MASYARAKAT ARAB (TINJAUAN SOSIOLOGIS)

Posted: Desember 4, 2010 in Sosiologi Masyarakat Timur Tengah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Makalah ini ditulis oleh:

ALIF CAHYA SETIADI, MANSHURUDDIN, KHODIJAH, DAN TRI YANTI NURUL HIDAYATI

A. Definisi Bangsa Arab

Istilah Arab merupakan symbol yang menunjukkan esensi dan keberadaan sebuah bangsa dengan kebesarannya pada masanya. Istilah ini telah memberikan gambaran yang jelas bahwasaanya kata Arab berasal dari bahasa yang digunakan oleh sebuah komunitas dalam sarana komunikasi mereka yaitu bahasa Arab. Dalam kamus al-munjid disebutkan bahwasannya ‘Arab atau ‘Aruba berarti orang yang menggunakan bahasa Arab dengan fasih.[1]

Di samping itu terdapat definisi lain tentang kata ‘Arab, di mana menurut bahasa, ‘Arab artinya adalah padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal.[2] Hal ini sesuai dengan pengertian kata ‘Arab sebagaimana disebutkan dalam al-munjid bahwasannya kata ‘Urbu dan ‘Arab memiliki arti sekumpulan kaum yang memiliki tempat tinggal seperti wilayah yang berada di sebelah timur dari laut merah.[3]

Menurut seorang penulis Al-Balādhurī, tulisan Arab yang pada akhirnya menunjukkan esensi istilah Arab berasal dari tulisan bahasa Syiria yang terdapat di kota Lakhmid ibu kota kerajaan Al-Hīrah. Dari kota tersebut tulisan itu dibawa Bishr Ibn ‘Abdul Malik dan mengajarkannya kepada penduduk di kota Makkah. Namun disebutkan juga dalam literature yang berbeda bahwasannya tulisan Arab yang merupakan representasi dari bahasa Arab itu sendiri berasal dari Aramik yang berasal dari Kushif Nabatea.[4] Secara sederhana, terminologi Arab hanya didefinisikan bagi mereka yang bisa berbahasa Arab sebagai bahasa ibu

Dari telaah linguistic historis ini dapat disimpulkan bahwasannya istilah ‘Arab mengandung dua pengertian utama yaitu ‘Arab sebagai konsepsi kebahasaan yang menunjukkan bahasa komunikasi sebuah masyarakat tertentu (‘Arab) yang selanjutnya dijadikan sebagai identitas kebangsaan bagi masyarakat bahasa tersebut. Dan yang kedua, ‘Arab sebagai sebuah wilayah kekuasaan bagi komunitas tertentu (‘Arab) yang memiliki kekhususan secara demografis dan topografis dan menunjukkan identitas bagi penduduk yang berdiam di wilayah tersebut.

Berangkat dari diskripsi istilah kata ‘Arab di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bangsa Arab merupakan sebuah group etnik yang memiliki bahasa komunikasi sendiri yaitu bahasa Arab dan mendiami suatu wilayah yang disebut ‘Arab sebagai tempat tinggalnya. Bangsa Arab merupakan bangsa yang mendiami wilayah semenanjung Arabia dan merupakan penduduk asli jazirah Arab.[5] Diskripsi modern menyatakan bangsa Arab ini (Arab: عرب) sebagai sebuah grup etnik yang heterogen yang berada sepanjang Timur Tengah dan Afrika Utara.[6]

Habib Hassan Touma mengungkapkan bahwa orang Arab atau bangsa ‘Arab ialah “orang yang memiliki kebangsaan Arab, yang memakai bahasa Arab, dan memiliki pengetahuan tentang Arab secara keseluruhan. Sementara itu Liga Arab pada tahun 1946 menyatakan bahwa orang Arab ialah “yang memiliki kebangsaan negara di dunia Arab, berbahasa dan menuturkan bahasa Arab dan peduli terhadap nasib bangsa Arab”.[7]

B. Sejarah Bangsa Arab

Sebelum kita mempelajari kondisi social dan budaya masyarakat Arab yang tersebar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, penting kiranya bagi kita untuk menelusuri kembali sejarah asal-usul bangsa Arab yang bertujuan mencari hubungan serta pengaruhnya terhadap kehidupan social masyarakat Arab tersebut. Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid (Kaukasia) atau Asia Barat, yang juga dikenal dengan nama “Semit” atau “Semitik”.

Dengan petunjuk silsilah Perjanjian Lama (Genesis 10), Johann Gottfried Eichorn memberikan nama “Semit” kepada keturunan Sem atau Shem, putra Nuh.[8] Shem sendiri memiliki lima putra, yaitu Arfakhsyad, Lud, Asshur, Elam dan Aram. Dari salah satu putra Shem yang bernama Arfakhsyad inilah yang kemudian garis keturunannya menjadi cikal bakal lahirnya dua suku bangsa Arab yaitu suku Qahthan dan suku Adnan, yang mana keduanya akan bertemu pada silsilah dari ‘Abir (Eber). Suku Qahthan (Qahthaniyyun) adalah berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan bin  ‘Abir bin Syalekh bin Arfakhsyad. Suku ini disebut juga suku Arab Pribumi (Al-‘Arab Al-‘Aribah). Sedangkan suku Adnan (Adnaniyyun) adalah berasal dari silsilah Ismail (bani Ismail) melalui garis keturunannya yaitu Adnan, suku ini disebut dengan suku Arab pendatang (Al-‘Arab Al-Musta’ribah).[9]

Menurut Ibnu Hisyam, semua orang Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrahim dan Qahthan. Jauh sebelum itu di kawasan Arabia pernah hidup orang-orang Arab yang lebih tua lagi, namun semuanya sudah punah. Mereka itu ialah kaum ‘Aad, kaum Tsamud (kedua-duanya disebut di dalam Al-Qur’anul-Karim), kaum Jadis, kaum kaldan dan kaum ‘Imlaq (kaum ‘Amaliqah), mereka inilah yang disebut dengan suku Arab yang punah (Al-‘Arab Al-Baidah).[10]

Kaum Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang rincian sejarah mereka tidak dapat diketahui secara sempurna, seperti kaum ’Aad, Tsamud, kaldan dan Amaliqah. Kaum ‘Aad atau ‘Ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh ‘Ad ibn Kin’ad, tinggal di daerah Al Ahqaf, daerah sebelah barat Oman dan sebelah timur Yaman, membentang dari Laut Arab sampai Pegunungan Dhofar dan pinggiran Rub` al-Khali, dalam sejarahnya, kaum ’Aad hidup pada masa Nabi Hud As. Kaum Tsamud merupakan suku Arab kuno juga yang hidup dari 2300 SM sampai 200 SM di Gunung Athlab dan di seluruh Arab Tengah. Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Shaleh As. Kuam Kaldan hidup di masa Nabi Ibrahim As. Sedangkan kaum Amaliqah hidup bersama Nabi Ismail As.

Arab ‘Aribah, yaitu kaum Qahthan, terdiri dari berbagai macam kabilah, dan yang terkenal adalah dua kabilah, yaitu Himyar dan Kahlan. Himyar (Humair) mempunyai anak keturunan yang terkenal adalah Zaid al-Jumhur, Qadla’ah dan as-Sakasih. Sedangkan Kahlan, anak keturunannya yang terkenal adalah Hamdan, Anmar, Thai’, Madzhaj, Kandah, Lakhm, Judzam, al-Azd, al-Aus, al-Khazraj, dan anak-anak Jafnah raja-raja Syam. Bangsa Arab dari Bani Qahthan telah dapat mendirikan kerajaan, di antaranya ialah Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar, semuanya di Yaman. Kaum Qahtan semula berdiam di Yaman, namun setelah hancurnya bendungan Ma’rib sekitar tahun 120 SM, mereka berimigrasi ke Utara dan mendirikan kerajaan Hirah (Manadirah) dan Gassan (Gassasinah).

Arab Musta’ribah , sebagaimana telah disebutkan di atas yaitu kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ismail, dan dinamakan Arab Adnaniyyah. Dari perkawinanya dengan anak Madladl, Isma’il dikarunia dua belas orang anak, semuanya laki-laki.” Mereka adalah Nabit (Nabajoth), Qidar (Kedar), Adba’il (Adbeel), Mabsyam (Mibsam), Masyama (Mishma), Dauma (Dumah), Maisya (Massa), Hadad, Yatma (Tema), Yathur (Jetur), Nafis (Naphis), dan Qaidama (Kedemah). Dari mereka itu terpecah menjadi dua belas kabilah, dan semuanya tinggal di Makkah. Mata pencaharian mereka adalah berdagang, dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Kemudian, kabilah-kabilah tersebut menyebar di seluruh jazirah, bahkan ada yang keluar jazirah. Nabit menurunkan bangsa Nabasia.

Sayid Sulaiman An-Nadwi, setelah mengadakan penelitian yang cermat dan detail, menetapkan bahwa raja-raja dari keluarga Ghassan dan juga Anshar yang terdiri dari al-Aus dan al-Khazraj, bukan berasal dari keluarga Qahthan, namun berasal dari keluarga Nabit bin Isma’il, dan sisa-sisa mereka yang berada di negeri tersebut. Peradaban al-Anbath, yakni anak-anak Nabith, pernah mengalami jaman keemasan, di Hijaz bagian utara. Mereka memiliki kekuasaan yang kuat dan berhasil menguasai orang-orang yang ada di sekitar wilayah tersebut, Tidak ada seorang pun yang mampu melawannya sebelum datangnya Romawi. Setelah Romawi datang mereka berhasil ditundukkan. Adapun anak-anak Qidar bin Isma’il tetap tinggal di Makkah. Disana, mereka mengembangkan keturunannya. Di antara keturunan mereka adalah Adnan dan anaknya, Ma’ad. Dari dialah keturunan Arab Adnaniyah terpilihara. Adnan adalah kakek yang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam apabila menyebutkan silsilah keturunannya dan sampai pada Adnan, beliau berhenti seraya berkata, ”Dustalah para ahli nasab, maka janganlah melapauinya.” Namun, sekolompok ulama, berpendapat bahwa melanjutkan nasab diatas Adnan boleh-boleh saja, karena mereka melemahkan hadits tersebut. Mereka mengatakan, setelah mengadakan penelitian yang cermat, bahwa antara Adnan dan Ibrahim terdapat empat puluh ayah.”

Ketika anak keturunan Adnan mulai banyak, mereka menyebar di seluruh penjuru negeri Arab, mengais rezeki di tempat-tempat yang subur. Abdul-Qais, anak keturunan Bakr bin Wail, dan anak keturunan Tamim berpindah ke Bahrain dan berdomisili disana. Banu Hanifah bin Sha’b bin Ali bin Bakr keluar menuju Yamamah, kemudian tinggal di Hajar Ibu kota Yamamah. Seluruh anak keturunan Bakr bin Wail tinggal di sepanjang wilayah Yamamah sampai ke Bahrain, Saif Kazhimah dan Al-Bahr. Taghlab tinggal di jazirah Euprat, sedangkan Bani Tamim tinggal di sahara Basharah. Bani Asad tinggal di sebelah timur Taima’ dan sebelah barat Kufah. Di antara tempat tingal Bani Asad dan Taima’ terdapat perkampungan Buhtur dari kabilah Thai; sedangkan perjalanan antara tempat tinggal Bani Tamim dan Kufah dapat ditempuh selama lim malam. Dziban tinggal di dekat Taima’ sampai ke Hauran, Anak keturunan Kinanah tinggal di Tihamah.

Sementara itu Makkah dan sekitarnya dihuni oleh Quraisy, mereka tidaklah bersatu sebelum Qushay bin Kilab lahir di tengah-tengah mereka. Qushay bin Kilab berhasil menyatakan mereka, dan mengangkat derajat mereka. Quraisy terpecah menjadi berbagai kabilah, di antaranya yang terkenal adalah Jamah, Saham, Adi, Makhzum, Taim, Zahrah, dan anak keturunan Qushay bin Kilab yaitu Abdud-Dar bin Qushay. Dari Abdu Manaf ada empat kabilah, yaitu : Abdu Syams, Naufal, al-Muthalib, dan Hasyim. Dari Hasyim terpilih pemimpin kita, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Hijaz menunjukkan wilayah yang tetap merdeka sejak dahulu karena miskin daerahnya, namun terdapat tempat suci, yakni Mekkah yang di dalamnya berdiri Ka’bah sebagai pusat beribadah sejak dahulu, di samping itu ada sumur Zamzam yang ada sejak Nabi Ismail. Di kawasan itu juga terdapat Yasrib yang merupakan daerah subur sejak dahulu.[11] Mekkah selalu ramai didatangi oleh para peziarah haji pada bulan-bulan haji. Sudah ada pengaturan kekuasaan di Mekkah sejak dahulu. Suku Amaliqah adalah yang paling berkuasa di sana sebelum lahirnya Ismail. Kemudian datang suku Jurhum ke Mekkah dan datang menggeser kedudukan Amaliqah. Ketika Jurhum berkuasa itu lahirlah Ismail lalu kawin dengan anggota suku tersebut. Cukup lama Jurhum menguasai Mekkah, yang nantinya oleh suku Khuza’ah pada tahun 207 SM. Di bawah pimpinan Qusai. Ialah yang mengatur urusan yang berkenaan dengan Ka’bah. Ia meninggal dunia tahun 480 M. dan diganti oleh kakaknya, Abdul Dar. Tetapi sepeninggal Abdul Dar terjadi perselisihan antara cucu-cucu Qusai dan anak-anak saudaranya, Abdul Manaf. Mengenai sipakah yang berhak mewarisi kekuasaan atas Mekkah.[12]

Pertentangan itu diselesaikan dengan membagi kekuasaan, yakni pengaturan air dan pajak atas Mekkah diserahkan kepada Abdus Syam, penjagaan Ka’bah diserahkan kepada cucu-cucu Abdul Dar. Sedangkan Abdus Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim. Tetapi anak Abdus Syam Umaiyah, berlaku sombong memusuhi pamannya sendiri Hasyim. Urusan-urusan itu akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, Abdul Mutalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Ia merupakan orang yang terhormat, bijaksana, dalam memegang tampuk pemerintahan atas Mekkah sehingga dapat bertahan sampai 59 tahun memerintah kota itu. Ia mempunyai banyak anak dan diantaranya anak-anaknya itu ialah Abdullah, ayah Muhammad SAW.[13]

C. Jazirah Arab: Latar Belakang Geografis

Wilayah jazirah Arabia dahulu merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang dari Barat, Sahara di Afrika hingga ke Timur melintasi Asia, Iran Tengah dan Gurun Gobi di Cina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada di sekitarnya (Laut Merah, Lautan Hindia dan Laut Arab) tidak memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu itu. Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu untuk mencari nafkah, bukan bertani dan berdagang yang tidak diyakini sebagai kehormatan bagi mereka, memang negeri itu susah untuk ditanami.

Jazirah Arab adalah sebuah jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Perbatasan pesisir jazirah ini ialah: di barat daya Laut Merah dan Teluk Aqabah; di tenggara Laut Arab; dan di timur laut Teluk Oman dan Teluk Persia. Secara gografis Arabia merupakan jazirah atau semenanjung yang memiliki leher dan mahkotanya yang biasa disebut “sabit subur”. Jazirah ini memiliki lebar 1.200 mil dengan panjang 1.500 mil.[14] Secara politik, Jazirah Arab terdiri dari negara-negara berikut ini: Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain. Secara geologi, daerah ini lebih tepat disebut Anak Benua Arab sebab memiliki plat tektonik tersendiri, Plat Arab.[15]

Secara topografis, jazirah Arab terdiri dari padang pasir dan tanah subur. Kawasan padang pasirnya lebih luas dan merupakan kawasan utamanya. Sedangkan kawasan suburnya terletak di “Sabit” sebelah Utara, Hijaz di barat, dan Yaman di Barat Daya merupakan kawasan yang lebih lebih kecil dan ujung dari jazirah. Topografi daerah gurun yang dihuni oleh komunitas yang jarang sedangkan di daerah subur penduduknya relatif padat. Daerah gunung memiliki tingkat kesuburan yang jauh berada di wilayah subur, akan tetapi wilayah ini memiliki banyak oasis yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan dan memiliki persediaan air yang memadai serta memberikan tanda terwujudnya rute komunikasi antar kawasan. Jadi kedua topografis tersebut memiliki peranan yang penting bagi kehidupan bangsa Arab baik dari segi perekonomian, komunikasi, transportasi dan lain sebagainya.[16]

Pembagian wilayah secara topografis semenanjung Arab menjadi gurun dan tanah subur telah melahirkan perbedaan kehidupan dan sejarah antar kedua bagian tersebut. Kehidupan gurun yang selalu diliputi kekerasan dan kesunyian serta kebebasan dan kesunyian telah memberikan keleluasaan untuk merenung untuk mencapai tingkat muru’ah – kejantanan, kebajikan, keberanian, kesetiaan, dan kesederhanaan. Kehidupan gurun juga ditopang oleh stepa berhujan yang mempu menghasilkan aneka ragam flora dan fauna untuk mendukung kehidupan mereka.[17] Sedangkan penduduk negeri adalah penduduk yang cara hidupnya menetap, tidak berpindah-pindah dan tidak mengembara. Mereka mendiami Jazirah Arab bagian tepi seperti Hijaz, Hirah, Yaman, dll. Penduduk negeri memiliki mata pencaharian berdagang dan bercocok tanam. Kehidupan penduduk negeri lebih teratur bila dibandingkan dengan kehidupan orang gurun. Dan mereka juga sudah mampu membangun dan mengembangkan kebudayaan, juga mereka telah mampu mendirikan kerajaan.[18]

D. Kehidupan Sosial  Masyarakat Arab

Jazirah Arab secara geografis dan demografis telah membentuk suatu kawasan dan bersambung antara yang satu dengan yang lain. Suatu kesatuan wilayah dengan masyarakatnya yang berkebudayaan dan berperadaban sehingga mampu menunjukkan eksistensinya sebagai suatu bangsa yang besar. Kebesaran bangsa Arab dengan segala kebudayaan dan peradabannya tidak lepas dari kontribusi masyarakat Arab dengan sistem sosialnya.

Sistem sosial masyarakat Arab telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dalam hal ini perkembangan sistem sosial masyarakat dapat diklarifikasikan menjadi tiga fase utama, di antaranya:

1. Masyarakat Arab sebelum Islam

Pada dasarnya masyarakat Arab berdasarkan pemukiman yang mereka huni dibagi menjadi dua kategori utama sebagaimana telah disinggung di atas yaitu: Al-Badawi dan Al-Hadlar. Kaum badawi adalah penduduk padang pasir, mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap tetapi hidup secara nomaden yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat yang lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput baru. Mata penghidupan mereka adalah beternak kambing, biri-biri, kuda dan unta. Kehidupan masyarakat nomaden tidak banyak memberikan perluang untuk membangun sebuah peradaban. Sedangkan ahl al-hadlar ialah penduduk yang sudah bertempat tinggal menetap di kota-kota atau daerah-daerah pemukiman yang subur. Mereka hidup berdagang,  bercocok tanam, dan industry dan  mereka memiliki peluang besar untuk membentuk sebuah peradaban.[19]

Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai inti dari sebuah komunitas yang lebih besar. Kabilah merupakan organisasi keluarga besar yang memiliki keterikatan hubungan berdasarkan pertalian darah (Nasab), tetapi terdapat juga hubungan yang didasarkan pada ikatan perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia. Kabilah dalam kehidupan masyarakat Arab merupakan ikatan keluarga sekaligus sebagai ikatan politik yang dipimpin oleh  seorang kepala yang disebut syaikh al-qabilah.[20]

Di samping itu, masyarakat Arab sebelum Islam memiliki sebuah solidaritas sosial yang sangat kuat. Solidaritas yang didasarkan pada ikatan kesukuan atau ashabiyah qabaliyah sebagai wadah politik setelah nasab. Solidaritas tersebut diwujudkan dalam bentuk proteksi kabilah atas seluruh anggota kabilahnya. Kesalahan anggota kabilah terhadap kabilah lain menjadi tanggung jawab kabilahnya.[21] Selain itu bentuk solidaritas ini memiliki peran sebagai upaya untuk mewujudkan suatu komunitas yang kuat yang mampu mengalahkan para penghalang dalam kehidupan mereka. Suatu bentuk solidaritas sosial untuk mewujudkan kedaulatan yang kuat. Solidaritas di sini juga bertujuan untuk mencegah adanya bahaya yang mengancam di mana ia membutuhkan seorang pemimpin yang yang bisa mencegah adanya sifat kebinatangan manusia yang berusah untuk menyakiti antar sesama. Pemimpin inilah yang akan membawa pada kedaulatan suatu solidaritas suatu masyarakat tertentu.[22]

Kekuatan solidaritas tersebut telah melahirkan kedamaian bagi masyarakatnya, sehingga perkembangan kehidupan terjaga. Rasa aman dari ancaman memberikan aspek positif bagi komunitas masyarakat tertentu untuk menjalankan roda kehidupannya masing-masing. Salah satu bukti yang nyata adalah adanya pasar tempat mereka berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli dan membacakan syair. Di antara pasar-pasar yang utama terletak di dekat Makkah dan yang terpenting adalah pasar Ukadh, Majinnah dan Dzul Majaz. Letak pasar-pasar tersebut sangatlah strategis yaitu jalur perdagangan utama Yaman-Hijaz-Syiria.[23]

Kehidupan moral bangsa Arab sebelum Islam merupakan sebuah potret kehidupan yang jauh dari cahaya. Mereka mencatat periode tersebut sebagai al-ayyam al-jahiliyah / the days of the darkness. Periode di mana mereka tidak mengetahui agama, tata cara kemasyarakatan, politik, pengetahuan tentang ke-Esaan Allah SWT sehingga penduduknya dikatakan sebagai penduduk Jahiliyah.[24] Walaupun pada dasarnya mereka memiliki agama yang mereka yakini dan juga sistem sosial politik.

2. Masyarakat Arab Setelah Islam

Pada tahun 632, bangsa Arab mendiami semenanjung Arab serta padang pasir Syiria dan sekitarnya. Namun saat berlangsungnya penaklukan, semakin bertambah banyak orang yang berbahasa Arab dan banyak pula yang sebenarnya tidak memiliki “darah Arab” tetapi menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa aslinya. Pada beberapa area di mana asimilasi antara penakluk dan masyarakat yang ditaklukkan berlangsung sangat cepat, perbedaan antara Arab dan non-Arab menjadi sangat samar pada akhir abad pertama Islam.[25]

Fenomena sosial tersebut muncul menjelang awal abad ke-7 M di mana telah terjadi suatu kombinasi pertemuan kebudayaan yang mampu mampu memberi tatanan politik baru yang mencakup seluruh jazirah Arab, seluruh tanah Sassaniyah, Provinsi-provinsi Syuriah dan Mesir milik imperium Bizantium. Suatu kebudayaan baru oleh kekuasaan baru yang dibawa oleh bangsa Arab dari Arabia Barat, sebagian besar dari Mekkah. Penguasa Arab ini menisbahkan tatanan barunya dengan wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad SAW.[26] Suatu tatanan masyarakat sebagai wadah dari pengembangan kebudayaan dengan meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam di dalamnya.

Dasar-dasar kebudayaan yang diletakkan oleh Rasulullah SAW pada umumnya merupakan sejumlah nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan, sosial, ekonomi, dan politik yang bersumber pada Al-Qur’an. Lembaga utama yang didirikan oleh Rasulullah SAW adalah masjid Quba di Yatsrib sebagai tempat beribadah dan pertemuan bagi Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan kaum muslimin. Di masjid ini pula kaum muslimin melakukan kegiatan belajar mengajar, mengadili suatu perkara, berjual beli, bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan umat dan berbagai kegiatan lainnya.[27]

Dalam kebijakan politik Rasulullah SAW telah menunjukkan dirinya sebagai seorang ahli politik dan diplomat yang bijak. Hal itu terlihat dengan adanya Piagam Madinah (Madinah Carter) sebagai bentuk kemerdekaan dan kebebasan setiap golongan dalam memeluk agamanya masing-masing. Suatu bentuk perdamaian damai dengan penduduk non-muslim dalam rangka menyelenggarakan keamanan dan membela serta mempertahankan negeri terhadap ancaman dan serangan musuh. Rasulullah SAW meletakkan sistem masyarakat Islam yang dibentuk atas dasar prinsip-prinsip al-ikha, al-musawah, al-tasamuh, al-tasyawur, al-ta’awun, dan al-‘adalah. Seluruh prinsip hidup dalam sebuah masyarakat tersebut merupakan sebuah upaya mengikis dan menghilangkan sistem sosial masyarakat Arab sebelum Islam.[28]

Piagam Madinah (Madinah Carter) sebagai landasan dasar tatanan masyarakat Islam yang dicetuskan Rasulullah SAW telah membawa kepada suatu bentuk negara Islam dengan sistem pemerintahan barunya yang berlandaskan asas-asas Islam. Negara dan pemerintahan Madinah bercorak teokrasi yang dikepalai oleh Rasullullah Muhammad SAW sebagai representasi dari kedaulatan Tuhan tanpa mengabaikan kedaulatan rakyat. hal ini dapat dilihat dengan diterapkannya sistem majelis syura yang menunjukkan ke-republikan sistem pemerintahan dan menghapus klaim monarki dalam sistem kepemimpinan Muhammad SAW. Dalam pelaksanaan administrasi negara sudah dibentuk sekretaris negara dan pembagian daerah kekuasaan menjadi sembilan bagian di mana setiap bagian dikepalai oleh gubernur (wali) dan dua puluh satu bagian yang dikepalai oleh ‘amil sebagai tax collector. Di samping itu terdapat departemen pendapatan negara, departemen kehakiman, departemen pertahanan, dan departemen keagamaan. Negara Islam yang dikepalai oleh Nabi Muhammad SAW memberikan kemerdekaan individu, kebebasan beragama, kebebasan hak sebagai warga sosial dan negara.[29]

Gambaran di atas memberikan sedikit potret sistem sosial politik masyarakat Arab pasca Islam. Di mana sistem sosial masyarakat Arab telah mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih maju dan beradab, baik perkembangan secara materi maupun moral. Pada masa Rasulullah SAW merupakan dasar terbentuknya kebudayaan dan peradaban Islam dengan mengakomodir setiap budaya local yang dinilai bermanfaat bagi kelangsungan pemerintahan Islam. Kemudian dikembangkan pada masa Khulafaur Rasyidin dan mengalami pertukaran budaya dan pemikiran Islam dengan peradaban di luar Islam pada masa Khalifah Umayah dan mencapai puncak keemasannya pada masa Abbasiyah.               Orang–orang Arab kini sekitar 40% tinggal di kota-kota besar. Hal ini, telah menyebabkan ikatan tradisional keluarga dan suku putus. Kini, para wanita dan pria memiliki pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih besar. Semua itu, juga perubahan-perubahan yang lain, menciptakan adanya “kelas menengah” baru dalam masyarakat mereka. Komunitas imigran Arab (orang Arab yang tinggal di negara-negara bukan Arab) masuk dalam ketegori “kelas menengah”. Karena para imigran Arab sangat terbuka terhadap budaya barat, sehingga budaya dan gaya hidup tradisional mereka telah mengalami banyak perubahan. Akibatnya, ikatan budaya mereka merenggang .[30]

E. Pembagian Kawasan Kebudayaan Bangsa Arab

Kawasan budaya bangsa Arab pertama kali ialah wilayah yang meliputi Jazirah Arabia. Ketika Islam datang dan menyebar ke wilayah sekitarnya, maka telah menjadi konsekuensi logis meresapnya kebudayaan Islam yang dibawa oleh orang Arab seperti Mesir, Afrika Utara, Irak dan Syiria. Oleh sebab itu wilayah kebudayaan bangsa Arab secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Kawasan budaya Arab sebelum Islam

Bangsa Arab terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh jazirah Arabia. Mereka mendiami wilayah pinggir dari Jazirah dan sedikit yang tinggal di pedalaman. Pada masa sebelum Islam, kebudayaan tanah Arab yang ditinjau dari segi geografis dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:

  1. Arab Petrix atau Petraea, yakni wilayah yang terletak di sebelah Barat Daya Gurun Syria, dengan Petra sebagai pusatnya.
  2. Arab Diserta atau Gurun Syria, yang kemudian dipakai untuk menyebut seluruh Jazirah Arab karena tanahnya tidak subur.
  3. Arab Felix, wilayah hijau (Green Land) atau wilayah yang berbahagia (Happy Land), yakni wilayah Yaman yang memiliki kebudayaan maju dengan kerajaan Saba’ dan Ma’in.[31]

Di samping itu masyarakat Arab, secara geografis juga terbagi menjadi dua kelompok yaitu Arab Utara dan Arab Selatan. Pemisahan wilayah menjadi dua kategori tersebut terlihat dari karakteristik orang-orang yang mendiami masing-masing wilayah tersebut.

a) Arab Utara

Orang-orang Arab utara kebanyakan adalah orang nomand yang tinggal di rumah-rumah bulu di Hijaz dan Nejed. Orang Arab Utara berbicara dengan bahasa Al-Qur’an yaitu bahasa Arab yang paling unggul walaupun pada dasarnya orang Arab Utara tidak pernah mengemuka dalam percaturan internasional hingga datangnya Islam. Mereka termasuk ke dalam ras Mediterania dolichocephalic (berkepala panjang).

b). Arab Selatan

Pada bagian Arab Selatan, penduduknya adalah orang-orang perkotaan yang tinggal di wilayah Yaman, Hadramaut, dan sepanjang pesisirnya. Mereka menggunakan bahasa Semit kuno, Sabaea atau Himyar yang dekat dengan bahasa Ethiopia di Afrika. Walaupun masih termasuk ke dalam ras Mediterania tetapi memiliki unsure pesisir yang cukup tegas yaitu branchycepalic (berkepala bulat) dengan rahang yang besar, hidung melengkung dan termasuk ke dalam karakteristik utama rumpun armenoid. Orang Arab Selatan datang melalui laut dari arah Timur Laut dan mereka adalah orang pertama yang mencapai kemajuan dan mengembangkan peradaban sendiri.[32] Bentuk peradaban yang nyata adalah adanya beberapa kerajaan besar seperti kerajaan Saba,  Minea, Qataban, dan Hadramaut.[33]

Anwar Rasyid dalam bukunya Kitab Tarikh membagi Tanah Arab menjadi delapan bagian utama, di mana pembagian tersebut didasarkan kepada adanya kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami daerah tersebut. Di antara pembagian wilayah tersebut adalah:

  • Tihamah, tepi pantai sebelah Barat yang terletak diantara Hijaz dan Laut Merah.
  • Hijaz, tanahnya pegunungan yang menghubungkan Yaman dengan pegunungan di Syiria. Di sana terdiri dari kota Mekah, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, kota Madinah tempat beliau SAW dimakamkan, Thaif kota yang subur dan indah serta kota Jeddah pelabuhannya.
  • Nejdi, ialah Bandar dataran tinggi yang terletak di tengah-tengah sebelah Timur Hijaz. Dataran tinggi ini penuh dengan gunung-gunung dan padang pasir yang diselingi oleh oasis-oasis yang hijau, kotanya adalah Riyadh.
  • Yaman, ialah ujung sebelah selatan, tanahnya amat subur dan makmur, sehingga mendapat gelar “Tanah Arab yang Berbahagia”. Kotanya adalah San’a, Hudaidah dan Ma’rib.
  • Hadramaut, terletak di sebelah Timur Yaman
  • Omman, yang terletak di sebelah Timur Omman.
  • Yamamah, yang terletak di sebelah Barat Bahrain.[34]

2. Kawasan Budaya Arab Pada Masa Silam

Menjelang abad ke-10 M sebuah dunia Islam telah terwujud dan disatukan oleh sebuah kebudayaan keagamaan yang tercermin dalam bahasa Arab. Dunia Islam telah berhasil mencatat suatu prestasi yang mengagumkan dalam mempertahankan negeri-negeri dan tradisi-tradisi dengan kepentingan yang berbeda-beda dalam satu imperium tunggal dalam waktu yang cukup lama. Pada masa Islam, dunia Arab terbagi menjadi tiga wilayah yang luas dan memiliki pusat-pusat kekuasaannya masing-masing. Pembagian tersebut adalah:

  1. Wilayah pertama yang mencakup Iran, wilayah yang terletak di belakang Oxus dan Irak Selatan untuk beberapa lama hingga abad ke-10. Pusat kekuasaanya berada di Bagdad yang merupakan pusat pertanian yang sangat subur dan jaringan perdagangan yang sangat luas dengan pengaruh dan prestise yang terakumulasi oleh dinasti Abbasiyah.
  2. Wilayah kedua mencakup Mesir, Suriah, dan Arabia Selatan dengan pusat kekuasaan di Mesir yang didirikan oleh dinasti Fathimiyah di tengah-tengah daerah pertanian yang subur dan jantung peradagangan yang terjalin antara Samudra Hindia dan Laut Mediterania.
  3. Wilayah ketiga mencakup Maghrib dan sebagian wilayah Spanyol yang dikuasai oleh muslim yang dikenal dengan Andalusia. Wilayah ini merupakan wilayah pertanian dan titik-titik strategis untuk mengontrol perdagangan antara Afrika dan berbagai bagian dunia Mediterania.[35]

3. Kawasan budaya Arab Modern

Kawasan budaya Arab modern menurut Peretz adalah wilayah yang meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir, dan kerajaan-kerajaan yang berada di kawasan Teluk Persia. Di samping itu kawasan budaya Arab juga terdiri dari Timur Tengah dan juga Afrika Utara. Wilayah Afrika Utara membentang dari Mesir hingga Maroko yang meliputi Sudan, Tunisia, Libya, dan Aljazair.[36] Dalam konteks ini kawasan bangsa dan budaya Arab meliputi wilayah jazirah Arab dan Afrika Utara beserta negara-negara yang berada di kawasan tersebut. Pembagian tersebut didasarkan pada pengaruh infansi bangsa Arab muslim ke sejumlah daerah di wilayah tersebut.

Pembagian bangsa Arab dan kebudayaannya pada masa modern tersebut mencakup wilayah-wilayah seperti Jazirah Arab, Bulan Sabit Subur, Teluk Parsia, dan Afrika Utara. Meliputi wilayah Saudi Arabia, Yaman, dan Irak ditambah dengan  wilayah Bulan Sabit Subur yang meliputi Mesir, Yordania, Palestina, Syiria, dan Libanon. Kawasan teluk Persia yang meliputi Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait serta wilayah Afrika Utara seperti Maroko, AlJazair, Tunisia, Libya dan Sudan.[37]

Alasdair Drysdale dan Gerald H Blake dalam bukunya menyatakan bahwasannya kawasan jazirah Arab atau yang kita kenal dengan Middle East memiliki keterkaitan dengan Afrika Utara (North Afrika) baik secara historis maupun budaya. Suatu bentuk keterikatan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Kedua wilayah tersebut disatukan dengan bahasa komunikasi yang masih dalam satu rumpun yaitu wilayah bahasa Arab. Kemudian mereka dalam satu keyakinan yaitu Agama Islam serta memiliki persamaan aspirasi politik dengan masyarakat di Jazirah Arab. Kedua wilayah juga disatukan oleh  sebuah organisasi negara-negara penghasil minyak bumi OPEC dan OAPEC selain factor geografis yang berada di wilayah Laut Mediterania. Walaupun pada dasarnya setiap negara memiliki bangsa pribumi asli sebelum bangsa Arab dan kebudayaannya melakukan asimilasi dan akulturasi dengan mereka.[38]

F. Karakteristik Bangsa Arab, Telaah Geografis

Bangsa Badui sebagai representasi kehidupan psikologis masyarakat Arab baik sebagai masyarakat nomand maupun urban. Orang Badui bukanlah bangsa gipsi yang mengembara tanpa mengetahui arah. Mereka telah mewakili bentuk adaptasi kehidupan terbaik manusia terhadap kondisi geografisnya yang dimonopoli oleh gurun. Perbedaan domisili antara perkotaan dan masyarakat gurun hanya dimotivasi oleh desakan kuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan perlindungan diri.

Orang Arab Badui merupakan gambaran nyata dari kondisi alam gurun yang penuh dengan kekerasan dan keganasannya. Sebuah karakteristik masyarakat yang dibentuk oleh keadaan geografis lingkungan tempat tinggalnya. Di antara karakteristik masyarakat Arab Badui adalah sebagai berikut:

1. Memiliki Etnosentrisme Historis Yang Kuat

Masyarakat Badui enggan untuk mengikuti pengaruh dan cara hidup asing, dan memilih untuk hidup dengan tradisi yang telah ditanamkan oleh para leluhurnya. Masyarakat ini selalu bertahan dengan tata kehidupan para pendahulunya baik dalam memilih tempat tinggal, berternak hewan, serta menganggap pertanian, perdagangan dan bahkan kerajinan akan menurunkan derajat mereka.[39]

2. Memiliki Ikatan Darah Dan Kesukuan Yang Kuat

Gurun pasir yang gersang dan keras tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga sebagai penjaga tradisi sacral mereka, pemelihara kemurnian bahasa dan darah mereka, dan benteng pertahanan yang utama dan paling utama dari serangan musuh dari luar. Kondisi yang panas, langka akan persedian air dan makanan telah menjadikan karakter bangsa Arab enggan untuk menundukkan kepala pada kendali bangsa asing.[40] Bagi orang badui tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya. Mereka yang tidak memiliki suku manapun sungguh statusnya seperti buronan tanpa perlindungan dan keselamatan.[41]

Dalam pandangan sosiologis Ibnu Khaldun bentuk ikatan klan tersebut merupakan bentuk kefanatikan kesukuan (ashabiyah) yang telah menjadi sifat antisocial yang individualism. Bentuk ciri khas klan Arab yang terus berkembang setelah kelahiran Islam dan merupakan salah satu factor penting yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran total berbagai kerajaan Islam.

3. Memiliki Nilai Kesukuan Yang Tinggi

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, mereka dikenal keras dan kejam terhadap musuhnya. Orang badui merupakan sahabat yang setia dan pemurah (dhiyafah) yang dibarengi dengan ketabahan (hamasah) dan kewibawaan laki-laki (muru’ah) yang dipandang sebagai salah satu nilai kesukuan yang tinggi. Kondisi alam yang keras dan tidak bersahabat telah menumbuhkan kepentingan  bersama untuk menjalankan satu tugas suci yaitu bersikap ramah dalam menyambut tamu.[42]

4. Bangsa Yang Demokrat

Bangsa Arab secara umum dan masyarakat Badui terlahir sebagai seorang democrat di mana ia berhadapan dengan syaikh dalam kedudukan yang setara. Gelar malik (raja) tidak pernah digunakan orang Arab kecuali ketika merujuk pada penguasa-penguasa asing khususnya warga Ghassan dan warga Kindah yang telah dipengaruhi oleh Romawi dan Persia.

5. Berwatak Aristokrat

Selain bersifat demokratis, bangsa Arab juga memiliki sifat aristocrat. Ia memandang dirinya sebagai perwujudan dari pola penciptaan unggulan. Baginya bangsa Arab adalah bangsa terbaik (afkhar al-umam). Kemurnian darah, kefasihan bahasa, keindahan puisi, kekuatan pedang dan kudanya serta kemuliaan keturunannya (nasab) merupakan kebanggaan utama bangsa Arab. Mereka menganggap geneologi mereka setara dengan ilmu pengetahuan.[43]

6. Bangsa yang Egaliter

Bangsa Arab merupakan bangsa yang menjunjung tinggi harkat martabat orang lain, mensejajarkan posisi dan status sosial dalam kehidupan masyarakat.[44]

7. Memiliki gaya bahasa kiasan yang tidak bersifat lugas dan langsung

Gaya komunikasi orang Arab berbeda dengan pembicaraan orang-orang Barat (Amerika dan Jerman) yang berbicara dengan langsung dan lugas. Dalam hal berbicara, orang-orang Arab kurang menyampaikan pesan secara langsung dan lugas. Dengan kata lain, orang Arab masih tidak berbicara apa adanya, masih kurang jelas dan kurang langsung.[45]

G. Ciri–Ciri Psikologis dan Fisik Bangsa Arab.

Di samping sifat umum masyarakat Arab yang tersebut di atas, masyarakat Arab ciri-ciri fisik maupun non fisik yang berbeda dengan kebanyakan bangsa di kawasan Asia Barat. Di antara sifat-sifat psikis bangsa Arab adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki keteguhan pendirian dan kesabaran yang telah menjadi nilai luhur yang mereka pegang sehingga mereka mampu bertahan dalam kondisi alam yang begitu keras.
  2. Kepasifan dalam menanggung beban hidup  lebih penting daripada mengubah kondisi yang ada seberat apapun beban yang akan mereka tanggung.
  3. Individualisme yang tinggi sehingga mereka tidak pernah bisa mengangkat dirinya sejajar dengan masyarakat sosial menurut standar nasional. Itulah yang menyebabkan mereka enggan untuk mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi mereka.
  4. Memiliki disiplin yang kuat sebagai bentuk penghormatan terhadap ketertiban dan otoritas.
  5. Memiliki keberanian berani sebagai bentuk adaptasi terhadap kerasnya persaingan hidup masyarakat gurun yang keras dan kejam.[46]
  6. memilik banyak isyarat non-verbal khas Arab lainnya yang berbeda makna dengan isyarat non-verbal dalam bahasa Indonesia.[47]

Dalam kaitannya dengan ciri-ciri fisik bangsa Arab, dapat dikemukakan beberapa kekhasan yang dimiliki oleh bangsa keturunan Semit tersebut. Di antara ciri-ciri fisik bangsa Arab adalah:

  1. Memiliki postur tubuh tegap, besar, tinggi.
  2. Berambut keriting.
  3. Berhidung mancung.[48]

H. Peradaban Bangsa Arab

Peradaban pada dasarnya memiliki diferensiasi makna yang lebih luas daripada sekedar fakta-fakta empiris. Tetapi ia juga mencakup pergulatan makna, nilai dan kebenaran yang akan menunjukkan ke-eksistensian manusia dalam sebuah komunitas masyarakat yang beradab. Dari sini dapat dilihat bahwasannya peradaban tidak hanya terukur oleh material yang nyata (material ekstrinsic) tetapi harus dilihat dari segi-segi nilai luhur yang terkandung di dalamnya (formal intrinsic). Artinya peradaban memiliki dua wujud yang hakiki yaitu hard culture dan soft culture.[49]

Hard culture atau peradaban materialistic yang nyata terlihat dalam bentuk tata cipta dan karya manusia yang menghasilkan berbagai bentuk kehidupan manusia yang lebih kepada tataran praktis yang berupa perkembangan teknologi, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Sedangkan soft culture lebih halus yang merupakan hasil dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat seperti halnya seni, agama, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain sebagainya. [50]

Bangsa Arab sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab mampu membuktikannya dengan hasil-hasil cipta, rasa, dan karsa mereka baik dalam bentuk nilai rasa (soft culture) yang murni hingga pada tataran materialistic (hard culture), pra Islam maupun pasca penguasaan Islam. Misalnya adalah bangunan-bangunan bersejarah pada masa Islam seperti Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Agung Damaskus, Masjid Jami’ Cordoba, Masjid Al-Atiq di Mesir (21 H) Masjid Umayah di Damaskus dan Kubah Batu di Yerussalem pada masa Umayah. Masjid Agung Samarra, Masjid Abu Al-Dulaf  dan Masjid Ibnu Thulun pada masa Abbasyiyah. Selain itu pembangunan “Istana Hijau” pada masa umayyah (704 M), Al-Qashr Al-Kabir, Al-Zahra Az Zahira, Al Hambra, Ar-Rushafa di Andalusia dan lain sebagainya.[51]

Sedangkan kebudayaan Arab yang lebih halus dapat dilihat dengan hasil-hasilnya seperti hasil hasil pemikiran dan karya rasa yang mempu memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk nyata dari kebudayaan tersebut adalah filsafat, karya sastra yang berupa puisi atapupun prosa, serta ilmu pengetahuan yang terwujud dalam bentuk kosep-konsep tatanan kehidupan sosial seperti piagam Madinah (madinah carter), pembentukan lembaga-lembaga pemerintahan (diwan) dan organisasi negara Islam (daulah al-Islamiyah) dan lain sebagainya.[52] Di samping itu kebudayaan dan peradaban Arab dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni banyak bermunculan pada masa Islam seperti ilmu-ilmu metodologis, ilmu al-Qur’an, ilmu Hadist, ilmu kalam (teologi), tashawuf (mistisisme), ilmu filsafat helenistik, seni sastra, kaligrafi, ornament, seni ruang, dan handasah as-saut atau seni suara.[53]

I. Perkembangan pemikiran bangsa Arab

Pemikiran sebagai bentuk kegiatan manusia dalam mencari hubungan sebab akibat ataupun asal mula dari sesuatu materi dan esensi serta renungan terhadap suatu wujud telah membawa manusia kepada upaya untuk berfikir. Hasil berfikir manusia tersebut menunjukkan segmentasi formal cause menjadi material cause.

Istilah pemikiran merupakan bagian dari konsep kebudayaan dan peradaban yang mengedepankan aspek ‘aqli dalam diri manusia. Pemikiran baik secara isoteris maupun eksoteris telah mempengaruhi perkembangan kebudayaan dan peradaban bangsa Arab. Pemikiran bangsa Arab pada awalnya lebih kepada upaya penalaran akal yang lebih di kenal dengan filsafat yang lebih cenderung isoteris, terutama pada masa Islam pasca kemajuan peradaban Islam masa Abbasiyah ketika terjadi sentralisasi kegiatan keilmuan pada upaya penerjemahan buku-buku Yunani dan Persia oleh bait al-hikmah. Para filosof tersebut di antaranya adalah Al-Kindi, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Bajjah dan lain sebagainya.[54]

Pemikiran secara eksoteris bangsa Arab muncul dan berkembang setelah revolusi Perancis, di mana masyarakat, pelajar, dan cendekiawan muslim mulai berkenalan dengan budaya Barat terutama budaya Perancis dan Inggris. Ragam pemikiran banyak muncul pasca revolusi Perancis. Menurut Kurzman kecenderungan pemikiran bangsa Arab terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu Islam adat (customary Islam) yang ditandai oleh kombinasi-kombinasi kebiasaan daerah dengan kebiasaan Islam, Islam Revivalis (Revivalist Islam) yang dikenal dengan Islam fundamentalisme, Islamisme atau wahabisme, dan Islam Liberal yang mengkaji masa lalu atau Islam awal untuk kepentingan modern.[55]

Para pemikir yang Islam yang termasuk dalam kelompok Islam revivalis dia antaranya adalah Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (1703- 1792). Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905) , Muhammad Rashid Rida (1865 – 1935). Para pemikir tersebut mengembangkan pemikirannya di wilayah Arab pada umumnya dan di Timur Tengah pada khususnya. Mereka merupakan para pemikir besar yang banyak mempengaruhi pemikir Islam sesudanya di seluruh dunia Islam dan mampu menggerakkan umat Islam untuk memperbaharui kehidupannya dan mengusir dominasi asing di negeri-negeri Islam.[56] Sedangkan pemikir yang termasuk dalam kelompok Islam liberal di antaranya Mohamad Arkoun (1928- 2010), Hasan Hanafi (1935-), Nashr Hamid Abu Zayd (1943- 2010), Al Jabiri (1936-2010) dan lain sebagainya.

J. Referensi

Amin, Ahmad. 1965. Fajri Al Islam. Singapura: Sulaiman Mar’i.

Arif, Syaiful. 2010. Refilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural, cetakan 1.            Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Chejne, Anwar. G.  1994. Bahasa Arab Dan Perannanya Dalam Sejarah, Terj. oleh: Aliudin Mahjudin. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Drysdale,  Alasdair dan Blake, Gerald. H. 1985. The Middle East And North Afrika, A Political Geography. New York: Oxford University Press.

Farukh, Umar. 1966. Al-‘Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Asy-Syarqi Min Al-Bahr Al-Abyad Al-Mutawassitah. Beirut: Dar Al-Kutub.

Al-faruqi, Ismail R. dan Al-Faruqi, Lois Lamya. 2000. Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, terj. Oleh: Ilyas Hasan, cetakan kedua. Bandung: Penerbit MIZAN.

Hitti, Philip K. 1960. History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, Seven Edition. London: Mcmillian & Co LTD.

Hourani,  Albert. 2004. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Oleh: Irfan Abubakar, Cetakan Pertama. Bandung: PT Mizan Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab. diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_Arab, di akses pada hari rabu 3 november 2010

http:// alfablitar. Blog.com/Masyarakat Arab-Arab-Pra-Islam-Arab-Jahiliyah. Diakses pada hari rabu, 3 november 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

http://hereuexa. Blogspot.com/2009), diakses pada Rabu 3 November 2010

Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam. cetakan kedua. Yogyakarta, Pustaka Publisher Book.

Kennedy, Hugh. 2007. The Great Arab Conquest, How The Spread Of Islam Changed The World We Live In. Cetakan Pertama. Terj. Oleh: Ratih Ramelan. Tangerang: Pustaka Alvabets.

Khaldun, Ibnu. 2000. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Terjemahan Oleh Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Kruzman, C. 2003. Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global. Jakarta: Paramadina.

Ma’luf, Lewis. 2000. Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah. Cetakan ke-38. Beirut: Dār Al-Masyriq

Maryam, Siti, dkk. 2009. Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cetakan Ke-Tiga. Yogyakarta: Penerbit LESFI.

Mufrodi, Ali. 1983.  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III. Jakarta, Pustaka Al-Husna.

Rosyid, Anwar. Tanpa tahun . Kitab tarikh. Ponorogo: Darussalam Press.


[1] Lewis Ma’luf, Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah, Cetakan ke-38, (Beirut: Dār Al-Masyriq, 2000), hlm: 495

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab. diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

[3]  Lewis Ma’luf, Al Munjīd Fi Al-Lughah Wa Al-A’lām, At-Thaba’ah Al-Jadīdah Al-Munaqqahah, (Beirut: Dār al-Masyriq, 1986) hlm: 395. Di samping itu disebutkan bahwa istilah Arab menunjukkan sekumpulan atau sekelompok masyarakat nomaden yang disebut A’rāb. Kata A’rāb berasal dari istilah bangsa Asiria terhadap bangsa-bangsa yang pernah mereka taklukkan. Apabila ditinjau lebih lanjut,  Al-Qur’an tidak memakai kata A’arāb, tapi hanya menggunakan kata sifatnya yaitu A’rabiyyūn. Al-Qur’an kemudian menjadi contoh yang sempurna bagi al-A’rabiyya, bahasa Arab. Kata benda netral A’arāb berhubungan suku Badui Quraisy yang melawan Nabi Muhammad SAW, contohnya pada surat At-Taubah, A’arābu Ašaddu kufrān wa nifāqān “Mereka (suku Quraisy) semakin kafir dan nifaq”. Berdasarkan terminologi Islam, kata A’arāb menunjukkan bahasa, dan A’arāb untuk kaum Arab Badui. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

[4] Di sisi lain, ahli  filologi Arab abad kesebelas, Ibnu Faris mengatakan bahwasannya tulisan dan istilah Arab merupakan Hadarat Ilahi. Di mana tuhan telah mengajarkan setiap huruf kepada Adam bersama dengan tanda baca vocal dan Ilmu ‘Arudh (prosodi). Lihat: Anwar. G. Chejne, Bahasa Arab Dan Perannanya Dalam Sejarah, terj. oleh: Aliudin Mahjudin, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994), hlm: 31.

[5] Ahmad Amin, Fajri Al Islam, (Singapura: Sulaiman Mar’i, 1965), hlm: 1

[6] Kata Arab sebagai identitas bangsa pertama kali muncul pada abad ke 9 sebelum masehi yang menunjukkan ke-heterogenitasnya Bangsa Arab yang tidal selalu terdiri dari orang-orang yang beragama Islam, tapi juga orang yang beragama Kristen dan Yahudi. Beberapa buktinya ialah perabadan Nabath yang didirikan oleh bangsa Arab beragama Kristen. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari Sabtu, 20 oktober 2010

[7] (http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab, 1996), diakses pada hari sabtu, 20 oktober 2010

[8] Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, terj. Oleh: Ilyas Hasan, cetakan kedua, (Bandung: Penerbit MIZAN, 2000), hlm: . 45

[11] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III, (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983), hlm:  6

[12]   Ibid, hlm:7-8

[13]   Ibid, hlm: 8

[14] Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 42

[15] http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_arab, di akses pada hari Rabu 3 november 2010

[16] Kedua wilayah topogrfis tersebut telah memberikan komoditas-komoditas ekonomi yang bermacam-macam, di antaranya: biji-bijian, sayur mayor, hutan cemara, hutan hijau tropis di timur laut untuk keperluan makan ternak, pohon kurma, gandum dan sebagainya. Wilayah tersebut juga memonopoli keberadaan hewan seperti unta sejak 2000 SM  dan juga hewan kuda sejak 1500 SM. Air oasis dan kedua hewan tersebut telah dijadikan sarana transportasi antar kawasan di daerah tersebut. Lebih lanjut lihat: Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 41-44.

[17] Ibid, hlm:  48-49

[18] http:// alfablitar. Blog.com/Masyarakat Arab-Arab-Pra-Islam-Arab-Jahiliyah. Diakses pada hari rabu, 3 november 2010

[19] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, Cetakan Ke-Tiga, (Yogyakarta: Penerbit LESFI, 2009), hlm: 18-19

[20] Umar Farukh, Al-‘Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Asy-Syarqi Min Al-Bahr Al-Abyad Al-Mutawassitah, (Beirut: Dar Al-Kutub, 1966), hlm: 19

[21] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 19

[22] Keberanian masyarakat Badui sebagai bangsa pengembara tersebut dibentuk oleh alam yang digelutinya dan mereka lebih berani daripada bangsa lain. Dikarenakan oleh keberanian mereka itulah mereka lebih mampu memiliki kekuasaan dan merampas segala sesuatu yang berada dalam gengaman bangsa lain. Tetapi keberanian mereka berkurang sesuai dengan berkurangnya sifat keliaran dan kebuasan mereka. Kemampuan mereka juga tidak lepas dari adanya solidaritas sosial di antara mereka yang bertujuan menyatukan usaha untuk suatu tujuan yang sama, mempertahankan diri, dan menolak atau mengalahkan musuh. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Terjemahan Oleh Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm: 165-166

[23]  Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 20

[24] Kebobrokan moral masyarakat Arab pada masa sebelum islam di antarnya adalah meletakkan semangat kekabilahan atau ashabiyah di atas segalanya bahkan di atas hubungan family, rendahnya martabat wanita dalam percaturan kehidupan manusia bahkan lebih rendah daripada binatang, adanya ketidakjelasan status kemurnian nasab di mana wanita boleh bersuamikan lebih dari satu  dan juga penguburan anak wanita hidup-hidup sebagai bentuk pengabdian terhadap keyakinan yang sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia. Lebih lanjut lihat M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cetakan kedua, (Yogyakarta, Pustaka Publisher Book, 2007), hlm: 49-52

[25] Hugh Kennedy, The Great Arab Conquest, How The Spread Of Islam Changed The World We Live In. Cetakan Pertama. Terj. Oleh: Ratih Ramelan. (Tangerang: Pustaka Alvabets, 2007), hlm: 8

[26] Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, terj. Oleh: Irfan Abubakar, Cetakan Pertama, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm: 60

[27] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 30

[28] Prinsip inilah yang selanjutnya dijadikan sebagai proses perubahan kebudayaan dan peradaban baru di dunia Arab yang di bawa oleh bangsa Arab dari Barat yaitu Rasulullah SAW dan pengikutnya. Sistem politik kemasyarakatan tersebut secara langsung ataupun tidak langsung telah memberikan regenerasi bahkan rekonstruksi kebudayaan dan peradaban masyarakat Arab jahiliyah. Misalnya al-ikha yang berarti persaudaraan yang hakiki. Persaudaran dalam konsep masyarakat Islam tersebut merupakan suatu bentuk persaudaraan yang didasarkan pada persamaan iman dan agama. Hal ini jelas berbeda dengan konsep persaudaraan masyarakat Arab jahiliyah yang didasarkan pada semangat kefanatikan atas suku tertentu. Dengan semangat al-ikha tersebut semangat dan loyalitas kesukuan dan kabilah diganti dengan semangat dan loyalitas Islam. Sebagaimana dalam proses persaudaraan kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah. Lebih lanjut lihat Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 31-33

[29] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cetakan kedua, (Yogyakarta, Pustaka Publisher Book, 2007), hlm: 74-75

[30] (http://hereuexa. Blogspot.com/2009), diakses pada Rabu 3 November 2010

[31] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  6

[32] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, Seven Edition. (London: Mcmillian & Co LTD, 1960), hlm: 38-39.

[33] Ibid, hlm: 61-70

[34] Anwar Rosyid, Kitab tarikh, (Ponorogo: Darussalam Press, Tanpa tahun), hlm: 1

[35] Pembagian wilayah Arab pada masa Islam tersebut tidak berlangsung pada satu periode saja, melainkan berlangsung pada tiga periode kekuasaan. Periode pertama mencakup abad ke-11 M dan ke-12 M di bawah kekuasaan dinasti Seljuk dari Turki yang disokong oleh faham Islam Sunni dengan kekuasaan yang cukup luas dari Anatolia hingga Bagdad. Periode kedua mencakup abad ke-13 M dan ke-14 M di mana kekuasaan Islam mulai mengalami kemunduran dengan adanya serangan bangsa Mongol dab Turki dari rumpun Asia dalam yang ditandai dengan hancurnya dinasti Abbasiyah pada 1258 M. Pada periode ini batas-batas wilayah Muslim telah mengalami perubahan yang signifikan diberbagai wilayah karena penguasaan bangsa atau dinasti lain. Periode selanjutnya adalah periode ketiga pada abad ke-15 M dan ke-16 M di mana dunia musli dihadapkan dengan tantangan baru dari negara-negara Eropa Barat dengan hasil-hasil industry yang menguasai produksi dan perdagangan kota-kota di Eropa terutama tekstil yang bersaing dengan dunia muslim. Lebih lanjut lihat:  Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, hlm: 193-196

[36] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  4

[37] Wilayah Iran dan Turki dalam pembahasan buku Islam di kawasan Budaya Arab tidak termasuk kawasan bangsa Arab karena mereka memiliki bangsa asli sendiri. Sedangkan bangsa Arab dan budayanya merupakan budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan asli mereka yaitu Bizantium dan Persia.

[38] Alasdair Drysdale dan Gerald H Blake, The Middle East And North Afrika, A Political Geography, (NEW YORK: Oxford University Press, 1985), hal: 11

[39] Mereka lebih memilih untuk tinggal dalam tenda bulu domba atau bulu unta yang dikenal dengan “rumah-rumah bulu” sebagaimana dilakukan oleh para leluhurnya dan menggembalakan domba atau kambing dengan cara yang sama di padang rumput yang sama. Lebih lanjut lihat Philip K. Hitti, History Of The Arabs, From The Earliest Times To The Present, hlm: 28-29

[40]  Ibid, hal: 29

[41]  Ibid, hal: 33

[42]  Ibid, hal: 31

[43]  Ibid, hal: 35

[44]  http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

[45]  http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab diakses pada hari senin 1 November 2010

[46] Sejak kanak-kanak orang Arab dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan mereka apa adanya, misalnya dengan menangis atau berteriak. Orang Arab terbiasa bersuara keras untuk mengekspresikan kekuatan dan ketulusan, apalagi kepada orang yang mereka sukai. Bagi orang Arab, suara lemah dianggap sebagai kelemahan atau tipu daya.

[47] Misalnya, sebagai pengganti kata-kata, `Tunggu sebentar!` atau `Sabar dong!` ketika dipanggil atau sedang menyeberangi jalan (sementara kendaraan datang mendekat), orang Arab akan menguncupkan semua jari-jari tangannya dengan ujung-ujungnya menghadap ke atas. Ketika bertemu dengan kawan akrab, mereka terbiasa saling merangkul seraya mencium pipi mitranya dengan bibir. Ini suatu perilaku yang dianggap nyeleneh oleh orang lain umumnya, bahkan mungkin juga oleh orang Indonesia. Orang lain yang tidak memahami budaya Arab akan menganggap perilaku tersebut sebagai perilaku homoseksual. Walhasil, jika kita bersama orang Arab, kita harus tahan berdekatan dengan mereka. Bila kita menjauh, orang Arab boleh jadi akan tersinggung karena Anda menyangka bahwa kehadiran fisiknya menjijikkan atau kita dianggap orang yang dingin dan tidak berperasaan. Begitu lazimnya orang Arab saling berdekatan dan bersentuhan sehingga senggol menyenggol itu hal biasa di mana pun di Arab Saudi yang tidak perlu mereka iringi dengan permintaan maaf

[48] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  2

[49] Syaiful Arif, Refilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural, cetakan 1, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm: 25

[50] Dalam kajian lain dikatakan bahwasannya kedua bentuk peradaban itu dikategorikan sebagai dua esensi yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi keduanya merupakan integrasi pengertian yang menunjukkan sesuatu yang integrate yang saling melengkapi. Dikatakan bahwasannya hard culture sebagai peradaban sedangakan soft culture adalah kebudayaan. sebagaimana dikatakan oleh ahli antropologi Den Haan yang menyatakan bahwa peradaban adalah semua bidang kehidupan yang mampu memberikan kegunaan praktis baik dari segi sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Sedangkan kebudayaan memiliki derajat yang lebih tinggi yang merupakan dorongan hasrat dan gairah yang tinggi dan murni yang berada di atas peradaban secara praktis dan ia menjadi dasar terwujudnya produk keras berupa teknologi sistem ekonomi dan lain sebagainya. M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, hlm: 35

[51] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 86

[52] Bentuk lembaga-lembaga pemerintahan tersebut dapat dilihat dengan adaya diwan al-kharaj (jawatan perpajakan), diwan al-addats (jawatan kepolisian), nazar an-nafi’at (jawatan pekerjaan umum), dewan junud (jawatan militer), bait al-mal (lembaga keuangan). Sedangkan organisasi negara Islam (daulah al-Islamiyah) seperti: an-nidzham as-siyasyi (organisasi politik), nidham al-idary (administrasi negara), an-nidham al-mali (keuangan negara), an-nidham al-harby (organisasi kemiliteran), dan an-nidham al-qadla’I (organisasi kehakiman). M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, hlm: 50

[53]  Lihat: Ismail R. Al-faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, hlm: 262-509

[54] Siti Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam,Dari Masa Klasik Hingga Modern, hlm: 105

[55] C. Kruzman, Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global. (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm: xv-xvi

[56] Ali Mufrodi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm:  151

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s