keadaan yang tetap seperti itu. Bagi Israel tentu tidak aman kalau pemimpin Mesir adalah orang yang memusuhi Israel. Jadi pasti Israel akan meminta AS agar Mesir dikuasai orang yang pro AS karena pasti akan pro Israel. Kalau Mesir dipimpin oleh orang yang tidak pro AS dan Israel tentu menjadi kabar gembira bagi Palestina. Karena dukungan kepada mereka akan bertambah.

Jika dipimpin oleh orang yang bukan pro AS, ada kemungkinan Terusan Suez akan ditutup sebagai posisi tawar mereka?

Terusan Suez pernah dinasionalisasi pada 1956 dan membuat marah Inggris, Israel dan Perancis. Dulu ada perjanjian dengan pengelolaan bersama-sama Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah ini. Israel punya Teluk Aqabah, kalau ditutup ya dampaknya besar juga buat Israel. Senjata itu tidak selalu bedil. Untuk melawan musuh kalau sudah buntu maka bisa digunakan Terusan Suez untuk melawan. Kalau terusan ini ditutup maka negara Eropa harus melingkari Afrika untuk menuju Asia. AS pun harus mengambil rute yang lebih jauh kalau masih menduduki Irak. Ini sangat strategis karena menjadi penghubung Eropa dan Asia. Jarak bisa diperpendek 8-10 kali. (vit/fay)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/04/182139/1560461/158/siti-mutiah-mubarak-masih-bertahan-di-mesir-karena-as-ragu-ragu

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

SINGGIH KUSWARDONO, SRI DEWI NUR ATIQOH, RAHMADI WIBOWO S, RONI TABRONI, DAN TALQIS NURDIANTO

A. PENDAHULUAN

Masyarakat adalah sekelompok orang yang bermukim di suatu wilayah, yang hidup bersama dan mendukung nilai-nilai, dan cara berperilaku atau kebudayaan yang dimiliki bersama dalam kelompok itu. Timur Tengah adalah sebuah wilayah masyarakat yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Kadangkala disebutkan juga area tersebut meliputi wilayah dari Afrika Utara di sebelah barat sampai dengan Pakistan di sebelah timur dan Kaukasus dan/atau Asia Tengah di sebelah utara. Media dan beberapa organisasi internasional (seperti PBB) umumnya menganggap wilayah Timur Tengah adalah wilayah Asia Barat Daya (termasuk Siprus dan Iran) ditambah dengan Mesir.

Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi dan suku Turki. Bahasa utama yaitu: bahasa Persia, bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Assyria, bahasa Kurdi dan bahasa Turki.

Kebanyakan sastra barat mendefinisikan “Timur Tengah” sebagai negara-negara di Asia Barat Daya, dari Iran (Persia) ke Mesir. Mesir dengan semenanjung Sinainya yang berada di Asia umumnya dianggap sebagai bagian dari Timur Tengah, walaupun sebagian besar wilayah negara itu secara geografi berada di Afrika Utara.

Sejak pertengahan abad ke-20, Timur Tengah telah menjadi pusat terjadinya peristiwa-peristiwa dunia, dan menjadi wilayah yang sangat sensitif, baik dari segi kestrategisan lokasi, politik, ekonomi, kebudayaan dan keagamaan. Timur Tengah mempunyai cadangan minyak mentah dalam jumlah besar dan merupakan tempat kelahiran dan pusat spiritual agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Masyarakat Arab, Kurdi, Persia, Turki, Berber, dan Yahudi merupakan masyarakat yang memiliki keterkaitan historis yang erat. Keterkaitan historis dilatarbelakangi oleh muncul dan berkembangnya tiga agama besar tersebut yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Masyarakat Turki merupakan salah satu dari masyarakat Timur Tengah yang memiliki corak budaya yang berbeda dengan masyarakat Timur Tengah lainnya. Meskipun sebagian besar penduduknya muslim namun memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan masyarakat Arab yang membawa ajaran Islam ke wilayahnya. Salah satu keunikan masyarakat Turki adalah memiliki budaya kombinasi atau perpaduan budaya Eropa, Asia, dan Arab

B. ANALISIS MASALAH

Untuk mengenali secara lebih utuh salah satu masyarakat Timur Tengah yaitu masyarakat Turki maka perlu penjelasan mengenai ciri-ciri masyarakat tersebut.

1. Siapakah orang Turki ?

2. Dimanakah orang Turki tinggal ?

3. Apa ciri-ciri terkait dengan budaya masyarakat Turki ?

C. PEMBAHASAN

1. Orang Turki

Turki berasal dari bahasa Cina, Tu-kiu (Turk) yang pertama kali digunakan pada abad ke-6. Sejak zaman dahulu di sebelah barat gurun pasir Gobi (wilayah Tiongkok/ Cina) yaitu daerah yang disebut Khurasan dan sekitarnya ada suku yang bernama Turki. Mereka hidup secara nomaden. Bangsa Turki terbagi dalam berbagai suku, di antara suku yang terkenal adalah suku Ughuz dari kabilah al Gaz berasal dari keluarga Qabey. Suku ini terbagi menjadi 24 sub-suku yang kemudian hari lahir dari sub-suku ini Sultan pertama Dinasti Turki Usmani yaitu yang bernama Usman.

Bangsa Turki memeluk agama Islam mulai abad 9 dan 10 M. Mereka meninggalkan kampung halamannya karena mendapat tekanan dan serangan dari bangsa Mongol di bawah pimpinan Jhengis Khan yang saat itu telah menguasai wilayah Asia tengah dan Asia barat.

Pengembaraan bangsa ini dipimpin oleh Sulaiman sampai di tepi sungai Eufrat. Dalam perjalanan ke Asia kecil Sulaiman wafat kemudian rombongan dipimpin oleh salah satu putranya bernama Orthogul atau juga disebut Erthagral. Sesampainya di dekat negeri Angora (kini Ankara), mereka menjumpai pertempuran pasukan Bani Saljuk di bawah pimpinan Sultan Alauddin melawan pasukan Mongol. Rombongan Orthogul kemudian bergabung bersama pasukan Bani Saljuk melawan dan mengalahkan tentara Mongol. Dari kemenangan inilah rombongan pengembaraan Orthogul mendapatkan dari Sultan Alauddin hadiah berupa sebuah wilayah dekat Broessa atau juga disebut daerah Iski Shahr dan sekitarnya sebuah wilayah berbatasan dengan wilayah Bizantium yaitu daerah ditepi laut tengah (kini dikenal dengan sebutan Anatolia).

Saat ini bangsa Turki (bahasa Turki: Türk) didefinisikan sebagai penduduk Republik Turki. Pada catatan sejarah awal, definisi Bangsa Turki adalah “individu manapun di Republik Turki; apapun kepercayaannya atau latar belakang etnisnya; yang berbicara bahasa Turki, mengenal budaya Turki dan memiliki faham idealisme Turki, adalah seorang bangsa Turki.” Pemikiran ini berasal dari kepercayaan Mustafa Kemal Atatürk. Kini, istilah Bangsa Turki digunakan untuk penduduk Turki, dan juga penduduk berbahasa Turki di bekas wilayah Kesultanan Utsmaniyah dan komunitas Turki yang tersebar di Eropa, Amerika Utara dan Australia.

Anatolia (Yunani: ανατολή Anatolē atau Asia Kecil, “terbitnya matahari” atau “Timur”; perbandingan “Asia Timur” dan “Levant”, oleh etimologi umum bahasa Turki Anadolu dari ana “ibu” dan dolu “isi”, juga disebut dengan nama Latin Asia Minor, ialah sebuah kawasan di Asia Barat Daya yang kini dapat disamakan dengan Turki bagian Asia.

Karena letaknya yang strategis pada pertemuan Asia dan Eropa, Anatolia telah menjadi tempat lahir beberapa peradaban sejak abad prasejarah, dengan permukiman neolitik seperti Catalhöyük (neolitik barang tembikar), Cayönü (Neolitik Pra-Barang Tembikar A ke neolitik barang tembikar), Nevali Cori (Neolitik Pra-Barang Tembikar B), Hacilar (neolitik barang tembikar), Göbekli Tepe (Neolitik Pra-Barang Tembikar A) dan Mersin. Permukiman Troya bermula di masa Neolitiknamun berlanjut sampai abad besi.

Peradaban dan penduduk utama yang telah tinggal di atau menaklukkan Anatolia termasuk Hattia, Luwia, Hittit, Phrygia, Simeria, Lidia, Persia, Kelt, Tabal, Mesekh, Yunani, Pelasgia, Armenia, Romawi, Goth, Kurd, Bizantium, Turki Seljuk dan Turki Utsmani. Mereka semua termasuk dari banyak budaya etnis dan linguistik. Sepanjang sejarah yang terlacak, penduduk Anatolia telah bercakap Indo-Eropa dan Semit, seperti banyak bahasa dari pertalian tak pasti. Nyatanya, diberikan bahasa zaman purbakala Hittit Indo-Eropa dan Luwia, beberapa sarjana telah mengusulkan Anatolia sebagai pusat hipotesis dari yang bahasa Indo-Eropa telah menyebar. Penulis lainnya telah mengusulkan asal penduduk Anatolia dari bangsa Etruria dari Italia kuno.

Kini kebanyakan penduduk Anatolia merupakan penutur asli bahasa Turki, yang telah diperkenalkan penakluk Anatolia oleh orang Turki dan naiknya Kerajaan Ottoman abad ke-13. Bagaimanapun, Anatolia menyisakan multi-etnis sampai awal abad ke-20. Minoritas etnis dan linguistik Kurdi yang signifikan tetap ada di bagian selatan.

Bangsa Turki mulai bermigrasi ke daerah yang dinamakan Turki pada abad ke-11. Proses migrasi ini semakin dipercepat setelah kemenangan Seljuk melawan Kekaisaran Bizantium pada pertempuran Manzikert. Beberapa Beylik (Emirat Turki) dan Kesultanan Seljuk Rûm memerintah Anatolia sampai dengan invasi Kekaisaran Mongol. Mulai abad ke-13, beylik-beylik Ottoman menyatukan Anatolia dan membentuk kekaisaran yang daerahnya merambah kebanyakan Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara. Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh setelah kalah pada Perang Dunia I, sebagian wilayahnya diduduki oleh para Sekutu yang memenangi PD I. Mustafa Kemal Atatürk kemudian mengorganisasikan gerakan perlawanan melawan Sekutu. Pada tahun 1923, gerakan perlawanan ini berhasil mendirikan Republik Turki Modern dengan Atatürk menjabat sebagai presiden pertamanya.

Turki adalah sebuah republik konstitusional yang demokratis, sekuler, dan bersatu. Turki telah berangsur-angsur bergabung dengan Barat sementara di saat yang sama menjalin hubungan dengan dunia Timur. Negara ini merupakan salah satu anggota pendiri, Organisasi Konferensi Islam, OECD, dan OSCE, serta negara anggota Dewan Eropa sejak tahun 1949, dan NATO sejak tahun 1952. Sejak tahun 2005, Turki adalah satu-satunya negara Islam pertama yang berunding menyertai Uni Eropa, setelah merupakan anggota koalisi sejak tahun 1963. Turki juga merupakan anggota negara industri G20 yang mempertemukan 20 buah ekonomi yang terbesar di dunia. Ibu kota negara Turki adalah Ankara sedangkan kota terbesar di Turki adalah Istanbul.

2. Wilayah Turki

Bangsa Turki berdiam di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Turki berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah utara; Bulgaria di sebelah barat laut; Yunani dan Laut Aegea di sebelah barat; Georgia di timur laut; Armenia, Azerbaijan, dan Iran di sebelah timur; dan Irak dan Suriah di tenggara; dan Laut Mediterania di sebelah selatan. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental.

3. Budaya Masyarakat Turki

Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya Timur dan Barat yang unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua buah peradaban. Dengan adanya kawasan yang kuat dari Adriatik ke Tiongkok dalam jalur tanah di antara Rusia dan India, Turki telah memperoleh kepentingan strategis yang semakin tumbuh.

4. Bahasa Turki

Bahasa Turki pada mulanya berasal dari Asia Tengah dimana mereka yang disebut kelompok Oguz berpindah hingga ke jazirah Anatolia, Asia Kecil. Bahasa cabang Oguz ini lambat laun berubah. Kelompok Oguz ini menyebar mulai Anatolia hingga Selat Bosporus. Kelompok yang membawa bahasa ini adalah kelompok Seljuk pada abad ke-10. Semenjak Islam mulai dianut masyarakat Turki, bahasa Turki di wilayah Anatolia mulai menyerap berbagai kosakata dari bahasa Arab dan bahasa Persia. Bahasa Turki kemudian pada abad 15 mencapai puncak kejayaannya di masa Kalifah Usmaniyah. Di masa Usmaniyah ini, bahasa Turki ditulis dengan sejenis Huruf Arab. Akan tetapi, semenjak tahun 1928, Mustafa Kemal Atatürk, yang dikenal sebagai bapak Turki Sekuler berusaha membaratkan Turki dan mengganti semua ejaan bahasa Turki ke dalam abjad Latin.

Bahasa Turki merupakan anggota cabang dari Bahasa-bahasa Turki , yang meliputi bahasa Turki Gagauz dan bahasa Turki Khorasani. Tergolong subkelompok Turki Selatan, yang tergolong dalam kelompok bahasa Altai. Bahasa Turki dituturkan di Anatolia, Siprus, Balkan, Kaukasus, Eropa Tengah, Eropa Barat dengan penutur diperkirakan 70-100 juta. Bahasa Turki telah menjadi bahasa resmi Negara Turki, Siprus, Siprus Utara, Makedonia, Kosovo. Selain itu, juga diajarkan di sekolah-sekolah komunitas Turki di Bulgaria, Yunani, Makedonia dan Rumania.  Bahasa Turki juga disebut sebagai Osmanli.

Bahasa Turki terbagi atas beberapa dialek, seperti dialek Danubia yang dituturkan di wilayah Balkan, Gaziantep, Sanliurfa, Edirne, Razgrad, Dinler, Rumelia, Karamanli dan Eskisehir. Dimasa Kalifah Usmaniyah, bahasa Turki ditulis dengan sejenis Huruf Arab, namun sejak tahun 1928, bahasa Turki ditulis dalam Huruf Latin yang dimodifikasi.

Dahulu, di zaman kekhalifahan Turki Utsmani, bahasa Turki kaya dengan kosakata bahasa Arab yang jumlahnya 80%. Ketika berkuasa, Mustafa Kemal Atatürk mendirikan Lembaga Bahasa yang tugasnya ialah mengembangkan kosa kata Turki atau Altai bahasa Turki sebagai revitalisasi bahasa ini. Kini kosakata Arab tinggal 30% saja.

5. Budaya Turki

Budaya Turki menggabungkan sebagian besar unsur-unsur yang berasal dari tradisi Ottoman, Eropa, Timur Tengah dan Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam, Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Usmani dan pengaruh negara-negara Barat Modern. Hingga saat ini bangunan-bangunan bersejarah masa Bizantium masih banyak ditemukan di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki. Yang paling terkenal adalah Aya Soviaa, suatu gereja di masa Bizantium yang berubah fungsinya menjadi mesjid pada masa Khalifah Usmani dan sejak pemerintahan Mustafa Kemal hingga kini dijadikan musium.

Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam yang muncul di Jazirah Arab dan telah berkembang lama di wilayah Persia, berkembang di wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki dengan membawa peradaban dua bangsa tersebut. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan pengaruh yang kuat kedua peradaban tersebut ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Kondisi ini menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab. Suatu anggapan yang keliru yang selalu ingin diluruskan oleh bangsa Turki sejak tumbuhnya nasionalisme pada abad ke-19 di bawah kepemimpinan Kemal Atatruk. Setelah jatuhnya kerajaan setelah Republik Turki mengadaptasi sebuah pendekatan kesatuan, yang memaksa semua budaya yang berbeda dalam batas-batas untuk bergaul dengan satu sama lain dengan tujuan menghasilkan “Turki” dan budaya identitas nasional. Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Karena faktor sejarah yang berbeda mendefinisikan identitas Turki, budaya Turki menggabungkan upaya yang jelas untuk menjadi “modern” dan Barat , dengan keinginan untuk mempertahankan nilai-nilai agama dan sejarah tradisional. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki.

6. Musik

Musik Turki mencakup unsur-unsur musik rakyat Asia Tengah, Arab, musik klasik Persia, musik kuno Yunani-Romawi dan musik populer modern Eropa dan Amerika. Turki, kaya akan warisan musik, telah mengembangkan seni di dua daerah, musik klasik Turki (mirip dengan Yunani-Romawi) dan musik rakyat Turki (Serupa dengan Asia Tengah).

7. Sastra

Sastra Turki adalah kumpulan teks tertulis dan lisan disusun dalam bahasa Turki, baik melalui bentuk Ottoman atau bentuk sastra eksklusif, seperti yang terdapat dalam Republik Turki hari ini. Contoh tradisional untuk sastra rakyat Turki adalah cerita Karagöz dan Hacivat, Keloğlan, dan Nasreddin Hoca, serta karya-karya penyair rakyat seperti Yunus Emre dan Asik Veysel . Kitab Dede Korkut dan Epic Köroğlu telah menjadi unsur utama dari tradisi epik Turki di Anatolia selama beberapa abad.

Dua aliran utama sastra Utsmani adalah puisi dan prosa. Divan puisi Ottoman, yang sangat ritual dan simbolis, adalah aliran yang dominan. Sebagian besar puisi Divan adalah lirik di alam: baik gazel atau kasîde. Namun ada genre umum lainnya, sebagian besar terutama mesnevî, semacam roman ayat dan berbagai puisi naratif. Tradisi prosa Utsmani secara eksklusif adalah non-fiksi di alam; sebagai fiksi terbatas pada puisi naratif. Orhan Pamuk adalah salah satu novelis Turki kontemporer terkemuka dan pemenang Nobel Sastra 2006.

8. Arsitektur

a)Awal arsitektur (1299-1437)

-       Awal periode Ottoman (1299-1326)

Dengan pembentukan Kekaisaran Ottoman, tahun-tahun 1300-1453 merupakan periode pertama Ottoman atau awal dalam arsitektur, ketika seni Ottoman sedang mencari ide-ide baru. Periode ini menyaksikan tiga jenis masjid: masjid bertingkat, berkubah tunggal dan subline-siku. Pusat penting pertama seni Ottoman, adalah contoh pertama dari sebuah single-kubah masjid Ottoman.

-       Periode Bursa (1326-1437)

Gaya arsitektur kubah berevolusi dari Bursa dan Edirne. The Ulu Cami (Masjid Suci) di Bursa adalah masjid Seljuk yang pertama untuk dikonversi menjadi satu berkubah. Edirne (Adrianople) adalah ibukota Ottoman antara 1365 1453, dan ketika Istanbul (Konstantinopel) menjadi ibukota baru, dan di sini bahwa kita menyaksikan tahap akhir dalam perkembangan arsitektur dalam pembangunan masjid besar Istanbul. Bangunan-bangunan yang dibangun di Istanbul selama periode penaklukan kota pada tahun 1453 dan pembangunan Masjid Istanbul Bayazid II juga dianggap karya periode awal. Di antaranya adalah Masjid Fatih (1470), Mahmut Pasa Masjid, istana keramik dan Topkapi Palace. Masjid Dinasti Utsmani diintegrasikan ke masyarakat dan menambahkan dapur umum, sekolah teologi, rumah sakit, pemandian Turki dan makam.

b) Periode Klasik (1437-1703)

Selama periode klasik, rencana masjid diubah untuk menyertakan halaman dalam dan luar. Halaman dalam dan masjid tak terpisahkan. Master Arsitek dari periode klasik, Mimar Sinan, lahir tahun 1492 di Kayseri dan meninggal di Istanbul pada tahun 1588. Sinan memulai sebuah era baru dalam arsitektur dunia, menciptakan 334 bangunan di berbagai kota.

c) Periode Westernisasi (1703-1876)

Selama masa pemerintahan Ahmed III (1703-1730) dan di bawah dorongan dari Ibrahim masa damai pun terjadi. Karena hubungan erat antara Kekaisaran Ottoman dan Perancis , arsitektur Utsmani mulai dipengaruhi oleh Baroque dan Rococo, gaya yang populer di Eropa. Contoh penciptaan bentuk seni ini bisa disaksikan di Divriği Rumah Sakit dan Masjid, serta di Sivas Çifte Minare, Konya Ince Minare museum dan bangunan lain, banyak dari periode Seljuk di Anatolia. Unsur-unsur dekoratif dari Baroque Eropa dan Rococo mempengaruhi bahkan dalam arsitektur religius Ottoman.

-          Periode Tulip (1703-1757)

Dimulai dengan periode ini, kelas atas dan para elit di kekaisaran Utsmani mulai menggunakan area terbuka dan umum. Cara, tradisional tertutup masyarakat mulai berubah. Air mancur dan tempat tinggal pesisir seperti Kasri Aynalıkavak menjadi populer. Sebuah kanal air (nama lain adalah Cetvel-i Sim) dan area piknik (Kağıthane) didirikan sebagai tempat rekreasi. Selama tahun 1720-1890, arsitektur Ottoman menyimpang dari prinsip-prinsip zaman klasik.

-          Periode Baroque (1757-1808)

Edaran, bergelombang dan garis melengkung yang dominan dalam struktur periode ini. contoh utama adalah Nur-u Osmaniye Masjid, Masjid Sultan Zeynep, Laleli Masjid, Fatih Tomb, Laleli Çukurçeşme Inn, Birgi Çakırağa Mansion, Aynalıkavak Istana, dan Barak Selimiye . Mimar Tahir adalah arsitek penting dari periode ini.

-          Periode Empire (1808-1876)

Nusretiye Masjid, Masjid Ortaköy, Sultan Mahmud Tomb, Galata Lodge dari para darwis Mevlevi, Dolmabahce, Beylerbeyi, Sadullah Pasha Yali dan Barak Kuleli adalah contoh penting dari gaya ini, dikembangkan sejajar dengan proses Westernisasi. Arsitek dari keluarga Balyan adalah orang-orang terkemuka sepanjang waktu. Periode ini ditandai oleh bangunan dari campuran Neo-Klasik, Baroque, Rococo dan gaya Empire, seperti Istana Dolmabahce, Dolmabahce Masjid dan Ortaköy Masjid.

d) Akhir periode Ottoman (1876-1922)

Pertevniyal Valide Sultan Masjid, Şeyh Zhafir, Haydarpaşa, Duyun-u Umumiye, Postane Merkez (Kantor Pos Pusat) di Sirkeci kabupaten Istanbul, dan Apartemen Harikzedegan di Laleli merupakan struktur penting dari periode ini ketika eklektik gaya dominan. Raimondo Tommaso D’Aronco dan Alexander Vallaury adalah arsitek terkemuka sepanjang waktu.

e) Periode Republik Turki (sejak 1923)

Pada periode ini, arsitek Turki melihat ke dalam bangunan keagamaan dan klasik dalam upaya mereka untuk membangun arsitektur nasional. Nasionalisme, mengembang kuat setelah periode Utsmani, arsitektur dibebaskan Ottoman dari pengaruh seni Barat, dan dengan demikian membawa gaya baru berdasarkan arsitektur Ottoman klasik. Kantor Pos Pusat dan Han Vakıf, Mimar Kemalettin Bey di Sirkeci, Istanbul, adalah contoh awal gerakan nasional arsitektur pertama Turki.

9. Olahraga

Olahraga tradisional Turki, gures yagli (Gulat diminyaki) sejak zaman Ottoman. Turnamen gures yagli merupakan turnamen tertua didunia yang dimulai tahun sejak 1362. Olahraga paling populer di Turki adalah sepak bola. Olahraga utama lainnya seperti basket dan bola voli juga populer. Motorsports telah menjadi populer baru-baru ini, terutama setelah masuknya Rally Turki ke FIA World Rally Championship kalender tahun 2003, dan masuknya Grand Prix Turki ke Formula Satu kalender balap tahun 2005. Surfing, snowboarding, skateboarding, paralayang dan olahraga ekstrim lainnya menjadi lebih populer setiap tahun.

10. Masakan

Masakan Turki mewarisi warisan Ottoman yang dapat digambarkan sebagai perpaduan dan penyempurnaan dari Turki, Arab, Yunani, Armenia dan masakan Persia, serta masakan Eropa barat.

Diambil sebagai masakan, seluruh Turki tidak homogen. Selain spesialisasi yang dapat ditemukan di seluruh negeri, ada juga spesialisasi khusus kawasan. Masakan daerah (Turki utara) didasarkan pada jagung dan ikan. Sebelah tenggara- Urfa , Gaziantep dan Adana -adalah terkenal karena kebab , mezes dan berbasis makanan penutup adonan seperti baklava, kadayıf dan künefe. Di bagian barat Turki, di mana pohon zaitun yang tumbuh melimpah, minyak zaitun adalah jenis utama minyak yang digunakan untuk memasak. The masakan dari Aegean, Marmara dan Mediterania daerah menampilkan karakteristik dasar dari masakan Mediterania karena mereka kaya dalam sayuran, bumbu dan ikan. Anatolia Tengah terkenal dengan spesialisasi kuenya seperti keşkek (kashkak), Manti (terutama dari Kayseri ) dan gözleme .

11. Kesimpulan

Istilah ‘Timur Tengah’ mengarah kepada wilayah budaya, jadi tidak memiliki batas tertentu. Definisi yang umum dipakai yaitu wilayah yang terdiri dari: Bahrain, Siprus, Mesir, Turki, Iran (Persia), Irak, Palestina, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, Yaman dan Palestina.

Pertanyaan “Siapakah orang Turki?”. tidak memiliki jawaban yang mudah. Pada pergantian abad ke-20 Kekaisaran Ottoman adalah negara multinasional memperluas lebih dari tiga benua. Halaman ini membatasi pembahasannya ke perbatasan Republik Turki (didirikan pada 1923).. Lokasi gambar diberikan dengan nama kota atau sebagai daerah, dalam hal sumber tidak menyebutkan itu.

Budaya Turki telah mengalami perubahan besar selama abad terakhir. Hari ini, Turki mungkin satu-satunya negara yang berisi setiap ekstrem Timur dan budaya Barat (bersama dengan banyak kompromi dan fusi antara kedua). Sistem Utsmani adalah negara multi-etnis yang memungkinkan orang di dalamnya tidak dapat bergaul dengan satu sama lain dan dengan demikian mempertahankan identitas etnis dan agama terpisah dalam kekaisaran (meskipun dengan kelas Turki dan Selatan yang berkuasa dominan Eropa). Setelah jatuhnya kerajaan setelah Perang Dunia I Republik Turki mengadaptasi sebuah pendekatan kesatuan, yang memaksa semua budaya yang berbeda dalam batas-batas untuk bergaul dengan satu sama lain dengan tujuan menghasilkan “Turki” dan budaya identitas nasional. Pencampuran ini, bukannya memproduksi homogenisasi budaya, malah menghasilkan banyak warna abu-abu sebagai Muslim tradisional budaya Anatolia bertabrakan dengan (atau telah dikenakan kepada mereka) modernitas kosmopolitan Istanbul dan Barat yang lebih luas. Dengan demikian, budaya Turki dalam banyak hal merupakan sebuah kontinum yang menjembatani masa lalu dan kini

12. Daftar Pustaka

Hostler, Charles Warre. 1957. Turkism and The Soviets. New York: Frederick A Praeger

Ihromi, T. O. 2006, Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Obor

Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher

Lapidus, Ira M. 1988. Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Lewis, Bernard. 1988, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah dari Segi Geografi, Sosial, Budaya, dan Peranan Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya

Lewis, G. L. 1955. Turkey. New York: Frederick A Praeger

Situs Rujukan

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab#Asal_usul_dan_Sejarah

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Turki

http://www.sabda.org/publikasi/40hari/2003/14/

http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah

 

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:
MUHAMMAD YUNUS ANIS, NAUFAL AHMAD RIJALUL ALAM, MELA YUNANDA, NIWARI, MOCHAMAD CHODERIN, MUHAMMAD KHOIRUL MALIK, DAN AFNAN ARUMMI

1. Pendahuluan

Kurdistan: mountainous region in West Asia that includes parts of Turkey, Iran, Iraq, Syria, and Armenia. It is inhabited by about 8 milion Kurds, formerly nomadic herdsmen but now mostly settled farmers. The majority are Sunnite Muslims. For generations the Kurds have sought autonomy from the countries in which they live. Revolts of Turkish Kurds after WWI were severely repressed. Turkey today suppresses any manifestation of Kurdish nationalism. Iraq has long resisted Kurdish demands for self-rule. The 1960s and 1970s saw heavy fighting between Iraqi troops and the Kurds. During the IRAN-IRAQ WAR, Iraqi Kurds sided with iran. When the war ended, Iraq unleashed a devastating attack against its Kurds, using poison gas. Thousands of Kurds were killed; many survivors sought refuge in Turkey (1993:691).

Kurds: people of Kurdistan in West Asia, estimated to number about 9.4 milion. Traditionally nomadic, most Kurds are settled farmers. Almost all are Muslims. Kurds have fought vigorously against various rules for an independent Kurdistan. In Iraq the 1980s and 1990s saw much warfare between the Kurds and Iraqi troops over the issue of self-government (1993:692).

Bangsa Kurdi telah hidup di pegunungan, kira-kira dalam regional seluas 74.000 mil persegi, yang dikenal sebagai kawasan Kurdistan selama lebih dari dua abad. Sepanjang sejarah, mereka selalu hidup di bawah kuasa berbagai penakluk ataupun bangsa lain. Semenjak awal abad 20, regional tersebut terbagi ke dalam empat negara: Turki, Suriah, Iran dan Irak, di mana seluruh negara tersebut memperlakukan bangsa Kurdi sebagai warga kelas bawah atau bahkan sering juga bukan sebagai warga negara mereka sendiri. Dengan demikian, bangsa Kurdi, yang berjumlah sekitar 20–25 jiwa, adalah kelompok etnis terbesar di atas muka bumi yang tak memiliki tempatnya sendiri.

Berangkat dari hal tersebut makalah ini berusaha untuk memaparkan beberapa hal pokok yaitu: siapakah bangsa kurdi, dimanakah keberadaannya, keistimewaan dan kelebihan dari bangsa kurdi tersebut. Dalam proses sejarah, Bangsa Kurdi selalu mengalami berbagai macam penindasan yang menyebabkan label sebagai bangsa besar yang tersingkirkan melekat erat di dalam dirinya.

Sistematika pembahasan dalam makalah ini adalah: (1) Pendahuluan berupa pengantar dan sistematika makalah. (2) Mengenal Bangsa Kurdi, dalam bab ini dipaparkan mengenai: sebutan Kurdi, struktur geografis Bangsa Kurdi, dan ciri-ciri suku Kurdi yang dapat diteliti dari agama, bahasa, dan mata pencaharian mereka. (3) Keistimewaan Bangsa Kurdi yang dapat diteliti dari tradisi keilmuan dan kebudayaan Kurdi. (4) Kelemahan Bangsa Kurdi, dalam hal ini akan dibahas secara ringkas mengenai beberapa sub bab sebagai identifikasi kelemahan bangsa Kurdi, yaitu: bangsa tanpa negara, frustasi memperjuangkan kemerdekaan, friksi dan penindasan, dan satu bab khusus mengenai penindasan bangsa Kurdi.

2. Mengenal Bangsa Kurdi

a. Sebutan Kurdi

Catatan paling awal mengenai istilah Kurdi ditemukan dalam dokumen Raja Tiglath-Pileser I yang memerintah Assyria dari 1114 hingga 1076 SM. Disebutkan bahwa daerah “Qurti” di gunung Azu termasuk salah satu wilayah yang berhasil ditaklukkan oleh sang raja. Bagi orang Akkadian, sebutan “Kurti” digunakan untuk menunjuk mereka yang tinggal di kawasan pegunungan Zagros dan Taurus Timur, sedangkan orang Babylonia menyebut mereka “Guti” dan “Kardu”. Sumber Yahudi, Talmud, beberapa kali menyebut tentang bangsa “Qarduim”.

Sementara itu, dalam catatan ekspedisinya pada tahun 401 SM, Xenophon menceritakan pertemuannya dengan orang-orang “Kardykhoi”. Ini diikuti oleh Polybius (130 SM) yang menyebut mereka “Kyrtioi”, dan Strabo (40 M) yang me-latin-kannya menjadi “Cyrtii”.

Menurut Profesor Izady, setidaknya sejak kurun pertama Masehi, istilah “Kurd” mulai umum dipakai untuk menyebut siapa saja yang mendiami wilayah pegunungan dari Hormuz hingga ke Anatolia. Adapun sejarawan Islam seperti ath-Thabari, al-Ya‘qubi, al-Mas‘udi dan Yaqut, mengakui keberadaan etnis Kurdi sama seperti etnis lainnya (Arab, Parsi, Turki, dan sebagainya).

b. Struktur Geografis Bangsa Kurdi

Karakter geografis Kurdistan yang terdiri dari gugusan perbukitan, struktur sosial yang sangat sarat sentimen tribalisme, serta sistem mata pencarian yang mengandalkan pertanian dan menggembala memang membuat bangsa dan wilayah Kurdistan menjadi semieksklusif sepanjang sejarahnya selama sekitar 3.000 tahun.

Sepanjang sejarahnya, tidak ada satu bangsa atau kekuatan pun yang mampu menguasai secara penuh bangsa dan wilayah Kurdi, juga sering disebut sebagai Kurdistan. Yunani, Romawi, Persia, dan bahkan dinasti berbasis Islam selalu gagal menundukkan secara penuh bangsa Kurdi. Pada era modern pun, sistem yang melahirkan negara seperti Turki, Iran, Irak, dan Suriah gagal pula menguasai secara penuh wilayah Kurdi.

Namun, secara geopolitik, karakter geografis Kurdi justru membawa petaka karena harus menerima wilayah itu terbagi di antara lima negara pasca-Perang Dunia I.

Terpecahnya geografis, sejarah, dan politik bangsa Kurdistan terjadi pertama kali pada tahun 1514 menyusul pertempuran Chaldiran antara Dinasti Safavid dan Ottoman yang membawa mereka menandatangani sebuah perjanjian pembagian pengaruh di wilayah Kurdi.

Pemecahan wilayah Kurdi tahap kedua dilakukan dalam perjanjian Sykes Picot antara Inggris dan Perancis dengan dihadiri wakil dari Kaisar Rusia pada tahun 1916. Kemudian, proses pemecahan Kurdi berlanjut berdasarkan perjanjian Sevres tahun 1919 dan perjanjian Lausanne tahun 1923.

Dalam berbagai perjanjian tersebut dicapai pembagian final wilayah dan bangsa Kurdi, yaitu Kurdi Utara (Turki) yang memiliki wilayah terluas, yakni 194.000 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 13 juta jiwa; Kurdi Timur (Iran) yang memiliki wilayah terluas kedua, yakni 125.000 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 8 juta jiwa; Kurdi Selatan (Irak) yang memiliki wilayah terluas ketiga, yakni 72.000 kilometer persegi dengan penduduk 6 juta jiwa; Kurdi Barat (Suriah) yang memiliki wilayah terluas keempat, yakni 18.000 kilometer persegi dengan penduduk 1 juta jiwa; dan Kurdi Armenia (bekas Uni Soviet) yang memiliki luas 18.000 kilometer persegi dengan penduduk 1 juta jiwa.

Tercabik-cabiknya wilayah Kurdi itu membuat pupusnya impian bangsa Kurdi memiliki negara sendiri. Pemimpin Kurdi, Mustafa Barzani (1900-1979), sepanjang hidupnya dikenal berjuang bagi berdirinya negara Kurdi.

Memang di bawah pimpinan Mustafa Barzani sempat berdiri negara Kurdi, dengan nama negara Mahabad (tahun 1946) di wilayah Kurdistan Iran. Namun, eksistensi negara ini buyar. Pembagian wilayah menjadi faktor penyebab terjadinya keretakan dalam struktur budaya dan politik bangsa Kurdi. Mereka berada di bawah sistem politik pemerintahan pusat yang memang beragama di negara-negara yang menjadi tempat keberadaan bangsa Kurdi itu.

c. Ciri-Ciri Suku Kurdi

1) Agama

Jauh sebelum masuknya Islam, suku Kurdi menganut agama-agama Parsi kuno seperti Zoroaster, Mithraisme, Manichaeisme dan Mazdak. Beberapa kuil penyembahan api peninggalan zaman itu masih terdapat sampai sekarang, antara lain di Ganzak (Takab), Bijar. Mereka juga sempat dipengaruhi oleh ajaran Yahudi dan Nasrani. Namun demikian, pengaruh agama-agama tersebut hampir semuanya terkikis habis dengan datangnya Islam di abad ke-7 Masehi. Patut dicatat, Kurdistan terletak tidak jauh (hanya 50 mil) dari Baghdad dan 200 mil saja dari Damaskus; keduanya merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, dan keilmuan di kurun-kurun pertama Hijriah.

Karena itu tidak mengherankan jika saat ini mayoritas orang Kurdi (60 %), terutama yang berbahasa Kurmanji, adalah pemeluk Islam Sunni yang bermazhab Syafi‘i. Sebagian kecil (sekitar 1 juta orang) menganut Islam Shi‘ah, khususnya yang tinggal di Kirmanshah, Kangawar, Hamadan, Qurva dan Bijar di selatan dan timur Kurdistan (bagian Iran), serta mereka yang tinggal di Malatya, Adiyaman dan Maras di barat Kurdistan (bagian Turkey).

Sebagaimana minoritas Arab Suriah, golongan Syi‘ah Kurdi umumnya adalah pengikut aliran Alevi (atau ‘Alawi). Istilah “Alevi” bagi mereka punya konotasi ganda: pertama, sebagai pengikut Sayyidina ‘Ali ra dan, kedua, sebagai penyembah api atau penganut Zoroaster (dari kata alev yang berarti api). Kaum Alevi percaya bahwa Ali adalah manifestasi atau perwujudan (avatar) Roh Jagad Raya pada Babak Kedua dari Kehidupan Semesta, seperti dalam ajaran Yarshan. Di samping mengagungkan api dan cahaya, penganut Alevi biasanya bersujud menyembah matahari terbit dan bulan, sambil melantunkan tembang-tembang tertentu.

Mereka juga mengadakan pertemuan rutin yang disebut Ayini Jam. Aliran ini sempat dilarang keras dan diberantas di zaman Daulat Usmaniyah, terutama di masa pemerintahan Sultan Salim sekitar tahun 1514. Sempalan lainnya adalah Nushayriyyah, yang mengagung-agungkan Salman al-Farisi (sahabat Nabi) dan menobatkannya sebagai avatar nomor satu.

2) Bahasa

Di zaman pra-Islam, orang Kurdi menggunakan bahasa Pahlavi, bahasa Parsi kuno yang masih serumpun dengan Sanksekerta dan bahasa-bahasa Eropa. Setelah kedatangan Islam dan invasi nomad Turki, orang-orang Kurdi mulai menggunakan dialek suku Kurmanj, sebuah kabilah energetik dari dataran tinggi Hakkari yang berhasil membendung pengaruh Turki di Kurdistan. Begitu kuatnya pengaruh suku Kurmanj hingga mayoritas orang Kurdi masih banyak yang menyebut diri mereka “Kurmanj” dan bahasa mereka “Kurmanji”. Adapun sekarang ini, terdapat dua dialek utama dalam bahasa Kurdi: pertama, Kurmanji, dan kedua, Sorani (atau sering juga disebut “Kurdi”). Sub-dialeknya antara lain: Kirmanshah, Leki, Gurani dan (Dimili) Zaza.

Mengenai sub-suku, sejarawan Kurdi Syarafuddin Bitlisi (w. 1597 M) menyatakan dalam kitabnya Sharafnamah (Mukadimah 7-9) bahwa bangsa Kurdi terbagi empat, masing-masing mempunyai dialek dan adat-istiadat sendiri, yakni Kurmanj, Lur, Kalhur, dan Guran.

3) Mata Pencaharian

Seperti layaknya penduduk pegunungan, suku Kurdi hidup menetap dengan mata pencaharian pertanian dan peternakan. Namun setelah invasi bangsa Arya dan Turki ke wilayah mereka, sebagian mereka memilih cara hidup nomad (berpindah-pindah).

3. Keistimewaan Suku Kurdi

a. Tradisi Keilmuan

Bangsa Kurdi terkenal berani, kuat dan gigih. Mereka banyak berperan dalam menyebarkan dan membela Islam. Tidak sedikit tokoh-tokoh agama (ulama), pemimpin dan pejuang Islam yang notabene adalah suku Kurdi. Sebut saja, misalnya, Ibn Khallikan (w. 681 H/ 1282 M, sejarawan, pengarang kitab Wafayat al-A‘yan ), ‘Syaikh al-Islam’ Ibn Taymiyyah (w. 728 H/ 1328 M), Ibn al-Atsir (w. 630 H/ 1232 M, pengarang Usud al-Ghabah, Ibn Qutaybah al-Dinawari (w. 276 H/ 889 M, pengarang kitabTa’wil Musykil al-Qur’an), Ibn ash-Shalah as-Syahrazuri (w. 634 H/ 1236 M, pakar ilmu hadis yang terkenal dengan Muqaddimah-nya), Syaikh Ibrahim al-Gurani (pengarang kitab Ithaf adz-Dzakiyy), Badi’uz-Zaman al-Hamadani (w. 1007 M, pengarang kitab Al-Maqamat), dan Shalahuddin al-Ayyubi, panglima perang dan pahlawan Islam dalam Perang Salib yang berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan orang-orang Kristen.

b. Kebudayaan Kurdi

Salah satu budaya Kurdi adalah Tarian Kurdi tradisional dari Balkan, Libanon, dan Irak.

Menurut Ensiklopedi Islam, Kurdi bernyanyi dan menari di semua festival ulang tahun mereka, dan upacara pernikahan. Folkloric tarian ini adalah salah satu faktor utama dalam membedakan Kurdi dari tetangga populasi Muslim. Tari Kurdi memiliki berbagai versi dan banyak seperti berikut: Dilan, Sepe, Geryan, Chapi.

Pada abad ke-7, orang-orang Arab menaklukkan wilayah Kurdi dan dikonversi mayoritas Kurdi Islam. Mayoritas hari ini orang-orang Kurdi adalah Muslim, yang berhaluan mazhab Syafi’i dengan membuat sekolah Sunni Islam, membedakan mereka di wilayah tersebut, (dan ke tingkat yang lebih rendah banyak, Hanafi) Sekolah Sunni Islam . Ada juga minoritas suku Kurdi yang Syiah Muslim, terutama yang tinggal di Ilam dan Kermanshah propinsi Iran dan Irak Tengah (“Al-Fayliah” Kurdi). Para Alevis lain adalah agama minoritas di antara Kurdi, terutama ditemukan di Turki. Ada juga Kurdi Agnostics .

Beberapa upacara tradisional lebih dikenal Kurdi atau festival meliputi: Pir Shalyar, Buka Barana, Newroz.

Warisan budaya Kurdi berakar di salah satu kebudayaan tertua di dunia. Sehubungan dengan asal Kurdi, itu sebelumnya dianggap cukup untuk menggambarkan mereka sebagai keturunan Carduchi, yang menentang mundur dari Sepuluh Ribu melalui gunung-gunung di abad ke-4 SM. Namun, ada bukti permukiman kuno lebih di wilayah Kurdistan. Bukti awal dikenal dan budaya yang berbeda terpadu (dan mungkin, etnis) oleh orang-orang Kurdi mendiami pegunungan tanggal kembali ke Halaf budaya 6.000 SM hingga 5.400 SM. Hal ini diikuti oleh penyebaran Ubaidian budaya, yang merupakan pengantar asing dari Mesopotamia.

4. Kelemahan Suku Kurdi

a. Bangsa Tanpa Negara

Sesuai dengan sejarah politik Kurdi yang cukup tua, bangsa Kurdi termasuk bangsa yang kurang beruntung. Bahkan, Kurdi disebut sebagai bangsa tragis akibat karakter geografis, sentimen tribalisme, tirani, dan kolonialisme.

Tragedi bangsa Kurdi itu pun kemudian dikenal dengan nama “problem Timur”. Ironinya, problem Kurdi sering kali dilupakan, diabaikan. Tidak ada pembelaan terhadap bangsa Kurdi, bahkan dijadikan komoditas politik kekuatan regional maupun internasional untuk tujuan politik tertentu.

Walau kartu Kurdi dipakai, sama sekali tanpa ada niat tulus dari siapa pun untuk mencari solusi yang adil soal eksistensi bangsa Kurdi. Karena itu, tidak heran jika Kurdi pun seperti duri dalam daging bagi setiap pemerintah pusat di negara-negara modern saat ini, seperti Turki, Irak, Iran, dan Suriah.

Negara-negara itu juga sepakat mencegah dengan segala cara berdirinya negara Kurdi yang berdaulat di mana pun. Negara-negara itu beralasan, jika Kurdi memiliki negara sendiri di salah satu wilayah negara tersebut, hal itu akan mengobarkan nasionalisme seluruh bangsa Kurdi. Selanjutnya, hal ini bisa mengancam kekuasaan mereka pada wilayah Kurdi di negara masing-masing.

Bahkan, ada kesepakatan tidak tertulis di antara Turki, Iran, Irak, dan Suriah untuk mencegah lahirnya negara Kurdi walau pada saat bersamaan mereka bisa menggunakan kartu Kurdi untuk mengganggu negara tetangga yang lain. Misalnya, Iran atau Turki sering menggunakan kartu Kurdi Irak untuk menggoyang pemerintah pusat di Baghdad, dan demikian juga sebaliknya.

Ada beberapa faktor yang membuat bangsa Kurdi terserak-serak dan gagal mewujudkan impian untuk memiliki negara sendiri. Pertama, kentalnya sentimen kesukuan yang membuat bangsa Kurdi tidak pernah bersatu secara kebangsaan. Hal ini menyebabkan sulitnya lahir seorang pemimpin Kurdi yang bisa menyatukan bangsanya. Walau memiliki satu identitas, yakni Kurdi, kelompok ini juga terbagi-bagi lagi ke dalam berbagai suku. Kedua, Kurdi menjadi korban kediktatoran pemerintah pusat di negara-negara di mana bangsa Kurdi berada menyusul pembagian pasca-Perang Dunia I. Ketiga, kolonialisme turut merobek-robek kesatuan bangsa Kurdi. Bahkan, kolonialisme memanfaatkan sentimen kesukuan di antara kelompok Kurdi untuk mengadu domba sesama bangsa Kurdi.

Para pemerintah diktator yang menaungi bangsa Kurdi itu, misalnya, tidak mengakui eksistensi bangsa Kurdi. Pemerintahan diktator itu juga menolak eksistensi bahasa Kurdi di negaranya.

Turki, Iran, dan Irak yang memiliki warga Kurdi dalam jumlah besar juga tidak mengakui keberadaan bangsa Kurdi di dalamnya. Pemerintahan di negara-negara tersebut bersikukuh hanya satu bangsa, budaya, dan bahasa di negara mereka. Jika realitas sosial di negara-negara itu ada banyak budaya dan bahasa, maka yang diakui hanya satu dan yang lain harus disingkirkan. Kurdi selalu menjadi korban. Itulah realitas politik yang dihadapi bangsa Kurdi di Turki, Iran, Irak, dan Suriah.

Pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk, misalnya, menolak mengakui keberadaan bangsa Kurdi di Turki serta melarang bahasa Kurdi diajarkan di sekolah-sekolah. Ataturk menolak menyebut nama Kurdi dan menamakan bangsa Kurdi di Turki sebagai bangsa Turki pegunungan. Sensus penduduk di Turki sampai saat ini menjuluki kelompok yang ada di Turki sebagai Kurdi Turki pegunungan.

Saddam Hussein di Irak tidak kalah brutalnya dibandingkan dengan Kemal Ataturk. Saddam bahkan pernah melakukan aksi pembumihangusan atas 1.000 desa Kurdi dan menyebarkan penduduk desa-desa tersebut ke seluruh penjuru Irak.

Ada juga kasus pembantaian terhadap warga Kurdi di Halabjah, Irak, tahun 1988, dengan menggunakan bom kimia. Ini merupakan salah satu perbuatan terkeji Saddam Hussein terhadap warga Kurdi.

Sebidang tanah merdeka di sebelah utara Iraq, itulah yang dijanjikan armada teror Bush dan Blair kepada bangsa Kurdi. Syaratnya, mereka membantu keduanya mengerubuti Iraq. Selain janji menggiurkan itu, menghancurkan rezim Saddam merupakan warisan dendam masa lalu. Diktator Iraq itu pernah membantai lebih dari seribu bangsa Kurdi tahun 1982. Ironisnya, senjata kimia yang digunakan Saddam kala itu dipasok Amerika lewat tangan Donald Rumsfeld, kini menteri pertahanan AS yang waktu itu orang penting dalam pemerintahan Ronald Reagan.

Di mata dunia, Kurdi adalah potret etnis yang malang. Mereka tercerai-berai di seantero empat negara berbeda: Turki, Suriah, Iraq dan Iran. Sedihnya lagi, karena minoritas di keempat negara itu, sering kali kepentingan bangsa Kurdi diabaikan oleh pemerintah masing-masing negara tempat mereka berdiam. Akibatnya gampang ditebak, mereka ingin memisahkan diri dari negara induk masing-masing lalu mendirikan negara Kurdi.

Tentu saja keinginan mereka, yang dinilai sebagai gerakan separatisme, segera ditentang oleh pemerintah masing-masing negara. Bahkan tidak hanya ditentang, tetapi juga ditumpas. Itulah yang menyebabkan Saddam membumihangus kawasan utara yang didiami Kurdi. Amerika dan koalisinya membuat aturan zona larangan terbang di langit Iraq kawasan ini.

Alhasil, di masa kini suku Kurdi tergolong sebagai suku bangsa yang tertindas di negeri sendiri. Padahal, kalau melihat catatan sejarah Islam, akan kita temukan adanya pahlawan besar Islam yang bernama Shalahudin Al-Ayubi yang notabene beretnis Kurdi. Juga ada Ibnu Taimiyah, ulama besar yang kesohor dari suku Kurdi.

Dengan kata lain salah seorang anak suku Kurdi pernah menjadi orang yang sangat berjasa pada dunia Islam. Namun kini anak keturunan Shalahudin dan Ibnu Taimiyah bernasib malang, ditindas di negeri-negeri berpenduduk mayoritas Islam di Timur Tengah.

b. Frustasi Memperjuangkan Kemerdekaan

Dibandingkan dengan penduduk negara-negara Arab lainnya bahkan di dunia suku Kurdi adalah suku bangsa terbesar karena jumlahnya yang mencapai 30 juta jiwa. Mirip seperti nasib bangsa Palestina, akibat kolonialisme Barat di Timur Tengah, rumpun bangsa Persia yang mendiami daerah Kurdistan ini terancam hilang dalam sejarah dunia. Karena Palestina berada di bawah pendudukan Israel maka perhatian dunia Islam relatif sangat besar dibandingkan dengan suku Kurdi yang hampir sama sekali tidak ada. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis secara geopolitik dan tersedianya minyak dalam jumlah besar lengkap dengan jalur-jalur pipanya menuju Eropa dan juga Israel, usaha  bangsa Kurdi untuk menjadi bangsa yang independen semakin sulit terealisasi. Setiap aktifitas untuk memerdekakan diri selalu berakhir dengan penumpasan dan penindasan. Jalan menuju kemerdekaan bagi Kurdistan seakan menunggu kehancuran tiga negara yang menguasainya. Tumbangnya Rezim Irak karena invasi AS misalnya, berhasil membuka akses politik kaum Kurdi ini.

Dilihat sejarahnya, sebenarnya kemerdekaan Kurdi pernah dijanjikan oleh Presiden AS Woodrow Wilson (1856-1924) melalui perjanjian Sevres (the Treaty of Sevres) tahun 1920 antara Kekhalifahan Turki Usmani dan sekutu AS untuk membagi-bagi wilayah bekas kekuasaan Turki Usmani.  Hanya saja terbentuknya negara baru Turki di bawah pimpinan Kemal Attaturk yang meliputi sebagian besar wilayah Kurdistan telah memupus harapan itu. Sejak itu konflik antara suku Kurdi dan Turki terus berkembang. Paska kemerdekaan Irak tahun 1932 bangsa Kurdi semakin terisolasi dan terpecah-pecah. Mereka yang mendiami daerah-daerah perbatasan ini selalu menjadi korban pertikaian antara Irak, Iran dan Turki. Karena frustasi akan semakin tertutupnya peluang menuju kemerdekaan, muncullah kelompok-kelompok militan Kurdi yang kerap kali melancarkan aksi-aksi terorisme.

c. Friksi dan Penindasan

Friksi adalah sebuah pergeseran, perpecahan, atau pergeseran yang berupa faham atau pendapat (Widodo, 2001:165). Jalan paling mudah untuk memecah kekuatan suku Kurdi dalam menghimpun diri menuju kemerdekaan adalah dengan menciptakan faksi-faksi di antara mereka yang satu sama lain saling bermusuhan. Ini karena tidak ada figur pemersatu di kalangan mereka. Terpecahnya mereka dalam tiga wilayah negara yang berbeda juga telah membuat suku ini semakin tersegmentasi. Bahkan negara-negara di mana suku Kurdi berada seringkali mencoba melakukan program asimilasi secara paksa hingga pemusnahan bangsa terbesar di dunia Arab ini. Di Irak Utara misalnya terdapat dua kubu yang dipimpin oleh Barzani, the Kurdistan Democratic Party (KDP) dan Jalal Talabani The Patriotic Union of Kurdistan (PUK).  Keberadaan suku Kurdi yang non-Arab itu ternyata menjadi hambatan tersendiri bagi Saddam Husein dalam menjalankan obsesinya menggelorakan semangat nasionalisme Arab. Pada tahun 2003 saat invasi AS ke Irak, daerah basis suku Kurdi di Irak Utara dijadikan sebagai pangkalan militer AS. Ternyata, dukungan AS dan perhatian organisasi-organisasi sosial dunia (LSM) berhasil menyelamatkan bangsa Kurdi di Irak dari penindasan yang sudah berlangsung lama. Setelah bertahun-tahun mengalami penindasan dan pemusnahan akhirnya dengan dukungan AS Jalal Talabani sendiri terpilih menjadi Presiden Irak.

Di Iran suku Kurdi walaupun berasal dari rumpun bangsa Persia tetapi tetap saja hidup terpinggirkan. Ini karena mereka adalah para penganut Sunni yang berbeda dengan agama mayoritas negara Iran. Setelah bertahun-tahun lamanya melakukan penindasan pada kelompok Kurdi, Iran akhirnya dapat melemahkan kekuatan Kurdi. Pada akhir tahun 1920-an, misalnya,  Iran berhasil membunuh pemimpin Republik Mahabad Kurdistan, Qazi Muhammad dan Ismail Agha Simko. Di bawah pemerintahan Ayatullah Khomeini militer Iran juga berhasil melakukan asasinasi terhadap dua pimpinan kharismatik Kurdistan, Abdul Rahman Gasemblou (1989) dan Sadeq Sharafandi (1992). Dalam konflik Irak-Iran 1980-1990 rakyat Kurdi baik Iran maupun Irak sering memanfaatkan keberadaan suku Kurdi di perbatasan untuk melakukan serangan dari dalam. Akibatnya minoritas Kurdi Irak dan Iran selalu dicuragai oleh pemerintahnya masing-masing sebagai kelompok yang membantu kekuatan musuh. Memang kelompok minoritas ini sangat rentan terhadap intervensi asing, termasuk AS, yang dapat menjadi ancaman serius bagi keamanan negara-negara yang bersangkutan.

Nasib bangsa Kurdi di Turki juga tidak lebih baik. Mayoritas suku Kurdi memang tinggal di Turki bagian tenggara dan lebih setengahnya hidup berbaur di ibukota Ankara. Sebagai keturunan bangsa Persia, suku Kurdi menjadi salah satu hambatan gerakan nasionalisme dan sekularisme Turki. Meskipun mereka berhasil mendirikan Negara Darurat Kurdistan di wilayah Turki pada tahun 1922-1924 dan Republik Mahabad Kurdistan tahun 1946 tetapi dapat dihancurkan oleh militer Turki. Dampaknya sejak tahun 1924 Turki melarang penggunaan bahasa Kurdi di tempat umum. Operasi militer besar-besaran terus dilakukan untuk menumpas gerakan pro kemerdeaan yang mengakibatkan ribuan jiwa kehilangan nyawa.

Kekuatan terbesar Kurdi di Turki diwakili oleh Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Pada tahun 1991 ketua PKK, Abdullah Oscalan, ditangkap oleh pemerintah Turki dan dijatuhi hukuman mati. Tekanan Turki ternyata mampu melemahkan tuntutan kemerdekaan yang memaksa PKK merubah orientasinya pada perjuangan otonomi daerah khusus Kurdistan. Pada sisi lain, keinginan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa berdampak pada lahirnya kebijakan-kebijakan yang berpihak minoritas. Hanya saja kebijakan semacam ini sering mendapatkan tantangan besar dari kelompok ultra nasionalis (sekuler) Turki. Operasi-operasi militer pun kemudian kerap dilakukan guna memberangus kekuatan PKK. Apalagi wilayah perbatasan Turki-Irak memiliki potensi sumber alam yang melimpah (minyak, gas, air bersih dan sumber mineral) dan menjadi salah satu pusat investasi asing maka membiarkan rakyat Kurdi memerdekakan diri tentu sesuatu yang mustahil (Middle East Policy, 2004).

d. Penindasan Kurdistan

Apabila penindasan yang dilakukan terhadap minoritas Kurdi di perbatasan-perbatasan Irak, Iran, Turki dan Syiria terus berlanjut maka aktifitas-aktifitas yang mengarah pada tindakan terorisme akan sulit dihentikan. Banyaknya kepentingan ekonomi asing terhadap wilayah Kurdistan dan potensi AS untuk menggunakan kekuatan minoritas Kurdi sebagai usaha untuk melakukan destabilisasi, terutama di tiga negara yang menjadi musuh AS, akan memperburuk kondisi perdamaian di Timur Tengah. Seperti halnya kasus Palestina, kasus Kurdi akan menjadi ganjalan utama menuju Timur Tengah yang damai selama belum ada keseriusan dari negara-negara perbatasan untuk mengkomodasi kepentingan bangsa Kurdi. Dunia internasional harus lebih serius dalam menyoroti nasib minoritas Kurdi ini dan memastikan mereka merasa aman terintegrasi dengan negara-negara yang ada sekarang.

5. Sumber Bacaan

http://zulfadli.wordpress.com/2007/10/29/merdekalah-kurdistan/

staff.ui.ac.id/internal/070603201/publikasi/kurdi.doc

http://daniwicaksono.blogspot.com/2006/11/memahami-konflik-turki-kurdi-tak-damai.html

http://tegakluruskelangit.blogspot.com/2009/01/bangsa-kurdi-melahirkan-sang-pembebas.html

http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=4435

http://bleruangke.multiply.com/journal/item/21/Kurdi_Semangat_yang_Terlupakan

http://augustaracing.wordpress.com/2008/04/30/jatidiri-bangsa-petualang-kurdi/

http://senjatarohani.wordpress.com/2010/06/01/kurdistan-bangsa-tanpa-negara/

Amstrong, Karen. 2003. Islam: A Short History – Sepintas Sejarah Islam. Penerbit Ikon Teralitera.

Widodo. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut.

The New American Desk Encyclopedia. 1993. USA: The Signet Book.

 

 

 

 

 

 

 

 

BANGSA BARBAR

Posted: Desember 6, 2010 in Sosiologi Masyarakat Timur Tengah

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

AHMAD BADRUS SHOLIHIN, ANDI WAHYU WIRATAMA, AHMAD AGUS SALIM, AHMAD MUSTAQIM, AHMAD MANTIQ ALIMUDDIN

1.  Pendahuluan

Setiap kali mendengar kata “Barbar”, yang terlintas di benak kita adalah sekumpulan orang atau suku yang hidup secara primitif dan belum mengenal peradaban. Sebagai kata sifat, “barbar” identik dengan kekerasan, sadisme, kekejaman, kebodohan, pelanggaran terhadap norma, keterbelakangan, dan segala tindakan negatif yang bisa dilakukan oleh manusia. Stereotipe semacam itu hampir secara permanen telah menutupi realitas sebenarnya yang berada di balik nama Barbar. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa Tariq bin Ziyad, salah satu prajurit paling legendaris dalam sejarah Islam adalah seorang Barbar. Dia yang memimpin pasukan Islam saat menaklukkan Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 Masehi dan namanya hingga kini diabadikan sebagai nama sebuah selat yang memisahkan Afrika Utara dengan Eropa, Giblartar (Jabal Thariq). Mungkin kita juga tidak pernah tahu bahwa Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim terkemuka yang dicatat oleh sejarah sebagai pengembara terbesar pra-modern, adalah orang Barbar tulen. Bahkan, Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa, adalah orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang apa itu “Barbar” sangatlah dibutuhkan bagi para pengkaji sejarah Islam, terutama yang menekuni kajian Timur Tengah. Dengan pemahaman ini, diharapkan spektrum pemikiran kita akan lebih luas dan tidak hanya fokus kepada Arabisme saja.

2. Definisi Barbar

Secara etimologi, para sejarawan mencatat bahwa kata “Barbar” (Berber) baru dikenal pada masa akhir Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, relevansi penggunaan kata ini untuk periode-periode sebelumnya tidak diterima oleh para sejarawan purbakala. Untuk memahami arti kata ini, biasanya dipakai istilah “Amazigh” (jamak: Imazighen) yang merupakan nama yang sering dipakai oleh orang-orang Barbar untuk menyebut diri mereka sendiri. Di dalam catatan Leo Africanus, “Amazigh” berarti “orang bebas” (free man). Namun, di dalam bahasa Barbar modern ternyata tidak ditemukan akar kata M-Z-Gh yang berarti “bebas”. Mungkin yang lebih tepat adalah kata “Amajegh” dalam dialeg suku Tuareg yang berarti “orang mulia” atau “bangsawan” (noble man).

Secara umum, para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil. Mereka tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.

3. Ras, Bahasa, dan Agama Orang Barbar

Barbar termasuk dalam rumpun Kaukasoid. Secara fisik, orang Barbar menyerupai sub-ras Mediterania atau Kaukasoid-Eropa Selatan. Namun, berbeda dengan orang kulit putih Eropa Selatan, orang Barbar memiliki tubuh lebih tinggi serta rambut, jenggot dan alis yang lebih pirang. Ibnu Khaldun menggambarkan karakter orang Barbar sebagai manusia pemberani, kuat, hebat, dan memiliki solidaritas tinggi. Ibnu Khaldun menambahkan bahwa orang Barbar benar-benar manusia sejati yang sederajat dengan orang Arab, Persia, Yunani, dan Romawi.

Bahasa asli orang Barbar yang dikenal sebagai bahasa Tamazigh diduga merupakan cabang dari bahasa Afro-Asiatic yang merupakan kelanjutan dari bahasa Proto-Afro-Asiatic. Sebagian ahli berpendapat bahwa bahasa Barbar termasuk dalam rumpun bahasa Hamitic. Namun, sebagian besar ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Barbar lebih mirip dengan bahasa Semitic dan Chadic. Pengguna bahasa Tamazigh hingga saat ini diperkirakan antara 30-40 juta orang. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang Barbar memilih bahasa Arab sebagai bahasa utamanya. Sehingga, pengguna bahasa Barbar yang benar-benar masih murni hanya bisa ditemukan di daerah pedalaman, pegunungan, dan gurun pasir.

Bahasa Barbar sendiri memiliki beberapa dialek yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kelompok etnik yang tersebar di beberapa wilayah Afrika Utara, yaitu antara lain:

Sebelum mengenal Islam, orang Barbar berturut-turut memeluk agama Pagan kuno, Politheisme Yunani dan Romawi, serta Yahudi dan Nasrani. Saat ini, mayoritas orang Barbar beragama Islam Sunni. Namun, suku Mozabite beraliran Ibadite. Sampai tahun 1960-an masih ada beberapa klan Barbar di Maroko yang memeluk agama Yahudi. Namun, sejak terjadinya imigrasi besar-besaran ke Israel dan negara-negara Eropa dan Amerika, jumlah mereka saat ini bisa dihitung dengan jari. Sedangkan yang memeluk agama Katholik dan Protestan adalah sebagian klan Kabyle di Aljazair.

4. Perkembangan Masyarakat Barbar

Para sejarawan meyakini bahwa nenek moyang orang Barbar sudah menempati kawasan Afrika Utara sepanjang pantai Mediterania sejak zaman Paleolitikum. Namun, bukti eksistensinya baru bisa dilacak sejak 4000 SM, di mana mereka sudah mulai bercocok tanam dan beternak dan menjalin hubungan dagang dengan Mesir. Pada 2000 SM, peradaban mereka sudah mengenal logam (metal) yang didatangkan dari Mesir. Namun, sejak invansi yang dilakukan oleh Bangsa Funisia dan Yunani (814–146 SM), Romawi (146 SM–439 M), Vandals (439–534 M), dan Byzantium atau Romawi Timur (534–647 M), peradaban Barbar bergeser ke arah Selatan, yaitu di sekitar pegunungan Atlas dan gurun Sahara. Akibatnya, suku-suku Negro Sub-Sahara yang tempat tinggalnya direbut oleh orang Barbar terusir ke wilayah selatan Sungai Niger. Sebenarnya, masa inilah yang sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan budaya dan tradisi asli orang Barbar.

Pada masa ini, Bangsa Barbar menyusun pemerintahan sendiri yang tergabung dalam sebuah perserikatan yang oleh orang Romawi disebut Numidia. Pada perkembangan selanjutnya, Numidia menjadi salah satu provinsi otonom dari Kekaisaran Romawi. Dinasti penguasa Numidia membawahi beberapa klan yang diberi otoritas untuk memerintah di wilayahnya masing-masing. Setiap klan diatur secara mandiri oleh sebuah dewan yang terdiri dari keluarga yang berbeda, dengan satu anggota dari setiap keluarga duduk di dewan penasihat. Although a Berber tribe was close-knit within it, separate tribes did not cooperate easily with each other. Meskipun suku Barbar mempunyai tradisi kesukuan yang sangat kuat, namun mereka tidak mudah bekerjasama satu sama lain. Thus, wars occurred.Maka tidak mengherankan apabila sering terjadi perang antar suku. Ibnu Khaldun mencatat urut-urutan dinasti yang pernah berkuasa di Numidia, yaitu: Zirid, Banu Ifran, Maghrawa, Almoravid, Hammadid, Almohad, Merinid, Abdalwadid, Wattasid , Meknassa dan Hafsid.

Perubahan besar dimulai sejak abad ke-7 masehi, yaitu sejak kedatangan Agama Islam yang dibawa oleh orang Arab. Terjadilah proses Islamisasi dan Arabisasi yang diawali dengan pendirian kota Qayrawan oleh Uqbah bin Nafi’, Gubernur Mesir pada masa Bani Umayyah, sekitar tahun 670 M. Akar Islamisasi semakin kuat di masa pemerintahan Abul Muhajir Dinar yang berhasil mengajak pemimpin konfederasi Kristen Barbar yang bernama Kusaila masuk Islam. Namun, proses Islamisasi yang awalnya cukup lempang itu tidak berbanding lurus dengan stabilitas politik. Para pimpinan klan-klan Barbar tercatat beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap penguasa Umayyah. Meskipun tidak dapat dibantah bahwa Bangsa Barbar memiliki jasa besar terhadap penaklukan dan Islamisasi Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Hal ini disebabkan oleh diskriminasi rasial dalam kebijakan-kebijakan politik yang menempatkan orang Barbar sebagai masyarakat kelas dua di bawah orang Arab. Puncaknya adalah revolusi Barbar yang dipimpin oleh kalangan Khawarij (Kharijite). Keberhasilan gerakan Khawarij ini pada gilirannya melahirkan beberapa kerajaan teokratis kecil yang senantiasa mengganggu stabilitas kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia dan Afrika Utara. Gejolak berkepanjangan ini baru bisa dihentikan pada abad ke-11, ketika Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir memerintahkan klan Banu Hilal untuk mengusir Dinasti Barbar Zirid dari daerah pemukiman utama orang Barbar. Sejak masa inilah proses Islamisasi dan Arabisasi orang Barbar berjalan mulus tanpa hambatan.

Kolonialisme Barat di Afrika Utara menyebabkan Bangsa Barbar semakin termarjinalkan. Maka, sejarah mencatat betapa orang Barbar begitu gigih berjuang melawan kolonialisme itu. Setelah perang Dunia II berakhir dan negara-negara kebangsaan (nation states) yang baru merdeka terbentuk, bangsa Barbar justru terpolarisasi ke dalam wilayah geografis masing-masing negara. Di saat yang sama, Negara-negara itu (selain Libya) menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa nasional. Hal ini berdampak positif, khususnya bagi kebangkitan kembali tradisi asli dan bahasa Barbar. Sebab selama masa kolonial, tradisi dan bahasa Barbar tidak memiliki ruang untuk berkembang. Dengan ditetapkannya bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan Islam sebagai ideologi Negara, dengan sendirinya para penguasa dan pemegang kebijakan Negara-negara baru itu merasa perlu untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi suku-suku Barbar (yang jumlahnya besar) untuk mengembangkan diri dan meraih kemajuan.

Saat ini, di beberapa negara Afrika Utara suku-suku Barbar memiliki kesempatan dan kedudukan yang setara dengan etnis Arab. Di Aljazair, konstitusi Negara menetapkan identitas nasionalnya dengan nama “Negara Arab dan Barbar Muslim” dan bahasa Barbar menjadi bahasa nasional kedua setelah bahasa Arab. Di Maroko, bahasa Barbar menjadi salah satu bahasa wajib diajarkan (compulsory language) tanpa memperhatikan wilayah dan kesukuan.

Selain itu, beberapa figur Barbar bahkan berhasil mencapai posisi yang tinggi dalam hirarki sosial. Contoh yang paling sahih adalah mantan presiden Aljazair, Liamine Zeroual, dan mantan perdana menteri Maroko, Driss Jettou. Bahkan, di Aljazair, suku Barbar Chenoui mendominasi angkatan bersenjata. Namun sebaliknya dari para kaum laki-laki, sampai sejauh ini masih jarang wanita Barbar berhasil mencapai posisi yang tinggi. Tercatat hanya Khalida Toumi, seorang feminis dan aktivis Barbar militan, yang berhasil menjadi menteri komunikasi di pemerintahan Aljazair. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya sistem patriarki di sebagian besar negara Timur Tengah.

Satu hal yang juga patut diperhatikan adalah stereotipe orang Barbar sebagai bangsa pengembara (nomads). G.P. Murdock mencatat bahwa sejak 2000 SM, mata pencarian orang Barbar sudah beraneka ragam. Sebagian memang menjalankan gaya hidup nomaden, yaitu berburu dan meramu. Tapi sebagian yang lain sudah banyak yang bertani, beternak, dan berdagang. Di masa sekarang, orang Barbar sudah sedemikian rupa terlibat dalam hampir semua sektor ekonomi dan sosial. Bahkan, yang tetap bertahan dengan gaya hidup nomaden praktis hanya tiga sub-etnik saja, yaitu Tuareg, Zenaga, dan Chaoui.

Fenomena yang juga tak kalah menarik adalah diaspora orang Barbar ke beberapa negara maju di Eropa dan Amerika. Negara Eropa yang banyak menjadi tujuah “hijrah” orang Barbar adalah Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, dan Inggris. Sedangkan di Amerika, sebagian besar orang Barbar pindah kewarganegaraan menjadi warga Amerika Serikat dan Kanada. Tak sedikit di antara para imigran ini yang kemudian sukses di tanah air barunya. Contoh yang paling terkenal adalah Zinedine Zidane, pemain sepakbola yang membawa Prancis menjadi juara dunia dan Eropa. Zidane adalah keturunan suku Barbar Kabyle Aljazair.

5. Penutup

Tulisan singkat ini hanyalah pengantar awal untuk mengenal apa itu orang barbar. Untuk memperdalam dan mempelajari berbagai aspek yang lebih luas dari kehidupan orang Barbar diperlukan riset yang lebih serius dengan sarana yang memadai. Perlu disebutkan di sini bahwa kendala utama yang dihadapi oleh kami adalah sangat minimnya buku dan referensi lain seputar Berber People yang bisa kami akses. Beberapa buku pokok yang kami perlukan tidak bisa kami temukan di perpustakaan dan belum ada format e-book yang bisa kami akses lewat internet.

Namun demikian, melalui penelusuran kami yang serba terbatas ini kami bisa menyimpulkan beberapa hal yang kami pandang penting untuk meluruskan kesalahpahaman kami selama ini soal orang Barbar. Pertama, Barbar bukanlah manusia kelas kedua. Mereka adalah manusia sejati dan bermartabat sama dengan manusia dari belahan bumi yang lain. Kedua, penamaan dan konstruk yang melahirkan stereotipe yang salah tentang “Barbarianism” yang selama ini kita kenal mengindikasikan adanya bias kolonialisme yang sangat kental. Untuk itu, diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut seputar hal ini. Ketiga, sebagai sebuah rumpun atau suku bangsa, Barbar memiliki karakteristik, keistimewaan dan kelemahan yang bisa kita telusuri dari perkembangan masyarakatnya yang merentang selama berabad-abad. Kemudian kita bisa mengkomparasikannya dengan etnis atau suku bangsa Timur Tengah yang lain, yang merupakan salah satu objek kajian mata kuliah ini. Dengan itu, kita bisa berharap memiliki gambaran yang utuh tentang sosiologi masyarakat Timur Tengah.

6. Referensi

Murdock, George Peter, Africa: Its Peoples and Their Culture History, New York: McGraw-Hill Book Company, 1959

Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1990

Atiyah, Edward, The Arabs, Baltimore: Penguin Book, 1955

http://en.wikipedia.org/wiki/Berber­_People

 

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:
HARDA ARMAYANTO, LUTHFI MUHYIDDIN, HANIF FATHONI, M. LUQMANUL HAKIM, DAN EVA LINTA CAHYANI
A. Pendahuluan

Berbicara mengenai Yahudi tidak ada habisnya. Ini dikarenakan panjangnya sejarah bangsa tersebut yang meliputi periode awal Yahudi, masa pembuangan, hingga pendirian negara Israel dan juga sejarah Yahudi abad sekarang (abad ke-21)[1]. Sejarah awal kemunculan bangsa ini hingga sekarang memang mendapat respon pro dan kontra untuk diperdebatkan. Apa yang terjadi di dalam sejarah Yahudi akan melekat dan bersinggungan dengan 2 agama besar lainnya, yakni Kristen dan Islam. Di mana ketiga agama ini sama-sama mengklaim dari satu rahim Nabi Allah, yakni Ibrahim. Namun di antara ketiganya, Yahudi terkesan lebih “angkuh” dalam bersikap dan keyakinan. Doktrin “umat terpilih (choosen people)” dan “tanah yang dijanjikan (the promised land)” dalam kitab suci mereka, membuat bangsa Yahudi seolah menutup mata dan merendahkan umat bangsa dan agama lain.[2] Akhirnya, sejarah sampai saat ini mencatat perilaku mereka yang menindas bangsa lain.

Polemik dan sejarah panjang yang terjadi pada bangsa ini menarik untuk lebih mengenal tentang siapa itu bangsa Yahudi, ciri-cirinya, kelebihan dan kekurangan bangsa ini, serta tempat tinggal geografis mereka.

B. Definisi

Yahudi dikenal sepanjang sejarah dengan lebih satu nama.Disebabkan banyaknya nama tersebut, maka sering terjadi kekeliruandalam memahaminya. Padahal nama-nama tersebut memiliki makna tersendiri yang bersifat khusus dan pada waktu yang sama mengisyaratkan kepada fase sejarah tertentu dalam sejarah Yahudi. Setidaknya terdapat tiga istilah yang sering melekat pada bangsa Yahudi, yakni ‘Ibri, Israel, dan Yahudi.

1. ‘Ibri atau ‘Ibrani

Kata ‘Ibri adalah bentuk tunggal, bentuk jamaknya ‘Ibriyyun. Disebut juga dengan ‘Ibrani atau ‘Ibraniyyun yang dinisbahkan kepada nabi Ibrahim a.s.[3]Karena dalam Taurat Ibrahim disebut Abram al-‘Ibraniy (Abram orang Ibrani).[4] Sebagian ahli berpendapat Ibrahim disebut ‘Ibri dikarenakan ia telah menyeberangi sungai. Dan sungai yang dimaksud adalah sungai Furat (Eufrat), namun ada yang memperkirakan sungai tersebut adalah sungai Yordan.[5] Di samping itu, kata ‘Ibri juga mengandung makna lain, yakni keterasingan atau orang asing.[6]

Namun semua ini, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syalabi, ditentang oleh Dr. Israil Walingson. Dia berpendapat bahwa kata ‘Ibritidak merujuk pada suatu kejadian (peristiwa) maupun pada nama seseorang. Melainkan kata ‘Ibri merupakan nama daerah asal bagi Bani Israil. Adapun Bani Israil dulunya merupakan suku pedalaman yang tinggal di padang pasir. Mereka merupakan bangsa nomaden yang tidak memiliki tempat tinggal khusus. Mereka kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari air dan tempat menggembala ternak. Kata ‘Ibri sendiri berasal dari akar kata “’abara” (عَبَرَ), yang berarti memotong jalan, oase, atau sungai. Atau juga berarti menempuh jalan. Dan istimewanya, makna kata ‘Ibri sama-sama terdapat dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Artinya, secara global makna kata ini adalah berpindah-pindah. Di mana berpindah-pindah merupakan ciri khusus yang dimiliki penduduk padang pasir (sukkan al-shokhro’) dan penduduk pedalaman (ahl al-badiyah). Maka kata ‘Ibri bisa juga berartibadawi (penduduk padang pasir atau pedalaman). Sehingga konon bangsa Kan’an, Mesir dan Palestina menyebut Bani Israil dengan sebutan ‘‘Ibriyyun, yakni bangsa yang tinggal di padang pasir atau pedalaman. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakan Bani Israil dari penduduk kota. Kemudian setelah mereka menempati tanah Kan’an, mereka hidup maju dan menetap di sana. Celakanya, mereka lupa akan jati diri mereka pertama kali sebagai ‘‘Ibriyyun atau penduduk padang pasir. Mereka tidak mau disebut ‘Ibri lagi dan memilih untuk menggunakan sebutan Bani Israil.[7]

2. Israel

Nama Israel menunjukkan kelebihan kepada bangsa Yahudi dari bangsa-bangsa lain. Israel merupakan kalimat yang terdiri dari dua kata:isra, yang artinya hamba atau teman dekat, dan el, yang artinya tuhan. Maka Israel artinya hamba atau teman dekat Tuhan atau hamba pilihan tuhan.[8] Nama Israel ini diberikan khusus oleh Tuhan kepada Ya’kub a.s. Ini dikarenakan Ya’kub berhasil mengalahkan Tuhan dan manusia.[9]

Memang kata Israel dinisbahkan kepada Ya’kub a.s. Namun, sesuai yang dikabarkan al-Quran tidak ada sebab khusus penisbahan tersebut.[10] Artinya, menurut al-Qur’an tidak benar kalau Ya’kub a.s telah berkelahi dengan Tuhan dan mengalahkan-Nya. Bahkan para pakar sejarah agama menyebut kisah kalahnya Tuhan di tangan Ya’kubini adalah Myth of Origin atau Actiological Myth.[11]

Menurut Khalifah Hasan sebutan Israel ini sejatinya memisahkan antara keturunan nabi Ishaq a.s dengan keturunan nabi Ismail a.s. Artinya, tujuan dari kisah Taurat di atas hanyalah rasis semata. Yakni, pengkhususan mereka sebagai keturunan Ya’kub a.s dan menyebutkan mereka sebagai orang-orang Israel untuk merendahkan keturunan Ismail a.s.[12]

3. Yahudi

Pakar Ilmu Perbandingan Agama, al-Syahrastani mengatakan bahwa Yahudi adalah umat Nabi Musa dan memiliki kitab suci yang bernama Taurat.[13]Nama Yahudi sendiri diambil dari Yahudza, salah satu keturunan Ya’kub a.s.

Sebenarnya, istilah Yahudi lebih luas maknanya daripada istilah Bani Israel dan  ‘Ibrani. Hal ini karena istilah Yahudi disematkan kepada kaum Ibrani, juga disematkan kepada orang-orang non-Ibrani yang memeluk agama Yahudi.[14] Jadi seseorang yang masuk Yahudi akan tetapi bukan berasal dari bani Israel, maka ia boleh disebut sebagai Yahudi dan tidak boleh disebut bani Israel. Namun sekarang, pengertian makna Yahudi berkembang. Istilah ini bisa bermakna sebuah agama dan bisa juga bermakna sebagai bangsa.[15]

3.a. Yahudi Sebagai Agama

Sebagai agama Yahudi merupakan salah satu agama samawi.Yahudi adalah agama yang pertama kali muncul untuk mentauhidkan Allah SWT. Perlu dijelaskan bahwa Yahudi sebagai agama diturunkan oleh Tuhan tidak dalam keadaan sempurna. Artinya, syari’at dan ajarannya tunduk pada sejarah sehingga menyebabkannya mengalami perubahan yang kontinyu.[16]

Adapun faktor yang mempengaruhinya bisa dibagi menjadi dua.Pertama, agama Yahudi dalam sejarah pernah tunduk di bawah beberapa pemerintahan. Kedua, bangsa dan penganut Yahudi mengalami diaspora. Ini menyebabkan mereka tercerai-berai ke dalam beberapa kelompok komunitas yang hidup di negara-negara yang terpisah di bawah kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda-beda.[17] Sebagai contoh, dahulu umat Yahudi tidak memiliki tempat ibadah khusus untuk menyembah Tuhan mereka. Namun, mereka kemudian menjadikan Sinagog, yang awalnya hanyalah tempat kumpul-kumpul mereka sebagai bangsa yang tercerai, sebagai tempat ibadah khusus mereka.[18]

Kemudian akibat yang lain adalah munculnya beranekaragam sekte dalam Yahudi yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Sekte Samaria misalnya,  mereka berbeda dengan kaum Yahudi lain. Mereka hanya beriman kepada Taurat yang mereka namakan Taurat Musa. Mereka menolak Perjanjian Lama kecuali Kitab Yesaya, dan juga menolak Talmud.[19]

3.b. Yahudi Sebagai Bangsa

Sebagai bangsa, Yahudi merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim a.s yang beristrikan Sarah dan Hajar. Dari Hajar lahirlah Nabi Ishaq a.s., yang mempunya putra bernama Ya’qub yang bergelar Israil, sehingga anak-anak cucunya diberi gelar Bani Israil.[20]

Diantara keturunan Ya’qub a.s adalah Yusuf a.s, yang pernah menjabat sebagai menteri pertanian Mesir. Ketika musim Paceklik tiba nabi Ya’qub dan keluarga hijrah ke Mesir dan menetap dan berkembang disana. Di antara mereka terdapat ratusan ribu orang Yahudi yang rata-rata berotak cerdas akan tetapi berwatak kejam, arogan, kikir, dan mementingkan materi, dan berkeinginan mengusai bangsa lain sehingga mereka menjadi ancaman bagi masyarakat Mesir ketika itu dan masyarakat international saat ini. Mengetahui hal itu raja Ramses II yang bergelar Fir’aun menjadikan mereka budak. Sampai pada masa Nabi Musa, bani Israel diperintahkan untuk keluar dari Mesir untuk menyelematkan diri mereka dari penindasan Fir’aun.[21]

Setelah keluar dari Mesir mereka terkatung-katung di Padang pasir Sinai karena mereka tidak mematuhi perintah nabi Musa yang telah mendapatkan wahyu Taurat di bukit Thursina, bahkan sebaliknya mereka menyembah anak sapi. Dan mereka juga mengabaikan perintah Nabi Harun as untuk memasuki negeri Kan’an. Pada masa Nabi Daud mereka berhasil memasuki negeri Kan’an dan menguasai Yerussalem, namun mereka tidak dapat menguasai seluruh wilayah Kan’an (Palestina).[22]

Setelah wafatnya nabi Daud, pemerintahan dipegang oleh putranya Nabi Sulaiman a.s. Dan setelah itu kerajaan Yahudi terbagi menjadi dua, yaitu kerajaan Yudea yang beribu kota di Yerussalem dan kerajaan Israil yang beribu kota di Samaria. Kerajaan Israel berakhir pada tahun 722 SM, ditaklukkan oleh Sargon dari Assyria. Sedangkan kerajaan Yudea berakhir pada tahun 586 SM, ditaklukkan oleh Nebukhadnezar dari Babilonia.[23]

Dari ketiga definisi di atas jelaslah bahwa bangsa Yahudi awalnya merupakan orang-orang ‘Ibri, yakni suku pedalaman, tertinggal dan hidup berpindah-pindah. Setelah mereka hidup menetap dan taraf hidup mereka maju, mereka melupakan sebutan ‘Ibri itu dan lebih suka menggunakan sebutan Israel di mana di dalamnya terdapat muatan politis. Yakni, pengakuan mereka sebagai satu-satunya bangsa yang mulia. Kemudian sebutan mereka bermetafor menjadi Yahudi karena mereka memang anak keturunan Yahudza ibn Ya’kub a.s. Dalam perkembangan selanjutnya, Yahudi akhirnya menjadi nama sebuah agama dan juga bangsa.

C. Ciri-Ciri

Bangsa Yahudi merupakan keturunan dari ras Semit yang secara umum memiliki ciri-ciri fisik berambut pirang, bermata biru dan berhidung besar yang bengkok.[24] Namun beberapa ciri-ciri mereka bisa diidentifikasi sesuai kelompok-kelompok Yahudi yang ada di bumi. Adapun Yahudi secara garis besar terbagi menjadi 3 kelompok: Ashkenazi, Sefardim, dan Mizrahim.

Yahudi Ashkenazi  adalah orang-orang Yahudi Eropa, terutama dari Eropa Timur, bahasa yang mereka pakai biasanya adalah bahasa Yiddish. Zaman sekarang kaum Ashkenazim di Eropa sudah hampir punah, mereka banyak didapati di Amerika Serikat dan Israel. Kelompok ini dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi dengan tingkat skor IQ tertinggi di dunia.[25]

Yahudi Sefardim adalah kelompok Yahudi yang berasal dariJazirah Iberia. Sefardim adalah bentuk plural dari “Sefard”, yang berarti “Spanyol“. Kata ini digunakan untuk merujuk orang-orang Yahudi yang berasal dari Iberia (kini Portugal dan Spanyol), termasuk keturunan mereka yang diperintahkan meninggalkan Spanyol ketika penguasaKatolik Ferdinand dan Isabella merebut kembali dari tangan orang Islam yang membebaskan Spanyol pada 711 M.[26]

Yahudi Mizrahim artinya orang dari timur. Yang dimaksud orang dari timur adalah orang suku Yahudi yang pada zaman dahulu berevolusi/mutasi/tinggal di daerah bagian timur (seperti negara yang ada di timur tengah, afrika utara, Asia bagian tengah, India, dan bagian kecil di Asia Timur, yang masih mempunyai hubungan darah atau keturunan Yahudi sampai sekarang.

D. Keistimewaan Bangsa Yahudi

Setidaknya ada empat sifat atau watak  yang memungkinkan Yahudi menjadi bangsa yang kuat dan berpengaruh.[27] Pertamaadalahetnosentrisme, yakni sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri dan meremehkan kebudayaan yang lain. Pada kenyataannya masyarakat dan kebudayaan Yahudi cenderung pada kolektivisme, berbeda dengan Barat yang cenderungindividualisme dan masyarakat Timur yang cenderung klasifikasisme. Etnosentrisme telah menjadi watak setiap Yahudi, di manapun mereka berada pasti mengisolir diri mereka dari masyarakat lain sehingga mereka memiliki hubungan kokoh satu sama lain, satu kesatuan yang penting dalam melahirkan kelompok yang efektif dan aroganis.

Keistimewaan lain adalah Kecerdasan, mayoritas Yahudi adalah Yahudi Ashkenazi. Kelompok yang sangat cerdas, dengan rata-rata IQ diatas 115, dan IQ verbal lebih tinggi. Karena IQ verbal merupakan persyaratan terbaik dalam mencapai kesuksesan kerja dam mobilitas maju di dalam masyarakat sekarang, maka tak aneh bila Yahudi merupakan kelompok elit di AS.

Mengenai mengapa bangsa Yahudi itu pintar, Dr. Stephen Carr Leon telah melakukan penelitian mengapa ini bisa terjadi. Selama tiga tahun di Israel akhirnya dia berkesimpulan bahwa kecerdasan ini dimulai pembentukannya dari awal. Orang-orang Yahudi memiliki tingkat keseriusan dalam mendidik anak-anak mereka. Dari sejak mengandung sampai anak-anak tersebut besar, mereka tidak pernah melepaskan anak-anak mereka dari musik dan matematika. Dan yang unik mereka tidak diperbolehkan untuk merokok. Cara mereka makan dan apa yang dimakan juga diperhatikan. Sejak awal mengandung mereka suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu.Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.[28]

Keistimewaan selanjutnya adalah gigih secara psikologis. Orang Yahudi memiliki watak pantang menyerah, bila mereka menghadapi soal-soal yang berhubungan dengan kelompok mereka dan Negara Israel, mereka akan melakukan segala-galanya untuk mencapai tujuan dan keberhasilan.

Keempat adalah agresif. Orang Yahudi bertindak lebih agresif terhadap mereka yang hidup disekelilingnya, dan dianggap agresif karena kritikan mereka. Bahkan mereka melakukan demikian meskipun harus melanggar ajaran agama. Mereka dengan agresif merebut perekonomian suatu daerah yang mereka tempati. Agresifitas Yahudi membawa mereka menjadi penguasa media masa, imformasi dan ilmu-ilmu sosial yang memudahkan mereka untuk merusak orang-orang selain mereka dan memutar balikkan fakta yang ada. Tak aneh apabila orang Yahudi termasuk orang yang cepat berkembang dan maju dibanding dengan yang lain.

Keistimewaan-keistimewaan ini membuat bangsa Yahudi terus maju dan berkembang. Fakta membuktikan bahwa media  cetak di Amerika sudah mereka kuasai: The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Post. Ketiga surat kabar ini merupakan induk media cetak yang ada di Amerika dan sebagian besar dunia, adapun Koran-koran yang lain sekedar menyalin dan meneruskannya keseluruh dunia.[29] Majalah Time yang sangat pupoler di telinga kita, dengan menyajikan berita-berita yang sangat konflit dan terpercaya, ternyata pemiliknya adalah seorang Yahudi.[30]

Selain media cetak, mereka juga terjun dalam media elektronika.Bagi mereka, media elektronik bisa menyebarkan misi dan ide-ide mereka sampai keseluruh pelosok dunia, juga bidang ini menghasilkan uang bagi mereka. Di antaranya adalah Walt Disney Company (dalam bidang hiburan), CNN, ABC, dan NBC (dalam bidang berita dan siaran televisi), MCA dan Universal Picture (dalam bidang perfilman).[31]

Cita-cita Yahudi dalam menguasai dunia tidak hanya dalam bidang ekonomi dan media massa, akan tetapi dalam bidang politik juga. Untuk menguasai politik international mereka menyebarkan politikus-politikus mereka di setiap departement pemerintahan Amerika Serikat. Jerry D. Gray dalam buku American  Shadow Governmrentmenyatakan bahwa pemerintahan Amerika sekarang sudah dikuasai oleh Yahudi dengan berbagai macam manuver politik yang mereka lakukan. Mereka mendirikan lembaga Lobi Politik AIPAC (Amerika Israel Public Affairs Commite) dan FEMA (Federal Amergency dan Management Agency). Yang mencengangkan kekuatan organisasi ini dapat menurunkan dan mengangkat presiden Amerika Serikat, menentukan keputusan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan Israel.[32]

E. Kekurangan Bangsa Yahudi

Kelebihan yang dimiliki bangsa Yahudi ternyata menutup mata mereka terhadap bangsa dan agama-agama lain. Mereka memiliki sikap arogansi yang tinggi sehingga sulit untuk berhubungan dengan orang-orang di luar mereka dan membuat mereka dibenci. Merekamenganggap non-Yahudi tidak sederajat dengan mereka, bahkan sampai menganggapnya sebagai ghoyyim.[33] Sebagaimana tertulis dalam Talmud dalam kitab Yehezkiel, 35:31: ”kalau demikian, kamu, Israel, dipanggil manusia, sedangkan ghoim tidak demikian halnya”. Dan juga dalam kitab Yebamoth 98a “semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”. Artinya, hanya bangsa Yahudi yang manusia dan non-mereka adalah binatang.[34]

Kalau disimpulkan, kekurangan bangsa Yahudi sebenarnya terpusat pada sikap dan perilaku mereka. Di antaranya:

1. Iri dan dengki.

Karakter dan kompetensi khas Yahudi adalah iri dan dengki. Allah swt berfirman:

“Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang Telah diturunkan Allah, Karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat muika sesudah (mendapat) kemurkaan dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”[35]

Menanggapi ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan bahwa bangsa Yahudi iri karena ada nabi yang diturunkan Allah di luar bangsa mereka, yakni bangsa Arab.[36]

2. Membunuh Para Nabi.

Kisah terbunuhnya nabi-nabi Allah di tangan bangsa Yahudi terekam jelas oleh sejarah. Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka beritakanlah mereka akan azab yang pedih.” (Q.s. Alu Imran: 21)[37]

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Abu ‘Ubaidah Ibn Jarah bahwa Rasulullah SAW  membaca ayat ini kepadanya tatkala beliau ditanya perihal manusia yang paling berat siksaannya di neraka. Kemudian Nabi SAW menerangkan bahwa Bani Israil telah membunuh 43 orang Nabi pada pagi hari dalam satu waktu. Kemudian datang kepada mereka para ahli ibadah di kalangan mereka sendiri yang berjumlah 112 orang menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta melarang mereka membunuh para Nabi. Namun mereka tidak mengindahkan perintah itu dan malah membunuh seluruh ahli ibadah tersebut.[38] Jadi pada hari itu mereka telah membunuh 155 hamba Allah yang salih yang menyeru kepada kebaikan.

Sepadan dengan ayat di atas adalah Q.s. al-Nisa’: 155:

“Maka (Kami hukum mereka), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar, dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.”

Kedua ayat di atas jelas menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku jahat kaum Yahudi. Mereka tega membunuh utusan Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh yang tidak sejalan dengan kehendak mereka.

3. Keras Kepala

Kekeraskepalaan bangsa Yahudi tercermin jelas di dalam al-Qur’an. Lihat Qs. al-Baqarah: 67-71 tentang perintah Allah kepada mereka untuk menyembelih sapi.

4. Rakus dan Tamak.

Yahudi adalah manusia yang sangat tamak. Sangat cinta kepada dunia sehingga mereka ingin hidup ribuan tahun lamanya,[39] Allah swt berfirman: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umurpanjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan“. (QS Al-Baqarah [2]: 96).

5. Suka Menyembunyikan Kebenaran

Karakter Yahudi selanjutnya yang dikabarkan oleh al-Qur’an adalah mereka suka menyembunyikan kebenaran. Menukar yang hak dengan yang bathil. Mengubah ayat-ayat Allah serta menju-alnya dengan harga yang murah, Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui“. (QS Al Baqarah [2]: 42)

5. Suka Berkhianat.

Bangsa Yahudi identik sebagai bangsa yang suka berkhianat.Dari jaman dahulu hingga sekarang, sejarah kerap mencatat penghianatan yang telah dilakukan mereka. Dulu, mereka pernah menghianati Nabi saw dan kaum muslimin mengenai Piagam Madinah di mana mereka bersekongkol dengan kaum Quraisy untuk memerangi nabi saw dan kaum muslimin di Madinah.

Mereka juga berkhianat kepada nabi Musa as dan Allah swt. Sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“. (QS. Al-Baqarah [2]: 83).

Tapi apa yang dilakukan Yahudi? Justru mereka menyembah anak sapi (’ijla). Saling mengusir, saling menawan, berperang dan saling membunuh di antara mereka, Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya “. (QS Al Baqarah [2]: 84).

Pengkhianatan Yahudi itu terjadi hingga hari ini. Pada tahun 1967, belum lewat sehari dari pernyataan dan janji Israel yang telah ditegaskan AS bahwa Israel tidak akan mendahului menyerang kawasan Arab. Tiba-tiba secara serentak tentara Israel menyerang berbagai Negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah. Mereka mencaplok berbagai kawasan Arab seperti gurun Sinai dan dataran tinggi Ghalan. Bahkan pada tanggal 14 Desember 1984, Sidang Umum PBB mengeluarkan surat keputusan bemomor: 146/39b yang menyebutkan bahwa file-file khusus tentang Israel serta praktek politik dan tindakan-tindakan Negara itu, menguatkan tuduhan bahwa Israel bukanlah Negara cinta damai. Israel bahkan terbukti sebagai Negara yang selalu mengingkari prinsip-prinsip kesepakatan Internasional atau perjanjian-perjanjian yang telah ia sepakati sendiri.

F. Tempat Tinggal Geografis

Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang terusir dari tanahnya. Setiap mereka menempati suatu wilayah pasti pengusiran akan terjadi terhadap mereka. Karena tidak memiliki tempat yang tetap, mereka terseber ke seluruh penjuru dunia sampai akhirnya terealisasi pendirian negara Israel Raya di tanah Pelestina tahun 1948. Semenjak itu, mayoritas bangsa Yahudi berdomisili di sana.

Ada sekitar 13-14 juta orang Yahudi diseluruh dunia. Daftar berikut ini adalah populasi yang mewakili perkiraan terendah dari populasi Yahudi seluruh dunia yang menempati sekitar 0,2 % dari seluruh populasi. [40]

 

Country or Region Jewish population Total Population % Jewish
Israel 5,393,000 7,117,000 75.8%
United States 5,275,000 301,469,000 1.7%
Europe 1,506,000 710,000,000 0.2%
France 490,000 64,102,000 0.8%
Canada 374,000 32,874,000 1.1%
United Kingdom 295,000 60,609,000 0.5%
Russia 225,000 142,400,000 0.2%
Argentina 184,000 39,922,000 0.5%
Germany 120,000 82,310,000 0.1%
Australia 104,000 20,788,000 0.5%
Poland 100,000 38,163,895 0.27%
Brazil 96,000 188,078,000 0.05%
Ukraine 77,000 46,481,000 0.2%
South Africa 72,000 47,432,000 0.2%
Hungary 49,000 10,053,000 0.5%
Mexico 40,000 108,700,000 0.04%
Asia (excl. Israel) 39,500 3,900,000,000 0.001%
Belgium 31,200 10,419,000 0.3%
Italy 28,600 58,884,000 0.05%
Turkey 17,800 72,600,000 0.02%
Iran 10,800 68,467,000 0.02%
Romania 10,100 21,500,000 0.05%
New Zealand 7,000 4,306,400 0.2%
Greece 5,500 11,100,000 0.05%
Cuba 1,500 11,450,000 0.013%
Total 13,156,500 6,455,078,000 0.2%

G. Penutup

Dengan karakteristiknya yang etnosentrik bangsa Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa yang superior dan di atas bangsa-bangsa lainnya. Ditambah anugrah kecerdasan yang mereka miliki, jadilah bangsa Yahudi menganggap non-mereka tidak ada apa-apanya. Sikap ini terbukti memotivasi mereka untuk terus maju dan berkembang, bahkan berambisi menguasai dunia. Namun, sadar atau tidak, sikap ini pula yang menjadi bumerang kebencian bangsa-bangsa lain di luar mereka.

Tercatat dalam sejarah bahwa Yahudi kerap diusir dari tanah yang mereka tempati. Mulai dari Kan’an, Babilonia, Mesir, sampai peristiwa Holocaust yang simpang siur validitasnya, semuanya menjadikan bangsa Yahudi sebagai obyek pembantaian dan pengusiran. Akibat pengusiran inilah bangsa Yahudi tersebar ke banyak penjuru dunia. Ketertindasan ini juga berdampak pada keyakinan dan syari’at agama mereka. Wallahu A’lam bi al-showab.

H. Referensi

1. Dari Buku

Al-Qur’an  al-Karim

Kitab Perjanjian Lama

Agha, Mahir Ahmad., Yahudi: Catatan Hitam Sejarah, dalam Yodi Indrayadi (Penj.), (Jakarta: Qirsi Press, 2005).

Ahmad., Muhammad Khalifah Hasan., Tarikh al-Diyanah al-Yahudiyah, (Kairo: Daar Qubba’, cet. I, 1998).

al-Suyuthi, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Jil. 3, (Kairo: Markaz li al-Buhuts wa al-Dirasah al-‘Arabiyah wa al-Islamiyah, cet I, 2003).

al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, cet. II, 2002).

al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an, jil. II, (Kairo: Hajr, cet. I, 2001).

Asy-Syarqawi, Muhammad Abdullah., Talmud: Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan, dalam  Alimin dkk, (Jakarta:Sahara Publisher, 2004).

Carr, William G., Yahudi Menggenggam Dunia, dalam Musthofa Maufur (Penj.), (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1991).

Farij, Ghozi Muhammad., An Nasyat al-Sirri al-Yahudi fi al-Fikri wa al-Mumarosah, (Bairut: Daar al-Nafs, 2003).

Gray, Jerry D., American Shadow Government, (Jakarta: Sinergi Publishing, 2005).

Hafidz, Ahmad Diyab Abdul., Menguak Tabir dan Konspirasi Yahudi, (Bandung: Pustaka Setia, 2005).

Katsir., Ibn., Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000).

Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, (Bandung: PT. Syammil Cipta Media, 2005).

Maulani, Z.A., Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, (Jakarta:Daset, 2002).

Sou’yub, Joesoef., Agama-agama besar di dunia, (Jakarta: al-Husna Dzikra, 1996).

Syalabi., Ahmad., al-Yahudiyah, (Kairo: Maktabah al-Nahdhoh al-Mishriyyah, cet. VIII, 1988).

2. Dari Situs dan Majalah

http://ibudbest.blog.friendster.com/2009/08/mengapa-kaum-yahudi-bijak-pandai/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ashkenazim

http://id.wikipedia.org/wiki/Sefardim

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Yahudi

http://justisianto.com/?p=53

http://www.mumi.org/etranger/en/st5.htm

http://www.wikipedia.com

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8208081500-ayat-ayat-hitam-talmud.htm

Majalah Gontor, Memahami Pengaruh Yahudi, edisi 05 Tahun IV,September 2006.

 

 


[2] Di antara dalil keistimewaan dan keterpilihan bangsa Yahudi tertulis dalam kitab Imamat 20:26: ”Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku”. Juga dalam kitab Ulangan 7:6:  “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” Mengenai dalil tentang tanah yang dijanjikan bahkan menurut kayakinan mereka tertulis di dalam al-Qur’an sendiri, yakni Qs. al-Maidah: 21:“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”

[3] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh al-Diyanah al-Yahudiyah, (Kairo: Daar Qubba’, cet. I, 1998), p. 22.

[4] Perjanjian Lama: Kitab Kejadian: 14:13.

[5] Ahmad Syalabi, al-Yahudiyah, (Kairo: Maktabah al-Nahdhoh al-Mishriyyah, cet. VIII, 1988), p. 46.

[6] Perjanjian Lama: Kitab Kejadian: 39: 14, 18, dan 14: 21, dan Kitab Keluaran 1: 19.

[7] Ahmad Syalabi, al-YahudiyahOp. Cit, p. 46.

[8] Ahmad Diyab Abdul Hafidz, Menguak Tabir dan Konspirasi Yahudi, (Bandung:Pustaka Setia, 2005), p. 14 .

[9] Lihat: Kitab Kejadian: 32: 24-42.

[10] Lihat: QS. Ali Imran: 93.

[11] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 24-25.

[12] Ibid, p. 25.

[13] al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, cet. II, 2002), p. 171.

[14] Mahir Ahmad Agha, Yahudi: Catatan Hitam Sejarah, dalam Yodi Indrayadi(Penj.), (Jakarta: Qirsi Press, 2005), p. 12.

[15] Khalifah Hasan memandang Yahudi memiliki pegertian yang bersifat umum dan khusus. Dalam pengertian umum Yahudi adalah nama yang diberikan kepada setiap orang yang meyakini agama Yahudi, mempercayainya, dan melaksanakan ritualnya. Yahudi adalah penisbatan kepada agama Yahudi sebagaimana Masihi adalah nisbat kepada agama al-Masih, muslim nisbat kepada agama Islam, dan seterusnya. Sedangkan pengertian khusus, Yahudi mengisyaratkan kecenderungan kepada aliran politik dan geografis tertentu. Yaitu, kerajaan Yahudza yang berada di selatan setelah kerajaan Sulaiman terpecah menjadi 2 kerajaan; Utara dan Selatan.

[16] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 189.

[17] Lihat: Ibid., p. 189-192.

[19] Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Tarikh…, Op. Cit., p. 190.

[20] Muhammad Abdullah Asy-Syarqawi, Talmud, Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan, dalam  Alimin dkk, (Jakarta: Sahara Publisher, 2004), p .5.

[21] William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, dalam Musthofa Maufur (Penj.),(Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1991), p. 17.

[22] Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, (Bandung: PT. Syammil Cipta Media, 2005), p.3-4.

[23] Joesoef Sou’yub, Agama-agama besar di dunia, (Jakarta: al-Husna Dzikra, 1996), p. 281.

[27] Majalah Gontor, Memahami Pengaruh Yahudi, edisi 05 Tahun IV, September 2006, p. 14.

[29] Z.A. Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, (Jakarta: Daset, 2002),p.19.

[30] Jerry D. Gray, American Shadow Government, (Jakarta: Sinergi Publishing, 2005), p. 23.

[31] Ghozi Muhammad Farij, An Nasyat al-Sirri al-Yahudi fi al-Fikri wa al-Mumarosah, (Bairut: Daar al-Nafs, 2003), p. 133.

[32] Jerry D. Gray, American Shadow…, Ibid., p. 39.

[33] Ghoyyim adalah makhluk yang sederajat dengan binatang.

[36] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, (Giza: Mu’assasah Qordhoba-Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, cet. I, 2000), p. 488.

[37] Bandingkan dengan Q.s. Al-Nisa’: 5/155.

[38] Lihat: Al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an, jil. II, (Kairo: Hajr, cet. I, 2001), p. 291. Juga: al-Suyuthi, al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Jil. 3, (Kairo: Markaz li al-Buhuts wa al-Dirasah al-‘Arabiyah wa al-Islamiyah, cet I, 2003), p. 492.

[39] Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, jil. I, Op. Cit., p. 499.

 

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

AGUS HIDAYATULLOH, ECEP ISHAK FARIDUDDIN, FAWAD FADLURRAHMAN, JAYA PUTRA IRAWAN, KHOMISAH, NAJIHATUL MUMTAHANAH, NURUL AMALIYAH, WAHID JUMALI, YULAECHA FITRIYAH

1. Pendahuluan

Ketika berbicara mengenai Persia, segera ingatan kita tertuju pada negara yang sekarang bernama Iran. Padahal sebenarnya yang termasuk dalam etnis ini bukan hanya negara Iran saja, walaupun memang mayoritas bangsa Persia berada di negara Iran, bangsa Persia juga menjadi minoritas di negara-negara sekitar Iran, seperti Afganistan, Tajikistan, Uzbekistan, Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat Arab, Irak dan juga beberapa negara di Timur Tengah.

Sebelum Islam datang dan menaklukkan bangsa Persia, bangsa ini telah memiliki peradabannya sendiri. Kebesaran bangsa ini bahkan dapat disamakan dengan kekaisaran Romawi pada saat itu. mereka telah menikmati eksistensi mereka sebagai bangsa yang berdiri sendiri selama berabad-abad, dan pernah mewakili sebuah kekuatan militer yang terorganisir dengan baik, juga pernah berperang dengan orang-orang Romawi selama lebih dari 400 tahun (Hitti, 2010: 198). Oleh karena itu, untuk menaklukkannya pasukan Islam harus menghadapi perlawanan yang sengit dari orang Persia.

2. Sejarah Persia

Etnis Persia adalah keturunan bangsa Arya yang hijrah dari Asia Tengah ke Iran pada milenium kedua sebelum masehi (SM).  Bangsa Arya ini kemudian terpecah menjadi dua; bangsa Persia dan bangsa Media[1]. Mereka kemudian berasimilasi dengan suku-suku setempat seperti Proto-Iran dan peradaban Elam. Dari sini, lahirlah bahasa Persia dan bahasa-bahasa Iran lain. Sumber sejarah tertulis pertama mengenai orang Persia ini ialah prasasti Assyria (834 SM). Prasasti  itu menerangkan tentang orang Parsua (Persia) dan Muddai (Media). Saat itu, orang Asyur[2] menggunakan istilah ‘Parsua’ untuk merujuk kepada suku-suku di Iran. Kemudian orang Yunani mengadaptasikan istilah ini untuk merujuk pada peradaban-peradaban dari Iran. Nama Iran mulai digunakan pada tahun 1935 saat Shah Reza Pahlavi, raja Iran meminta agar masyarakat internasional menggunakan istilah Iran. Istilah ini berarti Bumi Arya.

Kawasan Persia ini diperintah oleh beberapa kerajaan yang membentuk kekaisaran-kekaisaran yang kuat. Di antara kekaisaran-kekaisaran ini adalah kekaisaran Persia seperti Akhemenid, Parthia, Sassania, Buwaihidah, dan Samania. Sassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Persia kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arab yang kemudian diikuti dengan Turki (Tentara Seljuk), Mongol, Inggris dan Rusia. Walaupun mereka telah ditaklukkan oleh banyak negara, tetapi bangsa Persia berhasil mempertahankan kebudayaan, bahasa, dan jati diri mereka (Wikipedia).

Pada masa dinasti Safawiyah (Savavid) (1502-1736), kebudayaan Persia kembali berkembang, terutama pada masa pemerintahan Shah Abbas I. Sebagian sejarawan berpendapat bahawa negara Iran modern didirikan oleh Kesultanan Safawiyah. Banyak kebudayaan Iran pada hari ini berasal dari zaman pemerintahan Safawiyah termasuk pengenalan aliran Syiah di Iran. Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini mendirikan sebuah Republik Islam teokratis sehingga nama lengkap Iran saat ini adalah Republik Islam Iran (جمهوری اسلامی ایران).

3. Ciri-ciri Bangsa Persia

a. Watak dan Fisik

Bangsa Persia pada umumnya hidup nomaden. Mereka tinggal di kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi mencari rerumputan segar dan keadaan cuaca yang lebih baik setiap tahun. Hal inilah yang membentuk watak bangsa Persia menjadi keras, individualis, dan terkadang merampok sanak saudaranya yang lebih beradab (Kedutaan Besar Iran, tt: 46).

Namun, dalam perkembangannya, bangsa Persia mengalami kejemuan dalam menjalani kehidupan itu. Akhirnya mereka hidup menetap dan bertani. Hidup di alam bebas dengan memperhatikan kepemilikan di antara para pemukim, yeng kemudian membentuk kehidupan bangsa Pesia menjadi bangsa yang berhati ikhlas, pemurah, dan suka menjamu tamu. Di samping itu, bangsa Persia juga sangat mencintai ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan independen, tidak bergantung pada bangsa Arab yang mayoritas menempati wilayah Timur Tengah. Mata pencaharian bangsa Persia kini—di samping bertani—adalah berternak biri-biri dan kambing.

Secara fisik, mereka memiliki postur tubuh yang tegap, besar dan tinggi, berambut keriting dan hidung mancung. Warna kulit mereka merupakan perpaduan antara putih Eropa dan kuning langsat Asia.

b. Bahasa

Bahasa yang digunakan bangsa Persia adalah bahasa Persia sendiri, yang merupakan bahasa tertua di dunia, termasuk jika dibandingkan dengan bahasa Arab. Bangsa Persia kini tersebar di wilayah Iran dan sekitarnya. Karena itu, tidaklah mengherankan jikalau bahasa Persia merupakan bahasa resmi Iran, juga Afghanistan dan Tajikistan. Sementara itu, bahasa Turki, Kurdi, Arab, Lori, Gilani, Mazandarani, dan Baluchi, merupakan bahasa setempat bangsa minoritas yang mendiami wilayah Iran.

Bahasa ini terus berkembang, dan setelah Islam memasuki tanah Persia, kurang lebih 40 persen kosakata bahasa Persia telah terpengaruh oleh kosakata bahasa Arab. Selain itu unsur-unsur bahasa Yunani, bahasa Aram, bahasa Inggris dan bahasa Perancis serta sedikit Turki, juga masuk ke dalam bahasa ini. Bahasa Persia ini terkenal karena tradisi sastranya dan juga sastrawan-sastrawannya yang terkenal, di antaranya ialah Hafez, Ferdowsi, Khayyam, Attar, Saadi, Nezami, Roudaki dan juga Rumi.

Dalam bahasa Persia terdapat banyak ragam dialek dan varian yang tersebar dari Iran hingga semenanjung Khumzari di Oman, di antaranya yakni: Bahasa Dari yang dituturkan di Afganistan, termasuk Hazaragi, dan Tajik yang dituturkan di Tajikistan, tapi menggunakan Huruf Sirilik.

c. Agama

Dalam sejarah, agama awal bangsa Persia adalah agama Zoroaster, yaitu agama yang menyembah dua Tuhan dalam kehidupannya; Deva dan Ahura, sebagai menifestasi dari kekuatan yang baik dan kekuatan yang jahat.

Geiger, di dalam karyanya, Civilization of Eastern Iranians in Ancient Times, menjelaskan bahwa Zoroaster mewarisi dua prinsip fundamentalis dari leluhur suku Arya, yaitu (1) adanya hukum di dalam alam dan (2) adanya konflik di dalam alam.

Agama Zoroaster ini mempunyai dua jenis sekte, yakni Mani dan Mazdak. Sekte Mani adalah yang pertama kali mengemukakan gagasan bahwa alam semesta disebabkan oleh kegiatan setan, dan karenanya pada dasarnya alam itu adalah jahat. Adapun sekte Mazdak mengajarkan bahwa keanekaragaman hal-hal bersumber dari campuran dua prinsip yang abadi dan mandiri yang disebutnya Shid (terang) dan Tax (gelap). Ajaran sekte ini berpendapat bahwa kenyataan percampuran terang dengan gelap dan pemisahan akhir keduanya, benar-benar aksidental dan sama sekali bukanlah hasil dari memilih. Tuhan, menurut Mazdak, memiliki sensasi, dan mempunyai empat energi utama dalam kehadiran abadinya, yaitu daya untuk membedakan, mengingat, mengerti, dan bahagia.

Menurut Mazdak, semua manusia adalah sama, dan faham tentang milik perseorangan diperkenalkan oleh setan jahat, yang tujuannya adalah mengubah jagad raya Tuhan ini menjadi arena kesengsaraan tanpa akhir. Aspek ajaran Mazdak telah mengguncang kesadaran Zoroaster, dan pada akhirnya mengakibatkan kehancuran para pengikutnya, meskipun sang Tuhan telah membuat api kudus, dan bersaksi bagi kebenaran misinya. (Iqbal, 1990: 42-45).

Aktivitas keagamaan bangsa Persia di Iran saat ini didominasi oleh ajaran Islam dengan persentase 98,8%. Dari hampir seratus persen itu, mayoritasnya adalah penganut mazhab Syi’ah Imamiah. Adapun persentase agama-agama lainnya adalah sebagai berikut: Kristen 0,8%, Yahudi 0,2%, dan Zaratustra 0,1% (Kedutaan Besar Iran; 58).

4. Tempat Tinggal Bangsa Persia

Mayoritas bangsa Persia berdomisili di Iran. Selain itu, bangsa  Persia juga menjadi minoritas di beberapa negara lainnya, seperti Afganistan, Tajikistan, dan Uzbekistan, bahkan Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat Arab, serta beberapa negara lainnya di Timur Tengah. Secara terperinci jumlah bangsa Persia di setiap negara adalah  sebagai berikut: Iran sebanyak 22.986.329 jiwa, Afghanistan 612.192 jiwa, Bahrain 94.460 jiwa, Australia 27.095 jiwa, Austria 11.465 jiwa, dan Azerbaijan 1.160 jiwa.[3]

5. Keistimewaan Bangsa Persia

Dalam sejarah Islam, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawiyah (1501-1736 M.) tradisi keilmuan ini terus berlanjut.[4] Ada beberapa ilmuwan yang terkenal dan begitu semangat dalam mencari ilmu pengetahuan pada masa kerajaan ini, yaitu Baha al-Din al-Syaerazi, seorang filsuf, dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad, yang selain seorang filsuf, juga ahli sejarah, teologi, dan pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah.

Bukti lain bahwa ilmu pengetahuan umum telah berkembang pada Kerajaan Safawiyah (Persia) adalah bidang seni. Kemajuan tampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada Masjid Shah yang dibangun pada tahun 1611 M. dan Masjid Syaikh Luth Allah yang dibangun pada tahun 1603 M. Unsur keistimewaan lain terlihat pula pada kerajinan tangan, keramik, karpet permadani, pakaian, hasil tenun, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Selain dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan lainnya, bidang politik dan militer juga jadi prioritas dari kelebihan Kerajaan Safawi, yang telah memberikan kontribusi besar dalam mengisi peradaban Islam.

Sejarah bangsa Iran dipenuhi oleh pasang surut. Terkadang bangsa yang dikenal dengan nama Persia ini meraih keberhasilan besar dan terkadang didera oleh berbagai kesulitan. Dengan menyimak lembaran sejarah negeri Persia, tampak bahwa kesulitan sebesar apa pun tak pernah berhasil menghancurkan peradaban bangsa ini. Para sejarawan mengatakan, setiap kali ditimpa kemalangan besar, bangsa Iran bangkit kembali dengan membangun peradaban yang baru. Tak heran jika Prof. Arthur Poop, yang dikenal sebagai pakar Iranologi menyatakan bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang mampu mempertahankan peradabannya meski ditimpa kesulitan besar. Keistimewaan seperti ini, menurut Profesor Arthur, jarang ditemukan bandingannya pada bangsa-bangsa yang lain[5].

Salah satu kelebihan bangsa Iran adalah mental besarnya untuk terus tegar dan bangkit setelah kehancuran. Setiap bangsa yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi tempat dan masa, pasti akan tersingkir dan selanjutnya hanya akan menjadi kenangan sejarah. Sebaliknya bangsa yang bisa berjalan seiring dengan situasi dan kondisi, akan terus eksis dan berjaya. Bangsa Iran adalah salah satu bangsa yang memiliki kelebihan ini. Sejarah menceritakan bagaimana bangsa Iran berhubungan dengan bangsa-bangsa lain semisal Arab, Turki, Mongol, dan lainnya serta terus eksis dalam pergaulan itu.

Sejarah mencatat bahwa gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan di dunia Islam terjadi dimulai sejak abad kedua Hijriyah, dan lantas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peradaban Islam. Gerakan itu diwarnai dengan maraknya penerjemahan buku-buku ilmiah dari berbagai bahasa asing semisal Pahlevi, Suryani, India, dan lainnya ke dalam bahasa Arab. Kurang dari seratus tahun sejak gerakan kebangkitan ilmu itu terjadi, umat Islam telah mencengangkan bangsa-bangsa lain dengan munculnya ratusan ilmuan besar muslim. Banyak yang bertanya-tanya dari mana kaum muslimin bisa mendahului bangsa-bangsa lain dalam penguasaan ilmu dan sains, dalam kurun waktu yang sangat singkat?

Mengenai pertanyaan tadi, banyak ahli yang berusaha memberikan jawaban. Menurut mereka, salah satu faktor keberhasilan ini adalah peran yang dimainkan oleh bangsa Iran. Misalnya Ibnu Khaldun, Mas’udi dan George Zeydan, tiga sejarawan kenamaan mengakui bahwa sebagian besar ilmuan dunia Islam berasal dari negeri Persia. Peran bangsa Iran dalam membangun dan mengembangkan peradaban dan kebudayaan Islam sangat besar.

Kebudayaan Arab lebih terbentuk pada budaya percakapan. Bangsa Arab tempo dulu tidak banyak memberikan perhatian pada masalah baca tulis, sehingga mereka tidak banyak mengabadikan ilmu dalam bentuk tulisan. Bangsa ini terbiasa menyampaikan ilmu-ilmu berharga mereka secara lisan. Masuknya Islam ke negeri Persia memberikan warna lain pada budaya kaum muslimin. Bangsa Iran terbiasa menulis apa-apa yang mereka ketahui dan mengembangkan setiap cabang ilmu. Sebagai bagian dari kaum muslimin bangsa Iran mempelajari bahasa Arab, dan setelah menguasainya, mereka mengembangkan bahasa ini. Moqaddasi, pakar geografi abad ke-4 menuturkan bahwa dalam perjalanannya ke berbagai negeri Islam dia menyaksikan penduduk Khurasan, kawasan timur laut Iran, yang sangat fasih berbicara dengan bahasa Arab.

Al-Kitab yang merupakan salah satu karya besar dalam bidang sharaf dan nahwu yang bahkan hingga kini menjadi salah satu buku rujukan utama para pakar bahasa Arab, ditulis oleh Sibawaih, yang ternyata berasal dari Iran. Sejak abad-abad pertama hijriyah, banyak kata-kata Persia yang masuk ke dalam bahasa Arab, dan sebaliknya, banyak ungkapan bahasa Arab yang masuk ke dalam bahasa Persia.[6]

Kelebihan bangsa Persia ini bahkan diakui oleh Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengusapkan kedua tangan beliau di kepala Salman al-Farisi, salah seorang sahabat berkebangsaan Persia, lalu beliau bersabda, Hal ini menunjukkan

لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلاَءِ.

“Jika iman ada di atas bintang Tsurayya maka kaum itu (bangsa Persia) pasti akan dapat menggapainya juga.” (HR. Bukhari)[7]

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bangsa Persia begitu tingginya sehingga hal-hal yang jauh di luar jangkauan manusia pada umumnya pun dapat digapai. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa Salman al-Farisi, sebelum menemukan Islam sebagai agama yang diyakini dan dipeganginya secara erat, telah mengembara hingga bertahun-tahun dalam mencari tuhan.[8]

6. Kelemahan Bangsa Persia

Setiap bangsa pasti memiliki keistimewaan dan keutamaan yang membuatnya bertahan dan bahkan dapat membuatnya lebih unggul dibanding bangsa-bangsa lainnya. Selain itu, setiap bangsa juga pasti memiliki kelemahan yang jika diabaikan dapat menjadi sumber kehancuran bangsa itu sendiri. Demikian pula bangsa Persia, penulis  mendapatkan beberapa kelemahan dari bangsa ini yang terkadang menjadi sebab perselisihannya dengan bangsa-bangsa lainnya, di antaranya yaitu, sifat fanatik. Bangsa Persia selalu beranggapan bahwa bangsa mereka lebih unggul dibanding bangsa Arab. apalagi sejarah menyatakan bahwa bahasa Persia merupakan bahasa tertua di dunia. Inilah yang menjadi alasan bagi mereka untuk enggan menggunakan bahasa Arab dalam keseharian mereka. Sifat fanatic ini juga lah yang membawa perseteruan panjang antara Islam Sunni dan Syiah. Bangsa Persia yang mayoritas beraliran Syiah ini terlalu fanatic terhadap apa yang diyakininya. Para penguasa yang beraliran Syiah pun menjadikan aliran Islam Syiah ini sebagai agama Negara dan bahkan memaksa para penganut aliran lain seperti Sunni untuk masuk dalam aliran ini.

Selain itu, bangsa ini juga lebih bersifat introvert atau tertutup dan tidak melihat bangsa lain seperti Arab sebagai bangsa yang maju. Pandangan ini juga lah yang menjadi salah satu alasan bangsa Persia tidak mau tunduk pada pemerintahan Arab. sejarah mencatat bahwa Penaklukan Arab atas Persia menghabiskan waktu sekitar satu decade. Pasukan Islam menerima perlawanan yang jauh lebih sengit dari pada orang-orang Suriah.

7. Penutup

Bangsa Persia saat ini, yang terwakili Iran, memang bukanlah bangsa yang terlihat unggul (baca: adikuasa) dalam percaturan dunia. Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa Persia pernah menjadi salah satu bangsa dengan peradaban tingkat tinggi sehingga menjadi bangsa yang disegani. Naik turun peradaban suatu bangsa, tidak hanya Persia, memang dipengaruhi oleh faktor kelebihan dan kelemahan yang dimiliki bangsa tersebut. Dengan mendayagunakan kelebihan yang dimilikinya, Persia pun dapat menorehkan tinta emas sejarah. Hanya saja, pada saat yang lain, kelemahannya terkadang harus membuatnya berjalan di bawah keistimewaan bangsa lain.

8. Daftar Pustaka

Brigadier, Matthew Arnold. 1951. A History of Persia. London: Oxford Publishing.

Bukhari, Shahih. Maktabah Syamilah Vol II.

Hitti, Philip K. 2010. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Karim, M. Abdul. 2009. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Website:

http://wapedia.mobil/id/bangsa-persia, diakses pada tanggal 5 Oktober 2010.

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=364&Itemid=32, diakses pada tanggal 6 Oktober 2010.


[1] Bangsa Media (Bahasa Kurdi Medya, Mêdî atau Mad, Bahasa Persia مادها, Mādḥā) adalah suku Iran purba yang tingal di kawasan Teheran, Hamedan, Azarbaijan, Provinsi Isfahan Utara, dan Zanjan. Bangsa ini juga dikenal sebagai Media atau Medea oleh orang Yunani. Pada abad ke-6 SM., bangsa Media berhasil meluaskan kekaisaran mereka dari Arran di Azerbaijan hingga ke Asia Tengah dan Afghanistan. Bangsa Media telah dinyatakan sebagai pendiri negara dan kekaisaran Iran/Persia.

[2] Asiria adalah kerajaan yang berpusat di hulu sungai Tigris, Mesopotamia, Irak. Nama kerajaan ini berasal dari ibukotanya, kota Assur (Akkadia: Aššūrāyu; Arab: أشور Aššûr; Ibrani: אַשּׁוּר Aššûr, Aram: ܐܫܘܪ Ašur). Istilah Asiria juga dapat merujuk pada region di mana kerajaan ini berpusat. Pada masa Asiria Tua (abad ke-20 hingga ke-15 SM.), Assur menguasai sebagian besar Mesopotamia Hulu dan sebagian dari Asia Kecil. Pada periode Asiria Pertengahan (abad ke-15 hingga ke-10 SM.), pengaruhnya memudar dan digapai kembali melalui berbagai penaklukan. Asiria pada zaman besi awal (911 – 612 SM.) meluas lebih jauh, dan di bawah kepemimpinan Ashurbanipal (668 – 627 SM.) selama beberapa dekade menguasai seluruh wilayah Bulan Sabit Subur hingga akhirnya kalah dengan perluasan kekuasaan Neo-Babilonia dan Media.

[3] http://wapedia.mobil/id/bangsa-persia, diakses pada tanggal 5 Oktober 2010. Data ini secara terperinci dilansir pada tahun 2005.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

[7] Shahih Bukhari, jilid XV hal. 176, Maktabah Syamilah Vol II.

[8] Shahih Bukhari, jilid XII hal. 337, Maktabah Syamilah Vol II.

 

This slideshow requires JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

ALIF CAHYA SETIADI, MANSHURUDDIN, KHODIJAH, DAN TRI YANTI NURUL HIDAYATI

A. Definisi Bangsa Arab

Istilah Arab merupakan symbol yang menunjukkan esensi dan keberadaan sebuah bangsa dengan kebesarannya pada masanya. Istilah ini telah memberikan gambaran yang jelas bahwasaanya kata Arab berasal dari bahasa yang digunakan oleh sebuah komunitas dalam sarana komunikasi mereka yaitu bahasa Arab. Dalam kamus al-munjid disebutkan bahwasannya ‘Arab atau ‘Aruba berarti orang yang menggunakan bahasa Arab dengan fasih.[1]

Di samping itu terdapat definisi lain tentang kata ‘Arab, di mana menurut bahasa, ‘Arab artinya adalah padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal.[2] Hal ini sesuai dengan pengertian kata ‘Arab sebagaimana disebutkan dalam al-munjid bahwasannya kata ‘Urbu dan ‘Arab memiliki arti sekumpulan kaum yang memiliki tempat tinggal seperti wilayah yang berada di sebelah timur dari laut merah.[3]

Menurut seorang penulis Al-Balādhurī, tulisan Arab yang pada akhirnya menunjukkan esensi istilah Arab berasal dari tulisan bahasa Syiria yang terdapat di kota Lakhmid ibu kota kerajaan Al-Hīrah. Dari kota tersebut tulisan itu dibawa Bishr Ibn ‘Abdul Malik dan mengajarkannya kepada penduduk di kota Makkah. Namun disebutkan juga dalam literature yang berbeda bahwasannya tulisan Arab yang merupakan representasi dari bahasa Arab itu sendiri berasal dari Aramik yang berasal dari Kushif Nabatea.[4] Secara sederhana, terminologi Arab hanya didefinisikan bagi mereka yang bisa berbahasa Arab sebagai bahasa ibu

Dari telaah linguistic historis ini dapat disimpulkan bahwasannya istilah ‘Arab mengandung dua pengertian utama yaitu ‘Arab sebagai konsepsi kebahasaan yang menunjukkan bahasa komunikasi sebuah masyarakat tertentu (‘Arab) yang selanjutnya dijadikan sebagai identitas kebangsaan bagi masyarakat bahasa tersebut. Dan yang kedua, ‘Arab sebagai sebuah wilayah kekuasaan bagi komunitas tertentu (‘Arab) yang memiliki kekhususan secara demografis dan topografis dan menunjukkan identitas bagi penduduk yang berdiam di wilayah tersebut.

Berangkat dari diskripsi istilah kata ‘Arab di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bangsa Arab merupakan sebuah group etnik yang memiliki bahasa komunikasi sendiri yaitu bahasa Arab dan mendiami suatu wilayah yang disebut ‘Arab sebagai tempat tinggalnya. Bangsa Arab merupakan bangsa yang mendiami wilayah semenanjung Arabia dan merupakan penduduk asli jazirah Arab.[5] Diskripsi modern menyatakan bangsa Arab ini (Arab: عرب) sebagai sebuah grup etnik yang heterogen yang berada sepanjang Timur Tengah dan Afrika Utara.[6]

Habib Hassan Touma mengungkapkan bahwa orang Arab atau bangsa ‘Arab ialah “orang yang memiliki kebangsaan Arab, yang memakai bahasa Arab, dan memiliki pengetahuan tentang Arab secara keseluruhan. Sementara itu Liga Arab pada tahun 1946 menyatakan bahwa orang Arab ialah “yang memiliki kebangsaan negara di dunia Arab, berbahasa dan menuturkan bahasa Arab dan peduli terhadap nasib bangsa Arab”.[7]

B. Sejarah Bangsa Arab

Sebelum kita mempelajari kondisi social dan budaya masyarakat Arab yang tersebar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, penting kiranya bagi kita untuk menelusuri kembali sejarah asal-usul bangsa Arab yang bertujuan mencari hubungan serta pengaruhnya terhadap kehidupan social masyarakat Arab tersebut. Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid (Kaukasia) atau Asia Barat, yang juga dikenal dengan nama “Semit” atau “Semitik”.

Dengan petunjuk silsilah Perjanjian Lama (Genesis 10), Johann Gottfried Eichorn memberikan nama “Semit” kepada keturunan Sem atau Shem, putra Nuh.[8] Shem sendiri memiliki lima putra, yaitu Arfakhsyad, Lud, Asshur, Elam dan Aram. Dari salah satu putra Shem yang bernama Arfakhsyad inilah yang kemudian garis keturunannya menjadi cikal bakal lahirnya dua suku bangsa Arab yaitu suku Qahthan dan suku Adnan, yang mana keduanya akan bertemu pada silsilah dari ‘Abir (Eber). Suku Qahthan (Qahthaniyyun) adalah berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan bin  ‘Abir bin Syalekh bin Arfakhsyad. Suku ini disebut juga suku Arab Pribumi (Al-‘Arab Al-‘Aribah). Sedangkan suku Adnan (Adnaniyyun) adalah berasal dari silsilah Ismail (bani Ismail) melalui garis keturunannya yaitu Adnan, suku ini disebut dengan suku Arab pendatang (Al-‘Arab Al-Musta’ribah).[9]

Menurut Ibnu Hisyam, semua orang Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrahim dan Qahthan. Jauh sebelum itu di kawasan Arabia pernah hidup orang-orang Arab yang lebih tua lagi, namun semuanya sudah punah. Mereka itu ialah kaum ‘Aad, kaum Tsamud (kedua-duanya disebut di dalam Al-Qur’anul-Karim), kaum Jadis, kaum kaldan dan kaum ‘Imlaq (kaum ‘Amaliqah), mereka inilah yang disebut dengan suku Arab yang punah (Al-‘Arab Al-Baidah).[10]

Kaum Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang rincian sejarah mereka tidak dapat diketahui secara sempurna, seperti kaum ’Aad, Tsamud, kaldan dan Amaliqah. Kaum ‘Aad atau ‘Ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh ‘Ad ibn Kin’ad, tinggal di daerah Al Ahqaf, daerah sebelah barat Oman dan sebelah timur Yaman, membentang dari Laut Arab sampai Pegunungan Dhofar dan pinggiran Rub` al-Khali, dalam sejarahnya, kaum ’Aad hidup pada masa Nabi Hud As. Kaum Tsamud merupakan suku Arab kuno juga yang hidup dari 2300 SM sampai 200 SM di Gunung Athlab dan di seluruh Arab Tengah. Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Shaleh As. Kuam Kaldan hidup di masa Nabi Ibrahim As. Sedangkan kaum Amaliqah hidup bersama Nabi Ismail As.

Arab ‘Aribah, yaitu kaum Qahthan, terdiri dari berbagai macam kabilah, dan yang terkenal adalah dua kabilah, yaitu Himyar dan Kahlan. Himyar (Humair) mempunyai anak keturunan yang terkenal adalah Zaid al-Jumhur, Qadla’ah dan as-Sakasih. Sedangkan Kahlan, anak keturunannya yang terkenal adalah Hamdan, Anmar, Thai’, Madzhaj, Kandah, Lakhm, Judzam, al-Azd, al-Aus, al-Khazraj, dan anak-anak Jafnah raja-raja Syam. Bangsa Arab dari Bani Qahthan telah dapat mendirikan kerajaan, di antaranya ialah Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar, semuanya di Yaman. Kaum Qahtan semula berdiam di Yaman, namun setelah hancurnya bendungan Ma’rib sekitar tahun 120 SM, mereka berimigrasi ke Utara dan mendirikan kerajaan Hirah (Manadirah) dan Gassan (Gassasinah).

Arab Musta’ribah , sebagaimana telah disebutkan di atas yaitu kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ismail, dan dinamakan Arab Adnaniyyah. Dari perkawinanya dengan anak Madladl, Isma’il dikarunia dua belas orang anak, semuanya laki-laki.” Mereka adalah Nabit (Nabajoth), Qidar (Kedar), Adba’il (Adbeel), Mabsyam (Mibsam), Masyama (Mishma), Dauma (Dumah), Maisya (Massa), Hadad, Yatma (Tema), Yathur (Jetur), Nafis (Naphis), dan Qaidama (Kedemah). Dari mereka itu terpecah menjadi dua belas kabilah, dan semuanya tinggal di Makkah. Mata pencaharian mereka adalah berdagang, dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Kemudian, kabilah-kabilah tersebut menyebar di seluruh jazirah, bahkan ada yang keluar jazirah. Nabit menurunkan bangsa Nabasia.

Sayid Sulaiman An-Nadwi, setelah mengadakan penelitian yang cermat dan detail, menetapkan bahwa raja-raja dari keluarga Ghassan dan juga Anshar yang terdiri dari al-Aus dan al-Khazraj, bukan berasal dari keluarga Qahthan, namun berasal dari keluarga Nabit bin Isma’il, dan sisa-sisa mereka yang berada di negeri tersebut. Peradaban al-Anbath, yakni anak-anak Nabith, pernah mengalami jaman keemasan, di Hijaz bagian utara. Mereka memiliki kekuasaan yang kuat dan berhasil menguasai orang-orang yang ada di sekitar wilayah tersebut, Tidak ada seorang pun yang mampu melawannya sebelum datangnya Romawi. Setelah Romawi datang mereka berhasil ditundukkan. Adapun anak-anak Qidar bin Isma’il tetap tinggal di Makkah. Disana, mereka mengembangkan keturunannya. Di antara keturunan mereka adalah Adnan dan anaknya, Ma’ad. Dari dialah keturunan Arab Adnaniyah terpilihara. Adnan adalah kakek yang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam apabila menyebutkan silsilah keturunannya dan sampai pada Adnan, beliau berhenti seraya berkata, ”Dustalah para ahli nasab, maka janganlah melapauinya.” Namun, sekolompok ulama, berpendapat bahwa melanjutkan nasab diatas Adnan boleh-boleh saja, karena mereka melemahkan hadits tersebut. Mereka mengatakan, setelah mengadakan penelitian yang cermat, bahwa antara Adnan dan Ibrahim terdapat empat puluh ayah.”

Ketika anak keturunan Adnan mulai banyak, mereka menyebar di seluruh penjuru negeri Arab, mengais rezeki di tempat-tempat yang subur. Abdul-Qais, anak keturunan Bakr bin Wail, dan anak keturunan Tamim berpindah ke Bahrain dan berdomisili disana. Banu Hanifah bin Sha’b bin Ali bin Bakr keluar menuju Yamamah, kemudian tinggal di Hajar Ibu kota Yamamah. Seluruh anak keturunan Bakr bin Wail tinggal di sepanjang wilayah Yamamah sampai ke Bahrain, Saif Kazhimah dan Al-Bahr. Taghlab tinggal di jazirah Euprat, sedangkan Bani Tamim tinggal di sahara Basharah. Bani Asad tinggal di sebelah timur Taima’ dan sebelah barat Kufah. Di antara tempat tingal Bani Asad dan Taima’ terdapat perkampungan Buhtur dari kabilah Thai; sedangkan perjalanan antara tempat tinggal Bani Tamim dan Kufah dapat ditempuh selama lim malam. Dziban tinggal di dekat Taima’ sampai ke Hauran, Anak keturunan Kinanah tinggal di Tihamah.

Sementara itu Makkah dan sekitarnya dihuni oleh Quraisy, mereka tidaklah bersatu sebelum Qushay bin Kilab lahir di tengah-tengah mereka. Qushay bin Kilab berhasil menyatakan mereka, dan mengangkat derajat mereka. Quraisy terpecah menjadi berbagai kabilah, di antaranya yang terkenal adalah Jamah, Saham, Adi, Makhzum, Taim, Zahrah, dan anak keturunan Qushay bin Kilab yaitu Abdud-Dar bin Qushay. Dari Abdu Manaf ada empat kabilah, yaitu : Abdu Syams, Naufal, al-Muthalib, dan Hasyim. Dari Hasyim terpilih pemimpin kita, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Hijaz menunjukkan wilayah yang tetap merdeka sejak dahulu karena miskin daerahnya, namun terdapat tempat suci, yakni Mekkah yang di dalamnya berdiri Ka’bah sebagai pusat beribadah sejak dahulu, di samping itu ada sumur Zamzam yang ada sejak Nabi Ismail. Di kawasan itu juga terdapat Yasrib yang merupakan daerah subur sejak dahulu.[11] Mekkah selalu ramai didatangi oleh para peziarah haji pada bulan-bulan haji. Sudah ada pengaturan kekuasaan di Mekkah sejak dahulu. Suku Amaliqah adalah yang paling berkuasa di sana sebelum lahirnya Ismail. Kemudian datang suku Jurhum ke Mekkah dan datang menggeser kedudukan Amaliqah. Ketika Jurhum berkuasa itu lahirlah Ismail lalu kawin dengan anggota suku tersebut. Cukup lama Jurhum menguasai Mekkah, yang nantinya oleh suku Khuza’ah pada tahun 207 SM. Di bawah pimpinan Qusai. Ialah yang mengatur urusan yang berkenaan dengan Ka’bah. Ia meninggal dunia tahun 480 M. dan diganti oleh kakaknya, Abdul Dar. Tetapi sepeninggal Abdul Dar terjadi perselisihan antara cucu-cucu Qusai dan anak-anak saudaranya, Abdul Manaf. Mengenai sipakah yang berhak mewarisi kekuasaan atas Mekkah.[12]

Pertentangan itu diselesaikan dengan membagi kekuasaan, yakni pengaturan air dan pajak atas Mekkah diserahkan kepada Abdus Syam, penjagaan Ka’bah diserahkan kepada cucu-cucu Abdul Dar. Sedangkan Abdus Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim. Tetapi anak Abdus Syam Umaiyah, berlaku sombong memusuhi pamannya sendiri Hasyim. Urusan-urusan itu akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, Abdul Mutalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Ia merupakan orang yang terhormat, bijaksana, dalam memegang tampuk pemerintahan atas Mekkah sehingga dapat bertahan sampai 59 tahun memerintah kota itu. Ia mempunyai banyak anak dan diantaranya anak-anaknya itu ialah Abdullah, ayah Muhammad SAW.[13]

C. Jazirah Arab: Latar Belakang Geografis

Wilayah jazirah Arabia dahulu merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang dari Barat, Sahara di Afrika hingga ke Timur melintasi Asia, Iran Tengah dan Gurun Gobi di Cina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada di sekitarnya (Laut Merah, Lautan Hindia dan Laut Arab) tidak memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu itu. Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu untuk mencari nafkah, bukan bertani dan berdagang yang tidak diyakini sebagai kehormatan bagi mereka, memang negeri itu susah untuk ditanami.

Jazirah Arab adalah sebuah jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Perbatasan pesisir jazirah ini ialah: di barat daya Laut Merah dan Teluk Aqabah; di tenggara Laut Arab; dan di timur laut Teluk Oman dan Teluk Persia. Secara gografis Arabia merupakan jazirah atau semenanjung yang memiliki leher dan mahkotanya yang biasa disebut “sabit subur”. Jazirah ini memiliki lebar 1.200 mil dengan panjang 1.500 mil.[14] Secara politik, Jazirah Arab terdiri dari negara-negara berikut ini: Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain. Secara geologi, daerah ini lebih tepat disebut Anak Benua Arab sebab memiliki plat tektonik tersendiri, Plat Arab.[15]

Secara topografis, jazirah Arab terdiri dari padang pasir dan tanah subur. Kawasan padang pasirnya lebih luas dan merupakan kawasan utamanya. Sedangkan kawasan suburnya terletak di “Sabit” sebelah Utara, Hijaz di barat, dan Yaman di Barat Daya merupakan kawasan yang lebih lebih kecil dan ujung dari jazirah. Topografi daerah gurun yang dihuni oleh komunitas yang jarang sedangkan di daerah subur penduduknya relatif padat. Daerah gunung memiliki tingkat kesuburan yang jauh berada di wilayah subur, akan tetapi wilayah ini memiliki banyak oasis yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan dan memiliki persediaan air yang memadai serta memberikan tanda terwujudnya rute komunikasi antar kawasan. Jadi kedua topografis tersebut memiliki peranan yang penting bagi kehidupan bangsa Arab baik dari segi perekonomian, komunikasi, transportasi dan lain sebagainya.[16]

Pembagian wilayah secara topografis semenanjung Arab menjadi gurun dan tanah subur telah melahirkan perbedaan kehidupan dan sejarah antar kedua bagian tersebut. Kehidupan gurun yang selalu diliputi kekerasan dan kesunyian serta kebebasan dan kesunyian telah memberikan keleluasaan untuk merenung untuk mencapai tingkat muru’ah – kejantanan, kebajikan, keberanian, kesetiaan, dan kesederhanaan. Kehidupan gurun juga ditopang oleh stepa berhujan yang mempu menghasilkan aneka ragam flora dan fauna untuk mendukung kehidupan mereka.[17] Sedangkan penduduk negeri adalah penduduk yang cara hidupnya menetap, tidak berpindah-pindah dan tidak mengembara. Mereka mendiami Jazirah Arab bagian tepi seperti Hijaz, Hirah, Yaman, dll. Penduduk negeri memiliki mata pencaharian berdagang dan bercocok tanam. Kehidupan penduduk negeri lebih teratur bila dibandingkan dengan kehidupan orang gurun. Dan mereka juga sudah mampu membangun dan mengembangkan kebudayaan, juga mereka telah mampu mendirikan kerajaan.[18]

D. Kehidupan Sosial  Masyarakat Arab

Jazirah Arab secara geografis dan demografis telah membentuk suatu kawasan dan bersambung antara yang satu dengan yang lain. Suatu kesatuan wilayah dengan masyarakatnya yang berkebudayaan dan berperadaban sehingga mampu menunjukkan eksistensinya sebagai suatu bangsa yang besar. Kebesaran bangsa Arab dengan segala kebudayaan dan peradabannya tidak lepas dari kontribusi masyarakat Arab dengan sistem sosialnya.

Sistem sosial masyarakat Arab telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dalam hal ini perkembangan sistem sosial masyarakat dapat diklarifikasikan menjadi tiga fase utama, di antaranya:

1. Masyarakat Arab sebelum Islam

Pada dasarnya masyarakat Arab berdasarkan pemukiman yang mereka huni dibagi menjadi dua kategori utama sebagaimana telah disinggung di atas yaitu: Al-Badawi dan Al-Hadlar. Kaum badawi adalah penduduk padang pasir, mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap tetapi hidup secara nomaden yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat yang lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput baru. Mata penghidupan mereka adalah beternak kambing, biri-biri, kuda dan unta. Kehidupan masyarakat nomaden tidak banyak memberikan perluang untuk membangun sebuah peradaban. Sedangkan ahl al-hadlar ialah penduduk yang sudah bertempat tinggal menetap di kota-kota atau daerah-daerah pemukiman yang subur. Mereka hidup berdagang,  bercocok tanam, dan industry dan  mereka memiliki peluang besar untuk membentuk sebuah peradaban.[19]

Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai inti dari sebuah komunitas yang lebih besar. Kabilah merupakan organisasi keluarga besar yang memiliki keterikatan hubungan berdasarkan pertalian darah (Nasab), tetapi terdapat juga hubungan yang didasarkan pada ikatan perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia. Kabilah dalam kehidupan masyarakat Arab merupakan ikatan keluarga sekaligus sebagai ikatan politik yang dipimpin oleh  seorang kepala yang disebut syaikh al-qabilah.[20]

Di samping itu, masyarakat Arab sebelum Islam memiliki sebuah solidaritas sosial yang sangat kuat. Solidaritas yang didasarkan pada ikatan kesukuan atau ashabiyah qabaliyah sebagai wadah politik setelah nasab. Solidaritas tersebut diwujudkan dalam bentuk proteksi kabilah atas seluruh anggota kabilahnya. Kesalahan anggota kabilah terhadap kabilah lain menjadi tanggung jawab kabilahnya.[21] Selain itu bentuk solidaritas ini memiliki peran sebagai upaya untuk mewujudkan suatu komunitas yang kuat yang mampu mengalahkan para penghalang dalam kehidupan mereka. Suatu bentuk solidaritas sosial untuk mewujudkan kedaulatan yang kuat. Solidaritas di sini juga bertujuan untuk mencegah adanya bahaya yang mengancam di mana ia membutuhkan seorang pemimpin yang yang bisa mencegah adanya sifat kebinatangan manusia yang berusah untuk menyakiti antar sesama. Pemimpin inilah yang akan membawa pada kedaulatan suatu solidaritas suatu masyarakat tertentu.[22]

Kekuatan solidaritas tersebut telah melahirkan kedamaian bagi masyarakatnya, sehingga perkembangan kehidupan terjaga. Rasa aman dari ancaman memberikan aspek positif bagi komunitas masyarakat tertentu untuk menjalankan roda kehidupannya masing-masing. Salah satu bukti yang nyata adalah adanya pasar tempat mereka berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli dan membacakan syair. Di antara pasar-pasar yang utama terletak di dekat Makkah dan yang terpenting adalah pasar Ukadh, Majinnah dan Dzul Majaz. Letak pasar-pasar tersebut sangatlah strategis yaitu jalur perdagangan utama Yaman-Hijaz-Syiria.[23]

Kehidupan moral bangsa Arab sebelum Islam merupakan sebuah potret kehidupan yang jauh dari cahaya. Mereka mencatat periode tersebut sebagai al-ayyam al-jahiliyah / the days of the darkness. Periode di mana mereka tidak mengetahui agama, tata cara kemasyarakatan, politik, pengetahuan tentang ke-Esaan Allah SWT sehingga penduduknya dikatakan sebagai penduduk Jahiliyah.[24] Walaupun pada dasarnya mereka memiliki agama yang mereka yakini dan juga sistem sosial politik.

2. Masyarakat Arab Setelah Islam

Pada tahun 632, bangsa Arab mendiami semenanjung Arab serta padang pasir Syiria dan sekitarnya. Namun saat berlangsungnya penaklukan, semakin bertambah banyak orang yang berbahasa Arab dan banyak pula yang sebenarnya tidak memiliki “darah Arab” tetapi menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa aslinya. Pada beberapa area di mana asimilasi antara penakluk dan masyarakat yang ditaklukkan berlangsung sangat cepat, perbedaan antara Arab dan non-Arab menjadi sangat samar pada akhir abad pertama Islam.[25]

Fenomena sosial tersebut muncul menjelang awal abad ke-7 M di mana telah terjadi suatu kombinasi pertemuan kebudayaan yang mampu mampu memberi tatanan politik baru yang mencakup seluruh jazirah Arab, seluruh tanah Sassaniyah, Provinsi-provinsi Syuriah dan Mesir milik imperium Bizantium. Suatu kebudayaan baru oleh kekuasaan baru yang dibawa oleh bangsa Arab dari Arabia Barat, sebagian besar dari Mekkah. Penguasa Arab ini menisbahkan tatanan barunya dengan wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad SAW.[26] Suatu tatanan masyarakat sebagai wadah dari pengembangan kebudayaan dengan meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam di dalamnya.

Dasar-dasar kebudayaan yang diletakkan oleh Rasulullah SAW pada umumnya merupakan sejumlah nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan, sosial, ekonomi, dan politik yang bersumber pada Al-Qur’an. Lembaga utama yang didirikan oleh Rasulullah SAW adalah masjid Quba di Yatsrib sebagai tempat beribadah dan pertemuan bagi Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan kaum muslimin. Di masjid ini pula kaum muslimin melakukan kegiatan belajar mengajar, mengadili suatu perkara, berjual beli, bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan umat dan berbagai kegiatan lainnya.[27]

Dalam kebijakan politik Rasulullah SAW telah menunjukkan dirinya sebagai seorang ahli politik dan diplomat yang bijak. Hal itu terlihat dengan adanya Piagam Madinah (Madinah Carter) sebagai bentuk kemerdekaan dan kebebasan setiap golongan dalam memeluk agamanya masing-masing. Suatu bentuk perdamaian damai dengan penduduk non-muslim dalam rangka menyelenggarakan keamanan dan membela serta mempertahankan negeri terhadap ancaman dan serangan musuh. Rasulullah SAW meletakkan sistem masyarakat Islam yang dibentuk atas dasar prinsip-prinsip al-ikha, al-musawah, al-tasamuh, al-tasyawur, al-ta’awun, dan al-‘adalah. Seluruh prinsip hidup dalam sebuah masyarakat tersebut merupakan sebuah upaya mengikis dan menghilangkan sistem sosial masyarakat Arab sebelum Islam.[28]

Piagam Madinah (Madinah Carter) sebagai landasan dasar tatanan masyarakat Islam yang dicetuskan Rasulullah SAW telah membawa kepada suatu bentuk negara Islam dengan sistem pemerintahan barunya yang berlandaskan asas-asas Islam. Negara dan pemerintahan Madinah bercorak teokrasi yang dikepalai oleh Rasullullah Muhammad SAW sebagai representasi dari kedaulatan Tuhan tanpa mengabaikan kedaulatan rakyat. hal ini dapat dilihat dengan diterapkannya sistem majelis syura yang menunjukkan ke-republikan sistem pemerintahan dan menghapus klaim monarki dalam sistem kepemimpinan Muhammad SAW. Dalam pelaksanaan administrasi negara sudah dibentuk sekretaris negara dan pembagian daerah kekuasaan menjadi sembilan bagian di mana setiap bagian dikepalai oleh gubernur (wali) dan dua puluh satu bagian yang dikepalai oleh ‘amil sebagai tax collector. Di samping itu terdapat departemen pendapatan negara, departemen kehakiman, departemen pertahanan, dan departemen keagamaan. Negara Islam yang dikepalai oleh Nabi Muhammad SAW memberikan kemerdekaan individu, kebebasan beragama, kebebasan hak sebagai warga sosial dan negara.[29]

Gambaran di atas memberikan sedikit potret sistem sosial politik masyarakat Arab pasca Islam. Di mana sistem sosial masyarakat Arab telah mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih maju dan beradab, baik perkembangan secara materi maupun moral. Pada masa Rasulullah SAW merupakan dasar terbentuknya kebudayaan dan peradaban Islam dengan mengakomodir setiap budaya local yang dinilai bermanfaat bagi kelangsungan pemerintahan Islam. Kemudian dikembangkan pada masa Khulafaur Rasyidin dan mengalami pertukaran budaya dan pemikiran Islam dengan peradaban di luar Islam pada masa Khalifah Umayah dan mencapai puncak keemasannya pada masa Abbasiyah.               Orang–orang Arab kini sekitar 40% tinggal di kota-kota besar. Hal ini, telah menyebabkan ikatan tradisional keluarga dan suku putus. Kini, para wanita dan pria memiliki pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih besar. Semua itu, juga perubahan-perubahan yang lain, menciptakan adanya “kelas menengah” baru dalam masyarakat mereka. Komunitas imigran Arab (orang Arab yang tinggal di negara-negara bukan Arab) masuk dalam ketegori “kelas menengah”. Karena para imigran Arab sangat terbuka terhadap budaya barat, sehingga budaya dan gaya hidup tradisional mereka telah mengalami banyak perubahan. Akibatnya, ikatan budaya mereka merenggang .[30]

E. Pembagian Kawasan Kebudayaan Bangsa Arab

Kawasan budaya bangsa Arab pertama kali ialah wilayah yang meliputi Jazirah Arabia. Ketika Islam datang dan menyebar ke wilayah sekitarnya, maka telah menjadi konsekuensi logis meresapnya kebudayaan Islam yang dibawa oleh orang Arab seperti Mesir, Afrika Utara, Irak dan Syiria. Oleh sebab itu wilayah kebudayaan bangsa Arab secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Kawasan budaya Arab sebelum Islam

Bangsa Arab terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh jazirah Arabia. Mereka mendiami wilayah pinggir dari Jazirah dan sedikit yang tinggal di pedalaman. Pada masa sebelum Islam, kebudayaan tanah Arab yang ditinjau dari segi geografis dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:

  1. Arab Petrix atau Petraea, yakni wilayah yang terletak di sebelah Barat Daya Gurun Syria, dengan Petra sebagai pusatnya.
  2. Arab Diserta atau Gurun Syria, yang kemudian dipakai untuk menyebut seluruh Jazirah Arab karena tanahnya tidak subur.
  3. Arab Felix, wilayah hijau (Green Land) atau wilayah yang berbahagia (Happy Land), yakni wilayah Yaman yang memiliki kebudayaan maju dengan kerajaan Saba’ dan Ma’in.[31]

Di samping itu masyarakat Arab, secara geografis juga terbagi menjadi dua kelompok yaitu Arab Utara dan Arab Selatan. Pemisahan wilayah menjadi dua kategori tersebut terlihat dari karakteristik orang-orang yang mendiami masing-masing wilayah tersebut.

a) Arab Utara

Orang-orang Arab utara kebanyakan adalah orang nomand yang tinggal di rumah-rumah bulu di Hijaz dan Nejed. Orang Arab Utara berbicara dengan bahasa Al-Qur’an yaitu bahasa Arab yang paling unggul walaupun pada dasarnya orang Arab Utara tidak pernah mengemuka dalam percaturan internasional hingga datangnya Islam. Mereka termasuk ke dalam ras Mediterania dolichocephalic (berkepala panjang).

b). Arab Selatan

Pada bagian Arab Selatan, penduduknya adalah orang-orang perkotaan yang tinggal di wilayah Yaman, Hadramaut, dan sepanjang pesisirnya. Mereka menggunakan bahasa Semit kuno, Sabaea atau Himyar yang dekat dengan bahasa Ethiopia di Afrika. Walaupun masih termasuk ke dalam ras Mediterania tetapi memiliki unsure pesisir yang cukup tegas yaitu branchycepalic (berkepala bulat) dengan rahang yang besar, hidung melengkung dan termasuk ke dalam karakteristik utama rumpun armenoid. Orang Arab Selatan datang melalui laut dari arah Timur Laut dan mereka adalah orang pertama yang mencapai kemajuan dan mengembangkan peradaban sendiri.[32] Bentuk peradaban yang nyata adalah adanya beberapa kerajaan besar seperti kerajaan Saba,  Minea, Qataban, dan Hadramaut.[33]

Anwar Rasyid dalam bukunya Kitab Tarikh membagi Tanah Arab menjadi delapan bagian utama, di mana pembagian tersebut didasarkan kepada adanya kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami daerah tersebut. Di antara pembagian wilayah tersebut adalah:

  • Tihamah, tepi pantai sebelah Barat yang terletak diantara Hijaz dan Laut Merah.
  • Hijaz, tanahnya pegunungan yang menghubungkan Yaman dengan pegunungan di Syiria. Di sana terdiri dari kota Mekah, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, kota Madinah tempat beliau SAW dimakamkan, Thaif kota yang subur dan indah serta kota Jeddah pelabuhannya.
  • Nejdi, ialah Bandar dataran tinggi yang terletak di tengah-tengah sebelah Timur Hijaz. Dataran tinggi ini penuh dengan gunung-gunung dan padang pasir yang diselingi oleh oasis-oasis yang hijau, kotanya adalah Riyadh.
  • Yaman, ialah ujung sebelah selatan, tanahnya amat subur dan makmur, sehingga mendapat gelar “Tanah Arab yang Berbahagia”. Kotanya adalah San’a, Hudaidah dan Ma’rib.
  • Hadramaut, terletak di sebelah Timur Yaman
  • Omman, yang terletak di sebelah Timur Omman.
  • Yamamah, yang terletak di sebelah Barat Bahrain.[34]

2. Kawasan Budaya Arab Pada Masa Silam

Menjelang abad ke-10 M sebuah dunia Islam telah terwujud dan disatukan oleh sebuah kebudayaan keagamaan yang tercermin dalam bahasa Arab. Dunia Islam telah berhasil mencatat suatu prestasi yang mengagumkan dalam mempertahankan negeri-negeri dan tradisi-tradisi dengan kepentingan yang berbeda-beda dalam satu imperium tunggal dalam waktu yang cukup lama. Pada masa Islam, dunia Arab terbagi menjadi tiga wilayah yang luas dan memiliki pusat-pusat kekuasaannya masing-masing. Pembagian tersebut adalah:

  1. Wilayah pertama yang mencakup Iran, wilayah yang terletak di belakang Oxus dan Irak Selatan untuk beberapa lama hingga abad ke-10. Pusat kekuasaanya berada di Bagdad yang merupakan pusat pertanian yang sangat subur dan jaringan perdagangan yang sangat luas dengan pengaruh dan prestise yang terakumulasi oleh dinasti Abbasiyah.
  2. Wilayah kedua mencakup Mesir, Suriah, dan Arabia Selatan dengan pusat kekuasaan di Mesir yang didirikan oleh dinasti Fathimiyah di tengah-tengah daerah pertanian yang subur dan jantung peradagangan yang terjalin antara Samudra Hindia dan Laut Mediterania.
  3. Wilayah ketiga mencakup Maghrib dan sebagian wilayah Spanyol yang dikuasai oleh muslim yang dikenal dengan Andalusia. Wilayah ini merupakan wilayah pertanian dan titik-titik strategis untuk mengontrol perdagangan antara Afrika dan berbagai bagian dunia Mediterania.[35]

3. Kawasan budaya Arab Modern

Kawasan budaya Arab modern menurut Peretz adalah wilayah yang meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir, dan kerajaan-kerajaan yang berada di kawasan Teluk Persia. Di samping itu kawasan budaya Arab juga terdiri dari Timur Tengah dan juga Afrika Utara. Wilayah Afrika Utara membentang dari Mesir hingga Maroko yang meliputi Sudan, Tunisia, Libya, dan Aljazair.[36] Dalam konteks ini kawasan bangsa dan budaya Arab meliputi wilayah jazirah Arab dan Afrika Utara beserta negara-negara yang berada di kawasan tersebut. Pembagian tersebut didasarkan pada pengaruh infansi bangsa Arab muslim ke sejumlah daerah di wilayah tersebut.

Pembagian bangsa Arab dan kebudayaannya pada masa modern tersebut mencakup wilayah-wilayah seperti Jazirah Arab, Bulan Sabit Subur, Teluk Parsia, dan Afrika Utara. Meliputi wilayah Saudi Arabia, Yaman, dan Irak ditambah dengan  wilayah Bulan Sabit Subur yang meliputi Mesir, Yordania, Palestina, Syiria, dan Libanon. Kawasan teluk Persia yang meliputi Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait serta wilayah Afrika Utara seperti Maroko, AlJazair, Tunisia, Libya dan Sudan.[37]

Alasdair Drysdale dan Gerald H Blake dalam bukunya menyatakan bahwasannya kawasan jazirah Arab atau yang kita kenal dengan Middle East memiliki keterkaitan dengan Afrika Utara (North Afrika) baik secara historis maupun budaya. Suatu bentuk keterikatan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Kedua wilayah tersebut disatukan dengan bahasa komunikasi yang masih dalam satu rumpun yaitu wilayah bahasa Arab. Kemudian mereka dalam satu keyakinan yaitu Agama Islam serta memiliki persamaan aspirasi politik dengan masyarakat di Jazirah Arab. Kedua wilayah juga disatukan oleh  sebuah organisasi negara-negara penghasil minyak bumi OPEC dan OAPEC selain factor geografis yang berada di wilayah Laut Mediterania. Walaupun pada dasarnya setiap negara memiliki bangsa pribumi asli sebelum bangsa Arab dan kebudayaannya melakukan asimilasi dan akulturasi dengan mereka.[38]

F. Karakteristik Bangsa Arab, Telaah Geografis

Bangsa Badui sebagai representasi kehidupan psikologis masyarakat Arab baik sebagai masyarakat nomand maupun urban. Orang Badui bukanlah bangsa gipsi yang mengembara tanpa mengetahui arah. Mereka telah mewakili bentuk adaptasi kehidupan terbaik manusia terhadap kondisi geografisnya yang dimonopoli oleh gurun. Perbedaan domisili antara perkotaan dan masyarakat gurun hanya dimotivasi oleh desakan kuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan perlindungan diri.

Orang Arab Badui merupakan gambaran nyata dari kondisi alam gurun yang penuh dengan kekerasan dan keganasannya. Sebuah karakteristik masyarakat yang dibentuk oleh keadaan geografis lingkungan tempat tinggalnya. Di antara karakteristik masyarakat Arab Badui adalah sebagai berikut:

1. Memiliki Etnosentrisme Historis Yang Kuat

Masyarakat Badui enggan untuk mengikuti pengaruh dan cara hidup asing, dan memilih untuk hidup dengan tradisi yang telah ditanamkan oleh para leluhurnya. Masyarakat ini selalu bertahan dengan tata kehidupan para pendahulunya baik dalam memilih tempat tinggal, berternak hewan, serta menganggap pertanian, perdagangan dan bahkan kerajinan akan menurunkan derajat mereka.[39]

2. Memiliki Ikatan Darah Dan Kesukuan Yang Kuat

Gurun pasir yang gersang dan keras tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga sebagai penjaga tradisi sacral mereka, pemelihara kemurnian bahasa dan darah mereka, dan benteng pertahanan yang utama dan paling utama dari serangan musuh dari luar. Kondisi yang panas, langka akan persedian air dan makanan telah menjadikan karakter bangsa Arab enggan untuk menundukkan kepala pada kendali bangsa asing.[40] Bagi orang badui tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya. Mereka yang tidak memiliki suku manapun sungguh statusnya seperti buronan tanpa perlindungan dan keselamatan.[41]

Dalam pandangan sosiologis Ibnu Khaldun bentuk ikatan klan tersebut merupakan bentuk kefanatikan kesukuan (ashabiyah) yang telah menjadi sifat antisocial yang individualism. Bentuk ciri khas klan Arab yang terus berkembang setelah kelahiran Islam dan merupakan salah satu factor penting yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran total berbagai kerajaan Islam.

3. Memiliki Nilai Kesukuan Yang Tinggi

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, mereka dikenal keras dan kejam terhadap musuhnya. Orang badui merupakan sahabat yang setia dan pemurah (dhiyafah) yang dibarengi dengan ketabahan (hamasah) dan kewibawaan laki-laki (muru’ah) yang dipandang sebagai salah satu nilai kesukuan yang tinggi. Kondisi alam yang keras dan tidak bersahabat telah menumbuhkan kepentingan  bersama untuk menjalankan satu tugas suci yaitu bersikap ramah dalam menyambut tamu.[42]

4. Bangsa Yang Demokrat

Bangsa Arab secara umum dan masyarakat Badui terlahir sebagai seorang democrat di mana ia berhadapan dengan syaikh dalam kedudukan yang setara. Gelar malik (raja) tidak pernah digunakan orang Arab kecuali ketika merujuk pada penguasa-penguasa asing khususnya warga Ghassan dan warga Kindah yang telah dipengaruhi oleh Romawi dan Persia.

5. Berwatak Aristokrat

Selain bersifat demokratis, bangsa Arab juga memiliki sifat aristocrat. Ia memandang dirinya sebagai perwujudan dari pola penciptaan unggulan. Baginya bangsa Arab adalah bangsa terbaik (afkhar al-umam). Kemurnian darah, kefasihan bahasa, keindahan puisi, kekuatan pedang dan kudanya serta kemuliaan keturunannya (nasab) merupakan kebanggaan utama bangsa Arab. Mereka menganggap geneologi mereka setara dengan ilmu pengetahuan.[43]

6. Bangsa yang Egaliter

Bangsa Arab merupakan bangsa yang menjunjung tinggi harkat martabat orang lain, mensejajarkan posisi dan status sosial dalam kehidupan masyarakat.[44]

7. Memiliki gaya bahasa kiasan yang tidak bersifat lugas dan langsung

Gaya komunikasi orang Arab berbeda dengan pembicaraan orang-orang Barat (Amerika dan Jerman) yang berbicara dengan langsung dan lugas. Dalam hal berbicara, orang-orang Arab kurang menyampaikan pesan secara langsung dan lugas. Dengan kata lain, orang Arab masih tidak berbicara apa adanya, masih kurang jelas dan kurang langsung.[45]

G. Ciri–Ciri Psikologis dan Fisik Bangsa Arab.

Di samping sifat umum masyarakat Arab yang tersebut di atas, masyarakat Arab ciri-ciri fisik maupun non fisik yang berbeda dengan kebanyakan bangsa di kawasan Asia Barat. Di antara sifat-sifat psikis bangsa Arab adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keteguhan pendirian dan kesabaran yang telah menjadi nilai luhur yang mereka pegang sehingga mereka mampu bertahan dalam kondisi alam yang begitu keras.
  2. Kepasifan dalam menanggung beban hidup  lebih penting daripada mengubah kondisi yang ada seberat apapun beban yang akan mereka tanggung.
  3. Individualisme yang tinggi sehingga mereka tidak pernah bisa mengangkat dirinya sejajar dengan masyarakat sosial menurut standar nasional. Itulah yang menyebabkan mereka enggan untuk mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi mereka.
  4. Memiliki disiplin yang kuat sebagai bentuk penghormatan terhadap ketertiban dan otoritas.
  5. Memiliki keberanian berani sebagai bentuk adaptasi terhadap kerasnya persaingan hidup masyarakat gurun yang keras dan kejam.[46]
  6. memilik banyak isyarat non-verbal khas Arab lainnya yang berbeda makna dengan isyarat non-verbal dalam bahasa Indonesia.[47]

Dalam kaitannya dengan ciri-ciri fisik bangsa Arab, dapat dikemukakan beberapa kekhasan yang dimiliki oleh bangsa keturunan Semit tersebut. Di antara ciri-ciri fisik bangsa Arab adalah:

  1. Memiliki postur tubuh tegap, besar, tinggi.
  2. Berambut keriting.
  3. Berhidung mancung.[48]

H. Peradaban Bangsa Arab

Peradaban pada dasarnya memiliki diferensiasi makna yang lebih luas daripada sekedar fakta-fakta empiris. Tetapi ia juga mencakup pergulatan makna, nilai dan kebenaran yang akan menunjukkan ke-eksistensian manusia dalam sebuah komunitas masyarakat yang beradab. Dari sini dapat dilihat bahwasannya peradaban tidak hanya terukur oleh material yang nyata (material ekstrinsic) tetapi harus dilihat dari segi-segi nilai luhur yang terkandung di dalamnya (formal intrinsic). Artinya peradaban memiliki dua wujud yang hakiki yaitu hard culture dan soft culture.[49]

Hard culture atau peradaban materialistic yang nyata terlihat dalam bentuk tata cipta dan karya manusia yang menghasilkan berbagai bentuk kehidupan manusia yang lebih kepada tataran praktis yang berupa perkembangan teknologi, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Sedangkan soft culture lebih halus yang merupakan hasil dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat seperti halnya seni, agama, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain sebagainya. [50]

Bangsa Arab sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab mampu membuktikannya dengan hasil-hasil cipta, rasa, dan karsa mereka baik dalam bentuk nilai rasa (soft culture) yang murni hingga pada tataran materialistic (hard culture), pra Islam maupun pasca penguasaan Islam. Misalnya adalah bangunan-bangunan bersejarah pada masa Islam seperti Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Agung Damaskus, Masjid Jami’ Cordoba, Masjid Al-Atiq di Mesir (21 H) Masjid Umayah di Damaskus dan Kubah Batu di Yerussalem pada masa Umayah. Masjid Agung Samarra, Masjid Abu Al-Dulaf  dan Masjid Ibnu Thulun pada masa Abbasyiyah. Selain itu pembangunan “Istana Hijau” pada masa umayyah (704 M), Al-Qashr Al-Kabir, Al-Zahra Az Zahira, Al Hambra, Ar-Rushafa di Andalusia dan lain sebagainya.[51]

Sedangkan kebudayaan Arab yang lebih halus dapat dilihat dengan hasil-hasilnya seperti hasil hasil pemikiran dan karya rasa yang mempu memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk nyata dari kebudayaan tersebut adalah filsafat, karya sastra yang berupa puisi atapupun prosa, serta ilmu pengetahuan yang terwujud dalam bentuk kosep-konsep tatanan kehidupan sosial seperti piagam Madinah (madinah carter), pembentukan lembaga-lembaga pemerintahan (diwan) dan organisasi negara Islam (daulah al-Islamiyah) dan lain sebagainya.[52] Di samping itu kebudayaan dan peradaban Arab dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni banyak bermunculan pada masa Islam seperti ilmu-ilmu metodologis, ilmu al-Qur’an, ilmu Hadist, ilmu kalam (teologi), tashawuf (mistisisme), ilmu filsafat helenistik, seni sastra, kaligrafi, ornament, seni ruang, dan handasah as-saut atau seni suara.[53]

I. Perkembangan pemikiran bangsa Arab

Pemikiran sebagai bentuk kegiatan manusia dalam mencari hubungan sebab akibat ataupun asal mula dari sesuatu materi dan esensi serta renungan terhadap suatu wujud telah membawa manusia kepada upaya untuk berfikir. Hasil berfikir manusia tersebut menunjukkan segmentasi formal cause menjadi material cause.

Istilah pemikiran merupakan bagian dari konsep kebudayaan dan peradaban yang mengedepankan aspek ‘aqli dalam diri manusia. Pemikiran baik secara isoteris maupun eksoteris telah mempengaruhi perkembangan kebudayaan dan peradaban bangsa Arab. Pemikiran bangsa Arab pada awalnya lebih kepada upaya penalaran akal yang lebih di kenal dengan filsafat yang lebih cenderung isoteris, terutama pada masa Islam pasca kemajuan peradaban Islam masa Abbasiyah ketika terjadi sentralisasi kegiatan keilmuan pada upaya penerjemahan buku-buku Yunani dan Persia oleh bait al-hikmah. Para filosof tersebut di antaranya adalah Al-Kindi, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Bajjah dan lain sebagainya.[54]

Pemikiran secara eksoteris bangsa Arab muncul dan berkembang setelah revolusi Perancis, di mana masyarakat, pelajar, dan cendekiawan muslim mulai berkenalan dengan budaya Barat terutama budaya Perancis dan Inggris. Ragam pemikiran banyak muncul pasca revolusi Perancis. Menurut Kurzman kecenderungan pemikiran bangsa Arab terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu Islam adat (customary Islam) yang ditandai oleh kombinasi-kombinasi kebiasaan daerah dengan kebiasaan Islam, Islam Revivalis (Revivalist Islam) yang dikenal dengan Islam fundamentalisme, Islamisme atau wahabisme, dan Islam Liberal yang mengkaji masa lalu atau Islam awal untuk kepentingan modern.[55]

Para pemikir yang Islam yang termasuk dalam kelompok Islam revivalis dia antaranya adalah Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (1703- 1792). Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905) , Muhammad Rashid Rida (1865 – 1935). Para pemikir tersebut mengembangkan pemikirannya di wilayah Arab pada umumnya dan di Timur Tengah pada khususnya. Mereka merupakan para pemikir besar yang banyak mempengaruhi pemikir Islam sesudanya di seluruh dunia Islam dan mampu menggerakkan umat Islam untuk memperbaharui kehidupannya dan mengusir dominasi asing di negeri-negeri Islam.[56] Sedangkan pemikir yang termasuk dalam kelompok Islam liberal di antaranya Mohamad Arkoun (1928- 2010), Hasan Hanafi (1935-), Nashr Hamid Abu Zayd (1943- 2010), Al Jabiri (1936-2010) dan lain sebagainya.

J. Referensi

Amin, Ahmad. 1965. Fajri Al Islam. Singapura: Sulaiman Mar’i.

Arif, Syaiful. 2010. Refilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural, cetakan 1.            Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Chejne, Anwar. G.  1994. Bahasa Arab Dan Perannanya Dalam Sejarah, Terj. oleh: Aliudin Mahjudin. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Drysdale,  Alasdair dan Blake, Gerald. H. 1985. The Middle East And North Afrika, A Political Geography. New York: Oxford University Press.

Farukh, Umar. 1966. Al-‘Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Asy-Syarqi Min Al-Bahr Al-Abyad Al-Mutawassitah. Beirut: Dar Al-Kutub.

Al-faruqi, Ismail R. dan Al-Faruqi, Lois Lamya. 2000. Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, terj. Oleh: Ilyas Hasan, cetakan kedua. Bandung: Penerbit MIZAN.

Hitti, Philip K. 1960. History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, Seven Edition. London: Mcmillian & Co LTD.

Hourani,  Albert. 2004. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Oleh: Irfan Abubakar, Cetakan Pertama. Bandung: PT Mizan Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab. diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_Arab, di akses pada hari rabu 3 november 2010

http:// alfablitar. Blog.com/Masyarakat Arab-Arab-Pra-Islam-Arab-Jahiliyah. Diakses pada hari rabu, 3 november 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

http://hereuexa. Blogspot.com/2009), diakses pada Rabu 3 November 2010

Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. cetakan kedua. Yogyakarta, Pustaka Publisher Book.

Kennedy, Hugh. 2007. The Great Arab Conquest, How The Spread Of Islam Changed The World We Live In. Cetakan Pertama. Terj. Oleh: Ratih Ramelan. Tangerang: Pustaka Alvabets.

Khaldun, Ibnu. 2000. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Terjemahan Oleh Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Kruzman, C. 2003. Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global. Jakarta: Paramadina.

Ma’luf, Lewis. 2000. Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah. Cetakan ke-38. Beirut: Dār Al-Masyriq

Maryam, Siti, dkk. 2009. Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cetakan Ke-Tiga. Yogyakarta: Penerbit LESFI.

Mufrodi, Ali. 1983.  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III. Jakarta, Pustaka Al-Husna.

Rosyid, Anwar. Tanpa tahun . Kitab tarikh. Ponorogo: Darussalam Press.


[1] Lewis Ma’luf, Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah, Cetakan ke-38, (Beirut: Dār Al-Masyriq, 2000), hlm: 495

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab. diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

[3]  Lewis Ma’luf, Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah, (Beirut: Dār al-Masyriq, 1986) hlm: 395. Di samping itu disebutkan bahwa istilah Arab menunjukkan sekumpulan atau sekelompok masyarakat nomaden yang disebut A’rāb. Kata A’rāb berasal dari istilah bangsa Asiria terhadap bangsa-bangsa yang pernah mereka taklukkan. Apabila ditinjau lebih lanjut,  Al-Qur’an tidak memakai kata A’arāb, tapi hanya menggunakan kata sifatnya yaitu A’rabiyyūn. Al-Qur’an kemudian menjadi contoh yang sempurna bagi al-A’rabiyya, bahasa Arab. Kata benda netral A’arāb berhubungan suku Badui Quraisy yang melawan Nabi Muhammad SAW, contohnya pada surat At-Taubah, A’arābu Ašaddu kufrān wa nifāqān “Mereka (suku Quraisy) semakin kafir dan nifaq”. Berdasarkan terminologi Islam, kata A’arāb menunjukkan bahasa, dan A’arāb untuk kaum Arab Badui. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

[4] Di sisi lain, ahli  filologi Arab abad kesebelas, Ibnu Faris mengatakan bahwasannya tulisan dan istilah Arab merupakan Hadarat Ilahi. Di mana tuhan telah mengajarkan setiap huruf kepada Adam bersama dengan tanda baca vocal dan Ilmu ‘Arudh (prosodi). Lihat: Anwar. G. Chejne, Bahasa Arab Dan Perannanya Dalam Sejarah, terj. oleh: Aliudin Mahjudin, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994), hlm: 31.

[5] Ahmad Amin, Fajri Al Islam, (Singapura: Sulaiman Mar’i, 1965), hlm: 1

[6] Kata Arab sebagai identitas bangsa pertama kali muncul pada abad ke 9 sebelum masehi yang menunjukkan ke-heterogenitasnya Bangsa Arab yang tidal selalu terdiri dari orang-orang yang beragama Islam, tapi juga orang yang beragama Kristen dan Yahudi. Beberapa buktinya ialah perabadan Nabath yang didirikan oleh bangsa Arab beragama Kristen. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

[7] (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

[8] Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, terj. Oleh: Ilyas Hasan, cetakan kedua, (Bandung: Penerbit MIZAN, 2000), hlm: . 45

[11] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III, (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983), hlm:  6

[12]   Ibid, hlm:7-8

[13]   Ibid, hlm: 8

[14] Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 42

[15] http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_arab, di akses pada hari Rabu 3 november 2010

[16] Kedua wilayah topogrfis tersebut telah memberikan komoditas-komoditas ekonomi yang bermacam-macam, di antaranya: biji-bijian, sayur mayor, hutan cemara, hutan hijau tropis di timur laut untuk keperluan makan ternak, pohon kurma, gandum dan sebagainya. Wilayah tersebut juga memonopoli keberadaan hewan seperti unta sejak 2000 SM  dan juga hewan kuda sejak 1500 SM. Air oasis dan kedua hewan tersebut telah dijadikan sarana transportasi antar kawasan di daerah tersebut. Lebih lanjut lihat: Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 41-44.

[17] Ibid, hlm:  48-49

[18] http:// alfablitar. Blog.com/Masyarakat Arab-Arab-Pra-Islam-Arab-Jahiliyah. Diakses pada hari rabu, 3 november 2010

[19] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cetakan Ke-Tiga, (Yogyakarta: Penerbit LESFI, 2009), hlm: 18-19

[20] Umar Farukh, Al-‘Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Asy-Syarqi Min Al-Bahr Al-Abyad Al-Mutawassitah, (Beirut: Dar Al-Kutub, 1966), hlm: 19

[21] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 19

[22] Keberanian masyarakat Badui sebagai bangsa pengembara tersebut dibentuk oleh alam yang digelutinya dan mereka lebih berani daripada bangsa lain. Dikarenakan oleh keberanian mereka itulah mereka lebih mampu memiliki kekuasaan dan merampas segala sesuatu yang berada dalam gengaman bangsa lain. Tetapi keberanian mereka berkurang sesuai dengan berkurangnya sifat keliaran dan kebuasan mereka. Kemampuan mereka juga tidak lepas dari adanya solidaritas sosial di antara mereka yang bertujuan menyatukan usaha untuk suatu tujuan yang sama, mempertahankan diri, dan menolak atau mengalahkan musuh. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Terjemahan Oleh Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm: 165-166

[23]  Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 20

[24] Kebobrokan moral masyarakat Arab pada masa sebelum islam di antarnya adalah meletakkan semangat kekabilahan atau ashabiyah di atas segalanya bahkan di atas hubungan family, rendahnya martabat wanita dalam percaturan kehidupan manusia bahkan lebih rendah daripada binatang, adanya ketidakjelasan status kemurnian nasab di mana wanita boleh bersuamikan lebih dari satu  dan juga penguburan anak wanita hidup-hidup sebagai bentuk pengabdian terhadap keyakinan yang sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia. Lebih lanjut lihat M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cetakan kedua, (Yogyakarta, Pustaka Publisher Book, 2007), hlm: 49-52

[25] Hugh Kennedy, The Great Arab Conquest, How The Spread Of Islam Changed The World We Live In. Cetakan Pertama. Terj. Oleh: Ratih Ramelan. (Tangerang: Pustaka Alvabets, 2007), hlm: 8

[26] Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Oleh: Irfan Abubakar, Cetakan Pertama, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm: 60

[27] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 30

[28] Prinsip inilah yang selanjutnya dijadikan sebagai proses perubahan kebudayaan dan peradaban baru di dunia Arab yang di bawa oleh bangsa Arab dari Barat yaitu Rasulullah SAW dan pengikutnya. Sistem politik kemasyarakatan tersebut secara langsung ataupun tidak langsung telah memberikan regenerasi bahkan rekonstruksi kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab jahiliyah. Misalnya al-ikha yang berarti persaudaraan yang hakiki. Persaudaran dalam konsep masyarakat Islam tersebut merupakan suatu bentuk persaudaraan yang didasarkan pada persamaan iman dan agama. Hal ini jelas berbeda dengan konsep persaudaraan masyarakat Arab jahiliyah yang didasarkan pada semangat kefanatikan atas suku tertentu. Dengan semangat al-ikha tersebut semangat dan loyalitas kesukuan dan kabilah diganti dengan semangat dan loyalitas Islam. Sebagaimana dalam proses persaudaraan kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah. Lebih lanjut lihat Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 31-33

[29] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cetakan kedua, (Yogyakarta, Pustaka Publisher Book, 2007), hlm: 74-75

[30] (http://hereuexa. Blogspot.com/2009), diakses pada Rabu 3 November 2010

[31] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  6

[32] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, Seven Edition. (London: Mcmillian & Co LTD, 1960), hlm: 38-39.

[33] Ibid, hlm: 61-70

[34] Anwar Rosyid, Kitab tarikh, (Ponorogo: Darussalam Press, Tanpa tahun), hlm: 1

[35] Pembagian wilayah Arab pada masa Islam tersebut tidak berlangsung pada satu periode saja, melainkan berlangsung pada tiga periode kekuasaan. Periode pertama mencakup abad ke-11 M dan ke-12 M di bawah kekuasaan dinasti Seljuk dari Turki yang disokong oleh faham Islam Sunni dengan kekuasaan yang cukup luas dari Anatolia hingga Bagdad. Periode kedua mencakup abad ke-13 M dan ke-14 M di mana kekuasaan Islam mulai mengalami kemunduran dengan adanya serangan bangsa Mongol dab Turki dari rumpun Asia dalam yang ditandai dengan hancurnya dinasti Abbasiyah pada 1258 M. Pada periode ini batas-batas wilayah Muslim telah mengalami perubahan yang signifikan diberbagai wilayah karena penguasaan bangsa atau dinasti lain. Periode selanjutnya adalah periode ketiga pada abad ke-15 M dan ke-16 M di mana dunia musli dihadapkan dengan tantangan baru dari negara-negara Eropa Barat dengan hasil-hasil industry yang menguasai produksi dan perdagangan kota-kota di Eropa terutama tekstil yang bersaing dengan dunia muslim. Lebih lanjut lihat:  Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, hlm: 193-196

[36] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  4

[37] Wilayah Iran dan Turki dalam pembahasan buku Islam di kawasan Budaya Arab tidak termasuk kawasan bangsa Arab karena mereka memiliki bangsa asli sendiri. Sedangkan bangsa Arab dan budayanya merupakan budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan asli mereka yaitu Bizantium dan Persia.

[38] Alasdair Drysdale dan Gerald H Blake, The Middle East And North Afrika, A Political Geography, (NEW YORK: Oxford University Press, 1985), hal: 11

[39] Mereka lebih memilih untuk tinggal dalam tenda bulu domba atau bulu unta yang dikenal dengan “rumah-rumah bulu” sebagaimana dilakukan oleh para leluhurnya dan menggembalakan domba atau kambing dengan cara yang sama di padang rumput yang sama. Lebih lanjut lihat Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, hlm: 28-29

[40]  Ibid, hal: 29

[41]  Ibid, hal: 33

[42]  Ibid, hal: 31

[43]  Ibid, hal: 35

[44]  http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

[45]  http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

[46] Sejak kanak-kanak orang Arab dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan mereka apa adanya, misalnya dengan menangis atau berteriak. Orang Arab terbiasa bersuara keras untuk mengekspresikan kekuatan dan ketulusan, apalagi kepada orang yang mereka sukai. Bagi orang Arab, suara lemah dianggap sebagai kelemahan atau tipu daya.

[47] Misalnya, sebagai pengganti kata-kata, `Tunggu sebentar!` atau `Sabar dong!` ketika dipanggil atau sedang menyeberangi jalan (sementara kendaraan datang mendekat), orang Arab akan menguncupkan semua jari-jari tangannya dengan ujung-ujungnya menghadap ke atas. Ketika bertemu dengan kawan akrab, mereka terbiasa saling merangkul seraya mencium pipi mitranya dengan bibir. Ini suatu perilaku yang dianggap nyeleneh oleh orang lain umumnya, bahkan mungkin juga oleh orang Indonesia. Orang lain yang tidak memahami budaya Arab akan menganggap perilaku tersebut sebagai perilaku homoseksual. Walhasil, jika kita bersama orang Arab, kita harus tahan berdekatan dengan mereka. Bila kita menjauh, orang Arab boleh jadi akan tersinggung karena Anda menyangka bahwa kehadiran fisiknya menjijikkan atau kita dianggap orang yang dingin dan tidak berperasaan. Begitu lazimnya orang Arab saling berdekatan dan bersentuhan sehingga senggol menyenggol itu hal biasa di mana pun di Arab Saudi yang tidak perlu mereka iringi dengan permintaan maaf

[48] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  2

[49] Syaiful Arif, Refilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural, cetakan 1, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm: 25

[50] Dalam kajian lain dikatakan bahwasannya kedua bentuk peradaban itu dikategorikan sebagai dua esensi yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi keduanya merupakan integrasi pengertian yang menunjukkan sesuatu yang integrate yang saling melengkapi. Dikatakan bahwasannya hard culture sebagai peradaban sedangakan soft culture adalah kebudayaan. sebagaimana dikatakan oleh ahli antropologi Den Haan yang menyatakan bahwa peradaban adalah semua bidang kehidupan yang mampu memberikan kegunaan praktis baik dari segi sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Sedangkan kebudayaan memiliki derajat yang lebih tinggi yang merupakan dorongan hasrat dan gairah yang tinggi dan murni yang berada di atas peradaban secara praktis dan ia menjadi dasar terwujudnya produk keras berupa teknologi sistem ekonomi dan lain sebagainya. M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, hlm: 35

[51] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 86

[52] Bentuk lembaga-lembaga pemerintahan tersebut dapat dilihat dengan adaya diwan al-kharaj (jawatan perpajakan), diwan al-addats (jawatan kepolisian), nazar an-nafi’at (jawatan pekerjaan umum), dewan junud (jawatan militer), bait al-mal (lembaga keuangan). Sedangkan organisasi negara Islam (daulah al-Islamiyah) seperti: an-nidzham as-siyasyi (organisasi politik), nidham al-idary (administrasi negara), an-nidham al-mali (keuangan negara), an-nidham al-harby (organisasi kemiliteran), dan an-nidham al-qadla’I (organisasi kehakiman). M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, hlm: 50

[53]  Lihat: Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 262-509

[54] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 105

[55] C. Kruzman, Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global. (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm: xv-xvi

[56] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  151