SEKILAS TENTANG BANGSA PERSIA

Posted: Desember 6, 2010 in Sosiologi Masyarakat Timur Tengah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

AGUS HIDAYATULLOH, ECEP ISHAK FARIDUDDIN, FAWAD FADLURRAHMAN, JAYA PUTRA IRAWAN, KHOMISAH, NAJIHATUL MUMTAHANAH, NURUL AMALIYAH, WAHID JUMALI, YULAECHA FITRIYAH

1. Pendahuluan

Ketika berbicara mengenai Persia, segera ingatan kita tertuju pada negara yang sekarang bernama Iran. Padahal sebenarnya yang termasuk dalam etnis ini bukan hanya negara Iran saja, walaupun memang mayoritas bangsa Persia berada di negara Iran, bangsa Persia juga menjadi minoritas di negara-negara sekitar Iran, seperti Afganistan, Tajikistan, Uzbekistan, Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat Arab, Irak dan juga beberapa negara di Timur Tengah.

Sebelum Islam datang dan menaklukkan bangsa Persia, bangsa ini telah memiliki peradabannya sendiri. Kebesaran bangsa ini bahkan dapat disamakan dengan kekaisaran Romawi pada saat itu. mereka telah menikmati eksistensi mereka sebagai bangsa yang berdiri sendiri selama berabad-abad, dan pernah mewakili sebuah kekuatan militer yang terorganisir dengan baik, juga pernah berperang dengan orang-orang Romawi selama lebih dari 400 tahun (Hitti, 2010: 198). Oleh karena itu, untuk menaklukkannya pasukan Islam harus menghadapi perlawanan yang sengit dari orang Persia.

2. Sejarah Persia

Etnis Persia adalah keturunan bangsa Arya yang hijrah dari Asia Tengah ke Iran pada milenium kedua sebelum masehi (SM).  Bangsa Arya ini kemudian terpecah menjadi dua; bangsa Persia dan bangsa Media[1]. Mereka kemudian berasimilasi dengan suku-suku setempat seperti Proto-Iran dan peradaban Elam. Dari sini, lahirlah bahasa Persia dan bahasa-bahasa Iran lain. Sumber sejarah tertulis pertama mengenai orang Persia ini ialah prasasti Assyria (834 SM). Prasasti  itu menerangkan tentang orang Parsua (Persia) dan Muddai (Media). Saat itu, orang Asyur[2] menggunakan istilah ‘Parsua’ untuk merujuk kepada suku-suku di Iran. Kemudian orang Yunani mengadaptasikan istilah ini untuk merujuk pada peradaban-peradaban dari Iran. Nama Iran mulai digunakan pada tahun 1935 saat Shah Reza Pahlavi, raja Iran meminta agar masyarakat internasional menggunakan istilah Iran. Istilah ini berarti Bumi Arya.

Kawasan Persia ini diperintah oleh beberapa kerajaan yang membentuk kekaisaran-kekaisaran yang kuat. Di antara kekaisaran-kekaisaran ini adalah kekaisaran Persia seperti Akhemenid, Parthia, Sassania, Buwaihidah, dan Samania. Sassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Persia kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arab yang kemudian diikuti dengan Turki (Tentara Seljuk), Mongol, Inggris dan Rusia. Walaupun mereka telah ditaklukkan oleh banyak negara, tetapi bangsa Persia berhasil mempertahankan kebudayaan, bahasa, dan jati diri mereka (Wikipedia).

Pada masa dinasti Safawiyah (Savavid) (1502-1736), kebudayaan Persia kembali berkembang, terutama pada masa pemerintahan Shah Abbas I. Sebagian sejarawan berpendapat bahawa negara Iran modern didirikan oleh Kesultanan Safawiyah. Banyak kebudayaan Iran pada hari ini berasal dari zaman pemerintahan Safawiyah termasuk pengenalan aliran Syiah di Iran. Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini mendirikan sebuah Republik Islam teokratis sehingga nama lengkap Iran saat ini adalah Republik Islam Iran (جمهوری اسلامی ایران).

3. Ciri-ciri Bangsa Persia

a. Watak dan Fisik

Bangsa Persia pada umumnya hidup nomaden. Mereka tinggal di kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi mencari rerumputan segar dan keadaan cuaca yang lebih baik setiap tahun. Hal inilah yang membentuk watak bangsa Persia menjadi keras, individualis, dan terkadang merampok sanak saudaranya yang lebih beradab (Kedutaan Besar Iran, tt: 46).

Namun, dalam perkembangannya, bangsa Persia mengalami kejemuan dalam menjalani kehidupan itu. Akhirnya mereka hidup menetap dan bertani. Hidup di alam bebas dengan memperhatikan kepemilikan di antara para pemukim, yeng kemudian membentuk kehidupan bangsa Pesia menjadi bangsa yang berhati ikhlas, pemurah, dan suka menjamu tamu. Di samping itu, bangsa Persia juga sangat mencintai ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan independen, tidak bergantung pada bangsa Arab yang mayoritas menempati wilayah Timur Tengah. Mata pencaharian bangsa Persia kini—di samping bertani—adalah berternak biri-biri dan kambing.

Secara fisik, mereka memiliki postur tubuh yang tegap, besar dan tinggi, berambut keriting dan hidung mancung. Warna kulit mereka merupakan perpaduan antara putih Eropa dan kuning langsat Asia.

b. Bahasa

Bahasa yang digunakan bangsa Persia adalah bahasa Persia sendiri, yang merupakan bahasa tertua di dunia, termasuk jika dibandingkan dengan bahasa Arab. Bangsa Persia kini tersebar di wilayah Iran dan sekitarnya. Karena itu, tidaklah mengherankan jikalau bahasa Persia merupakan bahasa resmi Iran, juga Afghanistan dan Tajikistan. Sementara itu, bahasa Turki, Kurdi, Arab, Lori, Gilani, Mazandarani, dan Baluchi, merupakan bahasa setempat bangsa minoritas yang mendiami wilayah Iran.

Bahasa ini terus berkembang, dan setelah Islam memasuki tanah Persia, kurang lebih 40 persen kosakata bahasa Persia telah terpengaruh oleh kosakata bahasa Arab. Selain itu unsur-unsur bahasa Yunani, bahasa Aram, bahasa Inggris dan bahasa Perancis serta sedikit Turki, juga masuk ke dalam bahasa ini. Bahasa Persia ini terkenal karena tradisi sastranya dan juga sastrawan-sastrawannya yang terkenal, di antaranya ialah Hafez, Ferdowsi, Khayyam, Attar, Saadi, Nezami, Roudaki dan juga Rumi.

Dalam bahasa Persia terdapat banyak ragam dialek dan varian yang tersebar dari Iran hingga semenanjung Khumzari di Oman, di antaranya yakni: Bahasa Dari yang dituturkan di Afganistan, termasuk Hazaragi, dan Tajik yang dituturkan di Tajikistan, tapi menggunakan Huruf Sirilik.

c. Agama

Dalam sejarah, agama awal bangsa Persia adalah agama Zoroaster, yaitu agama yang menyembah dua Tuhan dalam kehidupannya; Deva dan Ahura, sebagai menifestasi dari kekuatan yang baik dan kekuatan yang jahat.

Geiger, di dalam karyanya, Civilization of Eastern Iranians in Ancient Times, menjelaskan bahwa Zoroaster mewarisi dua prinsip fundamentalis dari leluhur suku Arya, yaitu (1) adanya hukum di dalam alam dan (2) adanya konflik di dalam alam.

Agama Zoroaster ini mempunyai dua jenis sekte, yakni Mani dan Mazdak. Sekte Mani adalah yang pertama kali mengemukakan gagasan bahwa alam semesta disebabkan oleh kegiatan setan, dan karenanya pada dasarnya alam itu adalah jahat. Adapun sekte Mazdak mengajarkan bahwa keanekaragaman hal-hal bersumber dari campuran dua prinsip yang abadi dan mandiri yang disebutnya Shid (terang) dan Tax (gelap). Ajaran sekte ini berpendapat bahwa kenyataan percampuran terang dengan gelap dan pemisahan akhir keduanya, benar-benar aksidental dan sama sekali bukanlah hasil dari memilih. Tuhan, menurut Mazdak, memiliki sensasi, dan mempunyai empat energi utama dalam kehadiran abadinya, yaitu daya untuk membedakan, mengingat, mengerti, dan bahagia.

Menurut Mazdak, semua manusia adalah sama, dan faham tentang milik perseorangan diperkenalkan oleh setan jahat, yang tujuannya adalah mengubah jagad raya Tuhan ini menjadi arena kesengsaraan tanpa akhir. Aspek ajaran Mazdak telah mengguncang kesadaran Zoroaster, dan pada akhirnya mengakibatkan kehancuran para pengikutnya, meskipun sang Tuhan telah membuat api kudus, dan bersaksi bagi kebenaran misinya. (Iqbal, 1990: 42-45).

Aktivitas keagamaan bangsa Persia di Iran saat ini didominasi oleh ajaran Islam dengan persentase 98,8%. Dari hampir seratus persen itu, mayoritasnya adalah penganut mazhab Syi’ah Imamiah. Adapun persentase agama-agama lainnya adalah sebagai berikut: Kristen 0,8%, Yahudi 0,2%, dan Zaratustra 0,1% (Kedutaan Besar Iran; 58).

4. Tempat Tinggal Bangsa Persia

Mayoritas bangsa Persia berdomisili di Iran. Selain itu, bangsa  Persia juga menjadi minoritas di beberapa negara lainnya, seperti Afganistan, Tajikistan, dan Uzbekistan, bahkan Amerika Serikat, Kuwait, Turki, Uni Emirat Arab, serta beberapa negara lainnya di Timur Tengah. Secara terperinci jumlah bangsa Persia di setiap negara adalah  sebagai berikut: Iran sebanyak 22.986.329 jiwa, Afghanistan 612.192 jiwa, Bahrain 94.460 jiwa, Australia 27.095 jiwa, Austria 11.465 jiwa, dan Azerbaijan 1.160 jiwa.[3]

5. Keistimewaan Bangsa Persia

Dalam sejarah Islam, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawiyah (1501-1736 M.) tradisi keilmuan ini terus berlanjut.[4] Ada beberapa ilmuwan yang terkenal dan begitu semangat dalam mencari ilmu pengetahuan pada masa kerajaan ini, yaitu Baha al-Din al-Syaerazi, seorang filsuf, dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad, yang selain seorang filsuf, juga ahli sejarah, teologi, dan pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah.

Bukti lain bahwa ilmu pengetahuan umum telah berkembang pada Kerajaan Safawiyah (Persia) adalah bidang seni. Kemajuan tampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada Masjid Shah yang dibangun pada tahun 1611 M. dan Masjid Syaikh Luth Allah yang dibangun pada tahun 1603 M. Unsur keistimewaan lain terlihat pula pada kerajinan tangan, keramik, karpet permadani, pakaian, hasil tenun, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Selain dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan lainnya, bidang politik dan militer juga jadi prioritas dari kelebihan Kerajaan Safawi, yang telah memberikan kontribusi besar dalam mengisi peradaban Islam.

Sejarah bangsa Iran dipenuhi oleh pasang surut. Terkadang bangsa yang dikenal dengan nama Persia ini meraih keberhasilan besar dan terkadang didera oleh berbagai kesulitan. Dengan menyimak lembaran sejarah negeri Persia, tampak bahwa kesulitan sebesar apa pun tak pernah berhasil menghancurkan peradaban bangsa ini. Para sejarawan mengatakan, setiap kali ditimpa kemalangan besar, bangsa Iran bangkit kembali dengan membangun peradaban yang baru. Tak heran jika Prof. Arthur Poop, yang dikenal sebagai pakar Iranologi menyatakan bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang mampu mempertahankan peradabannya meski ditimpa kesulitan besar. Keistimewaan seperti ini, menurut Profesor Arthur, jarang ditemukan bandingannya pada bangsa-bangsa yang lain[5].

Salah satu kelebihan bangsa Iran adalah mental besarnya untuk terus tegar dan bangkit setelah kehancuran. Setiap bangsa yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi tempat dan masa, pasti akan tersingkir dan selanjutnya hanya akan menjadi kenangan sejarah. Sebaliknya bangsa yang bisa berjalan seiring dengan situasi dan kondisi, akan terus eksis dan berjaya. Bangsa Iran adalah salah satu bangsa yang memiliki kelebihan ini. Sejarah menceritakan bagaimana bangsa Iran berhubungan dengan bangsa-bangsa lain semisal Arab, Turki, Mongol, dan lainnya serta terus eksis dalam pergaulan itu.

Sejarah mencatat bahwa gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan di dunia Islam terjadi dimulai sejak abad kedua Hijriyah, dan lantas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peradaban Islam. Gerakan itu diwarnai dengan maraknya penerjemahan buku-buku ilmiah dari berbagai bahasa asing semisal Pahlevi, Suryani, India, dan lainnya ke dalam bahasa Arab. Kurang dari seratus tahun sejak gerakan kebangkitan ilmu itu terjadi, umat Islam telah mencengangkan bangsa-bangsa lain dengan munculnya ratusan ilmuan besar muslim. Banyak yang bertanya-tanya dari mana kaum muslimin bisa mendahului bangsa-bangsa lain dalam penguasaan ilmu dan sains, dalam kurun waktu yang sangat singkat?

Mengenai pertanyaan tadi, banyak ahli yang berusaha memberikan jawaban. Menurut mereka, salah satu faktor keberhasilan ini adalah peran yang dimainkan oleh bangsa Iran. Misalnya Ibnu Khaldun, Mas’udi dan George Zeydan, tiga sejarawan kenamaan mengakui bahwa sebagian besar ilmuan dunia Islam berasal dari negeri Persia. Peran bangsa Iran dalam membangun dan mengembangkan peradaban dan kebudayaan Islam sangat besar.

Kebudayaan Arab lebih terbentuk pada budaya percakapan. Bangsa Arab tempo dulu tidak banyak memberikan perhatian pada masalah baca tulis, sehingga mereka tidak banyak mengabadikan ilmu dalam bentuk tulisan. Bangsa ini terbiasa menyampaikan ilmu-ilmu berharga mereka secara lisan. Masuknya Islam ke negeri Persia memberikan warna lain pada budaya kaum muslimin. Bangsa Iran terbiasa menulis apa-apa yang mereka ketahui dan mengembangkan setiap cabang ilmu. Sebagai bagian dari kaum muslimin bangsa Iran mempelajari bahasa Arab, dan setelah menguasainya, mereka mengembangkan bahasa ini. Moqaddasi, pakar geografi abad ke-4 menuturkan bahwa dalam perjalanannya ke berbagai negeri Islam dia menyaksikan penduduk Khurasan, kawasan timur laut Iran, yang sangat fasih berbicara dengan bahasa Arab.

Al-Kitab yang merupakan salah satu karya besar dalam bidang sharaf dan nahwu yang bahkan hingga kini menjadi salah satu buku rujukan utama para pakar bahasa Arab, ditulis oleh Sibawaih, yang ternyata berasal dari Iran. Sejak abad-abad pertama hijriyah, banyak kata-kata Persia yang masuk ke dalam bahasa Arab, dan sebaliknya, banyak ungkapan bahasa Arab yang masuk ke dalam bahasa Persia.[6]

Kelebihan bangsa Persia ini bahkan diakui oleh Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengusapkan kedua tangan beliau di kepala Salman al-Farisi, salah seorang sahabat berkebangsaan Persia, lalu beliau bersabda, Hal ini menunjukkan

لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلاَءِ.

“Jika iman ada di atas bintang Tsurayya maka kaum itu (bangsa Persia) pasti akan dapat menggapainya juga.” (HR. Bukhari)[7]

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bangsa Persia begitu tingginya sehingga hal-hal yang jauh di luar jangkauan manusia pada umumnya pun dapat digapai. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa Salman al-Farisi, sebelum menemukan Islam sebagai agama yang diyakini dan dipeganginya secara erat, telah mengembara hingga bertahun-tahun dalam mencari tuhan.[8]

6. Kelemahan Bangsa Persia

Setiap bangsa pasti memiliki keistimewaan dan keutamaan yang membuatnya bertahan dan bahkan dapat membuatnya lebih unggul dibanding bangsa-bangsa lainnya. Selain itu, setiap bangsa juga pasti memiliki kelemahan yang jika diabaikan dapat menjadi sumber kehancuran bangsa itu sendiri. Demikian pula bangsa Persia, penulis  mendapatkan beberapa kelemahan dari bangsa ini yang terkadang menjadi sebab perselisihannya dengan bangsa-bangsa lainnya, di antaranya yaitu, sifat fanatik. Bangsa Persia selalu beranggapan bahwa bangsa mereka lebih unggul dibanding bangsa Arab. apalagi sejarah menyatakan bahwa bahasa Persia merupakan bahasa tertua di dunia. Inilah yang menjadi alasan bagi mereka untuk enggan menggunakan bahasa Arab dalam keseharian mereka. Sifat fanatic ini juga lah yang membawa perseteruan panjang antara Islam Sunni dan Syiah. Bangsa Persia yang mayoritas beraliran Syiah ini terlalu fanatic terhadap apa yang diyakininya. Para penguasa yang beraliran Syiah pun menjadikan aliran Islam Syiah ini sebagai agama Negara dan bahkan memaksa para penganut aliran lain seperti Sunni untuk masuk dalam aliran ini.

Selain itu, bangsa ini juga lebih bersifat introvert atau tertutup dan tidak melihat bangsa lain seperti Arab sebagai bangsa yang maju. Pandangan ini juga lah yang menjadi salah satu alasan bangsa Persia tidak mau tunduk pada pemerintahan Arab. sejarah mencatat bahwa Penaklukan Arab atas Persia menghabiskan waktu sekitar satu decade. Pasukan Islam menerima perlawanan yang jauh lebih sengit dari pada orang-orang Suriah.

7. Penutup

Bangsa Persia saat ini, yang terwakili Iran, memang bukanlah bangsa yang terlihat unggul (baca: adikuasa) dalam percaturan dunia. Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa Persia pernah menjadi salah satu bangsa dengan peradaban tingkat tinggi sehingga menjadi bangsa yang disegani. Naik turun peradaban suatu bangsa, tidak hanya Persia, memang dipengaruhi oleh faktor kelebihan dan kelemahan yang dimiliki bangsa tersebut. Dengan mendayagunakan kelebihan yang dimilikinya, Persia pun dapat menorehkan tinta emas sejarah. Hanya saja, pada saat yang lain, kelemahannya terkadang harus membuatnya berjalan di bawah keistimewaan bangsa lain.

8. Daftar Pustaka

Brigadier, Matthew Arnold. 1951. A History of Persia. London: Oxford Publishing.

Bukhari, Shahih. Maktabah Syamilah Vol II.

Hitti, Philip K. 2010. History of The Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Karim, M. Abdul. 2009. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Website:

http://wapedia.mobil/id/bangsa-persia, diakses pada tanggal 5 Oktober 2010.

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=364&Itemid=32, diakses pada tanggal 6 Oktober 2010.


[1] Bangsa Media (Bahasa Kurdi Medya, Mêdî atau Mad, Bahasa Persia مادها, Mādḥā) adalah suku Iran purba yang tingal di kawasan Teheran, Hamedan, Azarbaijan, Provinsi Isfahan Utara, dan Zanjan. Bangsa ini juga dikenal sebagai Media atau Medea oleh orang Yunani. Pada abad ke-6 SM., bangsa Media berhasil meluaskan kekaisaran mereka dari Arran di Azerbaijan hingga ke Asia Tengah dan Afghanistan. Bangsa Media telah dinyatakan sebagai pendiri negara dan kekaisaran Iran/Persia.

[2] Asiria adalah kerajaan yang berpusat di hulu sungai Tigris, Mesopotamia, Irak. Nama kerajaan ini berasal dari ibukotanya, kota Assur (Akkadia: Aššūrāyu; Arab: أشور Aššûr; Ibrani: אַשּׁוּר Aššûr, Aram: ܐܫܘܪ Ašur). Istilah Asiria juga dapat merujuk pada region di mana kerajaan ini berpusat. Pada masa Asiria Tua (abad ke-20 hingga ke-15 SM.), Assur menguasai sebagian besar Mesopotamia Hulu dan sebagian dari Asia Kecil. Pada periode Asiria Pertengahan (abad ke-15 hingga ke-10 SM.), pengaruhnya memudar dan digapai kembali melalui berbagai penaklukan. Asiria pada zaman besi awal (911 – 612 SM.) meluas lebih jauh, dan di bawah kepemimpinan Ashurbanipal (668 – 627 SM.) selama beberapa dekade menguasai seluruh wilayah Bulan Sabit Subur hingga akhirnya kalah dengan perluasan kekuasaan Neo-Babilonia dan Media.

[3] http://wapedia.mobil/id/bangsa-persia, diakses pada tanggal 5 Oktober 2010. Data ini secara terperinci dilansir pada tahun 2005.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

[7] Shahih Bukhari, jilid XV hal. 176, Maktabah Syamilah Vol II.

[8] Shahih Bukhari, jilid XII hal. 337, Maktabah Syamilah Vol II.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s